Edo Saputra: Rakyat Butuh Perut Kenyang, Bukan Sekadar Laporan Harta Pejabat!

Selasa, 31 Maret 2026 - 09:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Edo Saputra (PGK PALI) mengkritik keras polemik LHKPN yang dinilai mengaburkan realitas sosial. Menurutnya, ukuran sukses pejabat bukan pada rapinya laporan harta, tapi pada sejauh mana kemiskinan berkurang. Rakyat butuh kebijakan nyata, bukan sekadar transparansi di atas kertas! (Foto: Dok/Edo Saputra)

Edo Saputra (PGK PALI) mengkritik keras polemik LHKPN yang dinilai mengaburkan realitas sosial. Menurutnya, ukuran sukses pejabat bukan pada rapinya laporan harta, tapi pada sejauh mana kemiskinan berkurang. Rakyat butuh kebijakan nyata, bukan sekadar transparansi di atas kertas! (Foto: Dok/Edo Saputra)

PALI | tintamerah.co -, Di ruang-ruang diskusi publik dan deretan kolom komentar media sosial, Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) kerap menjadi “panggung penghakiman”. Angka-angka yang berderet dalam laporan tersebut dipelototi, diperdebatkan, dan dijadikan ukuran tunggal integritas. Namun, di tengah riuhnya polemik administratif itu, sebuah suara kritis muncul dari Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), mengingatkan kita pada satu hal yang jauh lebih fundamental: perut rakyat.

Edo Saputra, S.Pd, Ketua Kajian Strategis DPD Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) PALI, melempar sebuah otokritik tajam. Baginya, diskursus LHKPN saat ini mulai kehilangan substansi dan justru berisiko menjadi “tabir asap” yang menutupi luka kemiskinan di akar rumput.

BACA JUGA  Polsek Talang Ubi Menghadiri Rapat Pembentukan Panitia Pemilihan Kepala Desa Sukamaju

Antara Formalitas dan Realitas

“Pertanyaan paling mendasar yang harus kita jawab hari ini adalah: apakah rakyat sudah hidup sejahtera?” tegas Edo dalam keterangan pers kepada tintamerah.co, Senin (30/3/2026).

Edo tidak sedang menafikan pentingnya transparansi. Namun, ia melihat adanya ketimpangan prioritas. Baginya, LHKPN tanpa korelasi terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat hanyalah estetika birokrasi.

“Apa arti laporan yang terlihat tertib jika kemiskinan masih menjadi wajah keseharian rakyat? Transparansi tanpa dampak nyata hanyalah formalitas administratif,” ujarnya retoris.

Ia menyoroti sebuah kontradiksi yang menyakitkan: publik sibuk menghitung fluktuasi kekayaan pejabat, sementara di sudut-sudut desa, masyarakat masih berjibaku dengan akses pendidikan yang mencekik, layanan kesehatan yang sulit dijangkau, hingga sempitnya lapangan kerja.

BACA JUGA  Kapolres Pali Berikan Rewards Kepada Personilnya

Menggeser Kiblat Keberhasilan

Edo menantang standar penilaian publik terhadap seorang pemimpin. Menurutnya, kepatuhan administratif seperti LHKPN seharusnya menjadi standar minimum, bukan pencapaian puncak. Skor keberhasilan seorang pejabat publik tidak boleh hanya berhenti pada map laporan yang rapi di meja KPK.

“Jika pejabat memiliki kekayaan yang besar, itu bukan ukuran utama. Yang lebih penting adalah sejauh mana kekuasaan itu digunakan untuk mengurangi kemiskinan. Di situlah letak esensi kepemimpinan,” tegasnya.

Pesan ini menjadi tamparan bagi diskursus publik yang sering kali terjebak pada simbol-simbol prosedural. Edo mendesak agar energi kolektif bangsa tidak habis untuk memperdebatkan naik-turunnya harta individu, melainkan dialihkan untuk menuntut kebijakan yang mampu memastikan “dapur rakyat tetap menyala.”

BACA JUGA  Pemkab PALI Gelar Yasinan dan Doa Jum'at Barokah

Catatan Bagi Sejarah

Menutup pandangannya, Edo memberikan refleksi filosofis tentang warisan kepemimpinan. Ia mengingatkan bahwa rakyat—dan sejarah—tidak akan mengingat seorang pemimpin dari angka-angka di atas kertas laporan harta.

“Sejarah akan mencatat siapa yang benar-benar hadir untuk rakyat. Bukan yang paling lengkap laporannya, tetapi yang paling nyata kontribusinya dalam mengangkat masyarakat keluar dari kemiskinan,” pungkasnya.

Pernyataan Edo ini menjadi alarm pengingat bagi seluruh elemen bangsa: bahwa di atas segala urusan administratif, ada keadilan ekonomi yang harus ditegakkan. Transparansi memang kunci, tetapi kesejahteraan adalah tujuan akhir yang tak boleh terpinggirkan.

 

Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co

Berita Terkait

Mitigasi Bencana Nol, FPR PALI Tuntut Pertamina Bertanggung Jawab: Jangan Korbankan Rakyat Demi Nafsu Industri!
KELALAIAN BRUTAL PERTAMINA PENDOPO: Warga Talang Gas & RSA PALI Siap Gelar Aksi Akbar Jika Tuntutan Diabaikan!
Urat Nadi Warga Talang Gas Disedot Tanpa Ampun: Company Man Rig TMMJ #05 Akhirnya Temui Warga, Desak Pengajuan Surat Tertulis
Mitigasi Bencana Nol, Pertamina & TMMJ Justru Rampas Urat Nadi Warga Talang Gas, PALI: Sungai Penukal Kering Total, Publik Desak Sanksi Tegas!
Perasaan Mendalam Bupati Asgianto Ditinggal Almarhumah Ibunda Hj. Salbiah: “Berat Sekali, Rasa Mau Lepas Kepala”
Bupati Asgianto: Selagi Ibumu Masih Hidup, Sayangi!
Restui Desakan Warga PALI, Gubernur Sumsel Sepakat Cabut Pergub No. 40/2017
Solidaritas Tanpa Batas: Insan Pers Bumi Serepat Serasan Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Anak Krakatau

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 13:30 WIB

Mitigasi Bencana Nol, FPR PALI Tuntut Pertamina Bertanggung Jawab: Jangan Korbankan Rakyat Demi Nafsu Industri!

Minggu, 20 September 2026 - 12:32 WIB

KELALAIAN BRUTAL PERTAMINA PENDOPO: Warga Talang Gas & RSA PALI Siap Gelar Aksi Akbar Jika Tuntutan Diabaikan!

Minggu, 20 September 2026 - 11:59 WIB

Urat Nadi Warga Talang Gas Disedot Tanpa Ampun: Company Man Rig TMMJ #05 Akhirnya Temui Warga, Desak Pengajuan Surat Tertulis

Minggu, 20 September 2026 - 11:12 WIB

Mitigasi Bencana Nol, Pertamina & TMMJ Justru Rampas Urat Nadi Warga Talang Gas, PALI: Sungai Penukal Kering Total, Publik Desak Sanksi Tegas!

Jumat, 18 September 2026 - 12:05 WIB

Perasaan Mendalam Bupati Asgianto Ditinggal Almarhumah Ibunda Hj. Salbiah: “Berat Sekali, Rasa Mau Lepas Kepala”

Berita Terbaru