PALI | tintamerah.co -, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, kini berada di ambang persimpangan jalan. Di balik kekayaan alamnya yang melimpah, ada bara kegelisahan yang siap menyulut api konflik jika tak segera dipadamkan. Hal ini ditegaskan oleh Efran, seorang jurnalis sekaligus tokoh pemuda PALI, dalam sebuah dialog tajam di kanal YouTube DetikSumsel, Selasa (2/9/2025).
Dengan atribut perjuangan yang mencolok, Efran membawa pesan darurat: PALI sedang tidak baik-baik saja.
Anatomi Konflik: “Gajah Belago”
Efran menganalogikan situasi politik di PALI pasca-Pilkada sebagai fenomena “Gajah Belago” (Gajah Berkelahi). Pertarungan ego antara rezim lama dan rezim baru telah menciptakan kebuntuan komunikasi yang fatal.
“Kalau gajah berkelahi, yang rusak adalah semak belukar di sekitarnya. Rakyatlah yang menjadi korban,” ujar Efran dengan nada lugas .
Kritikan tajam mengenai pengadaan mobil mewah Land Cruiser oleh Bupati Asgianto di tengah instruksi efisiensi pusat dianggap Efran hanya sebagai pemantik (trigger) dari masalah yang lebih besar: terputusnya jembatan komunikasi antara pemimpin dan elemen masyarakat.
Taruhan Rp40 Triliun dan Nasib 30 Ribu Jiwa
Keresahan Efran bukan tanpa alasan. Stabilitas PALI menjadi syarat mutlak bagi masuknya investasi raksasa senilai Rp40 triliun melalui program hilirisasi batubara (DME) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Proyek ini diprediksi mampu menyerap 30.000 tenaga kerja lokal. Namun, ancaman demonstrasi besar-besaran dan citra daerah yang tidak kondusif bisa membuat pemerintah pusat berpikir ulang. “Jika investasi ini batal karena PALI rusuh terus, yang rugi adalah masa depan rakyat kami,” tegasnya.
Menanti Kehadiran Sang Pemimpin
Kritik tajam juga diarahkan pada gaya kepemimpinan saat ini. Efran menyoroti bagaimana Bupati Asgianto dinilai belum hadir langsung di tengah massa untuk meredam gejolak, sementara beban tersebut lebih banyak dipikul oleh Wakil Bupati Iwan Tuaji.
Ia mengingatkan bahwa PALI memiliki sejarah kelam ketidakamanan di masa lalu saat masih menjadi bagian dari Kabupaten Muara Enim. Transformasi PALI menjadi daerah yang aman harus dijaga, bukan dihancurkan oleh narasi-narasi tendensius di media sosial yang memprovokasi massa.
Seruan Rekonsiliasi: Jangan Jadi Penonton yang ‘Mentung’
Menjelang aksi demonstrasi besar yang dijadwalkan hari Kamis, Efran melontarkan seruan keras kepada seluruh tokoh agama, pemuda, dan adat. Ia meminta agar semua pihak tidak menjadi provokator atau “tukang mentung” (pemukul) di tengah kemelut.
“Jika tidak bisa membantu, minimal jangan mengganggu. PALI butuh ruang dialog, bukan panggung anarkis,” ucapnya penuh penekanan. Ia mendesak adanya rekonsiliasi antara gajah-gajah politik di PALI demi menyelamatkan APBD yang kini diproyeksikan naik hingga Rp2 triliun.
Kesimpulan: Damai atau Mundur?
PALI saat ini adalah daerah terkecil namun terkaya di Sumatera Selatan berkat dana bagi hasil migas. Pilihannya kini ada di tangan para elit: apakah mereka akan terus “berlaga” hingga mengorbankan kesejahteraan rakyat, atau duduk bersama demi masa depan PALI yang lebih gemilang?
Efran menutup dialog dengan satu keyakinan: PALI bisa kembali aman jika sang pemimpin mau membuka pintu komunikasi dan hati untuk rakyatnya.
Laporan: Redaksi tintamerah.co















