Gajah Beradu, Rakyat Terhimpit: Menanti Damai di Tanah PALI

Sabtu, 21 Maret 2026 - 02:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tokoh Pemuda Bumi Serepat Serasan, Efran, menggambarkan kondisi PALI pasca Pilkada 2024 dalam wawancara ekslusif di kanal YouTube DetikSumsel, Selasa (2/9/2025). (Dok/tintamerah)

Tokoh Pemuda Bumi Serepat Serasan, Efran, menggambarkan kondisi PALI pasca Pilkada 2024 dalam wawancara ekslusif di kanal YouTube DetikSumsel, Selasa (2/9/2025). (Dok/tintamerah)

PALI | tintamerah.co -, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, kini berada di ambang persimpangan jalan. Di balik kekayaan alamnya yang melimpah, ada bara kegelisahan yang siap menyulut api konflik jika tak segera dipadamkan. Hal ini ditegaskan oleh Efran, seorang jurnalis sekaligus tokoh pemuda PALI, dalam sebuah dialog tajam di kanal YouTube DetikSumsel, Selasa (2/9/2025).

Dengan atribut perjuangan yang mencolok, Efran membawa pesan darurat: PALI sedang tidak baik-baik saja.

Anatomi Konflik: “Gajah Belago”

Efran menganalogikan situasi politik di PALI pasca-Pilkada sebagai fenomena “Gajah Belago” (Gajah Berkelahi). Pertarungan ego antara rezim lama dan rezim baru telah menciptakan kebuntuan komunikasi yang fatal.

“Kalau gajah berkelahi, yang rusak adalah semak belukar di sekitarnya. Rakyatlah yang menjadi korban,” ujar Efran dengan nada lugas .

BACA JUGA  KPU PALI Lantik 25 anggota PPK untuk Pemilu 2024

Kritikan tajam mengenai pengadaan mobil mewah Land Cruiser oleh Bupati Asgianto di tengah instruksi efisiensi pusat dianggap Efran hanya sebagai pemantik (trigger) dari masalah yang lebih besar: terputusnya jembatan komunikasi antara pemimpin dan elemen masyarakat.

Taruhan Rp40 Triliun dan Nasib 30 Ribu Jiwa

Keresahan Efran bukan tanpa alasan. Stabilitas PALI menjadi syarat mutlak bagi masuknya investasi raksasa senilai Rp40 triliun melalui program hilirisasi batubara (DME) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Proyek ini diprediksi mampu menyerap 30.000 tenaga kerja lokal. Namun, ancaman demonstrasi besar-besaran dan citra daerah yang tidak kondusif bisa membuat pemerintah pusat berpikir ulang. “Jika investasi ini batal karena PALI rusuh terus, yang rugi adalah masa depan rakyat kami,” tegasnya.

BACA JUGA  Anggaran Media Online PALI 2026 Dipangkas, Diskominfostaper Kedepankan Prinsip Pemerataan

Menanti Kehadiran Sang Pemimpin

Kritik tajam juga diarahkan pada gaya kepemimpinan saat ini. Efran menyoroti bagaimana Bupati Asgianto dinilai belum hadir langsung di tengah massa untuk meredam gejolak, sementara beban tersebut lebih banyak dipikul oleh Wakil Bupati Iwan Tuaji.

Ia mengingatkan bahwa PALI memiliki sejarah kelam ketidakamanan di masa lalu saat masih menjadi bagian dari Kabupaten Muara Enim. Transformasi PALI menjadi daerah yang aman harus dijaga, bukan dihancurkan oleh narasi-narasi tendensius di media sosial yang memprovokasi massa.

Seruan Rekonsiliasi: Jangan Jadi Penonton yang ‘Mentung’

Menjelang aksi demonstrasi besar yang dijadwalkan hari Kamis, Efran melontarkan seruan keras kepada seluruh tokoh agama, pemuda, dan adat. Ia meminta agar semua pihak tidak menjadi provokator atau “tukang mentung” (pemukul) di tengah kemelut.

BACA JUGA  Truk Damkar PALI Kecelakaan Tunggal Saat Menuju Lokasi Kebakaran di Desa Sungai Ibul

“Jika tidak bisa membantu, minimal jangan mengganggu. PALI butuh ruang dialog, bukan panggung anarkis,” ucapnya penuh penekanan. Ia mendesak adanya rekonsiliasi antara gajah-gajah politik di PALI demi menyelamatkan APBD yang kini diproyeksikan naik hingga Rp2 triliun.

Kesimpulan: Damai atau Mundur?

PALI saat ini adalah daerah terkecil namun terkaya di Sumatera Selatan berkat dana bagi hasil migas. Pilihannya kini ada di tangan para elit: apakah mereka akan terus “berlaga” hingga mengorbankan kesejahteraan rakyat, atau duduk bersama demi masa depan PALI yang lebih gemilang?

Efran menutup dialog dengan satu keyakinan: PALI bisa kembali aman jika sang pemimpin mau membuka pintu komunikasi dan hati untuk rakyatnya.

 

Laporan: Redaksi tintamerah.co

 

Berita Terkait

Mitigasi Bencana Nol, FPR PALI Tuntut Pertamina Bertanggung Jawab: Jangan Korbankan Rakyat Demi Nafsu Industri!
KELALAIAN BRUTAL PERTAMINA PENDOPO: Warga Talang Gas & RSA PALI Siap Gelar Aksi Akbar Jika Tuntutan Diabaikan!
Urat Nadi Warga Talang Gas Disedot Tanpa Ampun: Company Man Rig TMMJ #05 Akhirnya Temui Warga, Desak Pengajuan Surat Tertulis
Mitigasi Bencana Nol, Pertamina & TMMJ Justru Rampas Urat Nadi Warga Talang Gas, PALI: Sungai Penukal Kering Total, Publik Desak Sanksi Tegas!
Perasaan Mendalam Bupati Asgianto Ditinggal Almarhumah Ibunda Hj. Salbiah: “Berat Sekali, Rasa Mau Lepas Kepala”
Bupati Asgianto: Selagi Ibumu Masih Hidup, Sayangi!
Restui Desakan Warga PALI, Gubernur Sumsel Sepakat Cabut Pergub No. 40/2017
Solidaritas Tanpa Batas: Insan Pers Bumi Serepat Serasan Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Anak Krakatau

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 13:30 WIB

Mitigasi Bencana Nol, FPR PALI Tuntut Pertamina Bertanggung Jawab: Jangan Korbankan Rakyat Demi Nafsu Industri!

Minggu, 20 September 2026 - 12:32 WIB

KELALAIAN BRUTAL PERTAMINA PENDOPO: Warga Talang Gas & RSA PALI Siap Gelar Aksi Akbar Jika Tuntutan Diabaikan!

Minggu, 20 September 2026 - 11:59 WIB

Urat Nadi Warga Talang Gas Disedot Tanpa Ampun: Company Man Rig TMMJ #05 Akhirnya Temui Warga, Desak Pengajuan Surat Tertulis

Minggu, 20 September 2026 - 11:12 WIB

Mitigasi Bencana Nol, Pertamina & TMMJ Justru Rampas Urat Nadi Warga Talang Gas, PALI: Sungai Penukal Kering Total, Publik Desak Sanksi Tegas!

Jumat, 18 September 2026 - 12:05 WIB

Perasaan Mendalam Bupati Asgianto Ditinggal Almarhumah Ibunda Hj. Salbiah: “Berat Sekali, Rasa Mau Lepas Kepala”

Berita Terbaru