LAHAT | tintamerah.co -, Di tengah momentum historis hari jadi yang ke-157, Kabupaten Lahat ditantang untuk tidak sekadar merayakan usia tua, melainkan membuktikan ketangguhan transformatifnya. Gubernur Sumatera Selatan, Dr. H. Herman Deru, secara tegas mengingatkan bahwa gelombang disrupsi digital dan ancaman penyusutan peran manusia tidak lagi berada di ambang pintu, melainkan telah mendisrupsi sendi-sendi ekonomi lokal.
Hadir langsung dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Lahat dalam rangka peringatan HUT ke-157 pada Rabu (20/5/2026), Gubernur Herman Deru membedah secara lugas anatomi tantangan zaman modern yang wajib ditaklukkan oleh pemerintah daerah demi mengamankan masa depan generasi penerus menyongsong Indonesia Emas 2045.
Radikalisme Teknologi: Belajar dari Matinya Warnet dan Wartel
Dalam orasi kebangsaannya, Herman Deru membius forum dengan analogi empiris mengenai kecepatan pergeseran industri. Ia mengingatkan bagaimana industri besar dan mikro di masa lalu—mulai dari Warung Telekomunikasi (Wartel), Warung Internet (Warnet), hingga konter pulsa konvensional—tumbang beruntun dalam hitungan tahun akibat hantaman ekosistem digital serba daring.
“Perubahan teknologi ini adalah peringatan keras. Jika kita tidak menyiapkan cetak biru kualitas manusia dari sekarang, maka 19 tahun lagi—saat bonus demografi memuncak di tahun 2045—anak cucu kita hanya akan menjadi penonton di tanah kaya ini. Kita wajib mendesain SDM tangguh yang melek teknologi dan adaptif!” tegas Herman Deru.
Ia memuji langkah taktis Bupati Lahat Bursah Zarnubi yang dinilainya sukses membawa arah pembangunan Lahat semakin presisi dengan fokus utama pada penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Bupati Bursah Zarnubi: Memutus Rantai Kemiskinan dari Akar Desa
Menjawab tantangan masa depan tersebut, Bupati Lahat, Bursah Zarnubi, memaparkan strategi pertahanan dan ofensif daerah yang ia nahkodai. Secara tajam, Bursah menegaskan komitmennya untuk membalik orientasi pembangunan: tidak lagi berpusat di kota, melainkan menusuk langsung ke episentrum masalah di pedesaan.
“Desa adalah basis nyata dari angka kemiskinan. Oleh sebab itu, akselerasi pembangunan infrastruktur, ekonomi, dan sosial kita letakkan fondasinya di desa agar peningkatan kesejahteraan dirasakan langsung oleh masyarakat akar rumput,” cetus Bursah tak kalah lugas.
Komitmen ini dibarengi dengan investasi masif di sektor pendidikan. Pemkab Lahat tidak hanya mereformasi kualitas kompetensi tenaga pendidik, namun juga menyediakan jaring pengaman sosial berupa beasiswa penuh bagi anak-anak keluarga prasejahtera yang berhasil menembus perguruan tinggi terkemuka nasional hingga menyandang gelar sarjana.
Terkait kebijakan efisiensi dan sentralisasi anggaran dari pusat, Bursah berharap adanya keselarasan visi agar irama pembangunan daerah tidak tersendat.
Sinergi Data Fisal dan Transparansi Komoditas Emas Hitam
Gubernur Herman Deru menambahkan, tata kelola pemerintahan moderen tidak boleh lagi mengandalkan intuisi, melainkan harus berbasis data presisi hasil sinergi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) agar eksekusi APBD tepat sasaran.
Lebih jauh, ia menyuarakan desakan krusial terkait transparansi industri batu bara di Lahat. Selaku daerah penghasil, Pemkab Lahat dinilai masih menghadapi tembok besar keterbukaan data terkait volume ekspor, Domestic Market Obligation (DMO), hingga lifting produksi. Keterbatasan akses data ini dinilai sangat berpengaruh terhadap akurasi perencanaan pendapatan daerah.
Menatap Masa Depan
Kendati dihadapkan pada dinamika fiskal dan tantangan global, optimisme besar tetap membubung di Bumi Seganti Setungguan. Dengan stabilitas politik yang kondusif, serta kekayaan topografi berupa lembah, pegunungan, dan bentangan lahan produktif, Kabupaten Lahat memiliki modalitas paripurna untuk tampil sebagai kekuatan ekonomi baru di Sumatera Selatan yang mandiri, sejahtera, dan tangguh menerjang badai zaman.
Laporan: yulie | Editor: efran















