PALI | tintamerah.co -, Aspal jalanan di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, kembali basah oleh darah. Kali ini, keganasan armada PT Musi Hutan Persada (MHP) menjadi sorotan tajam setelah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa warga setempat baru-baru ini. Wakil Ketua DPRD PALI, Firdaus Hasbullah, tidak lagi menggunakan bahasa diplomatis. Ia menghantam perusahaan dengan pernyataan keras yang menunjukkan kemarahan publik yang sudah mencapai puncaknya.
“Hentikan atau Dihubungi Paksa!”
Dengan nada bicara yang meledak-ledak dan tanpa kompromi, Firdaus Hasbullah menegaskan bahwa nyawa warga PALI tidak boleh dianggap sepele oleh korporasi mana pun yang mencari keuntungan di tanah mereka. Ia menuntut pertanggungjawaban penuh dan segera dari manajemen PT MHP atas insiden maut tersebut.
“Ini bukan sekadar kecelakaan biasa, ini menyangkut nyawa manusia! Kami tidak butuh sekadar kata maaf atau santunan yang tidak seberapa,” tegas Firdaus dengan suara lantang saat dihubungi tintamerah.co, Jumat (20/3/3036).
Ia mengisyaratkan bahwa jika perusahaan tidak segera melakukan evaluasi total terhadap sistem operasional armadanya, maka DPRD PALI akan mengambil langkah-langkah hukum dan politik yang jauh lebih ekstrem.
Armada Raksasa di Jalanan Sempit
Kritik Firdaus menyasar pada perilaku sopir dan kelayakan armada yang kerap melintas tanpa mengindahkan keselamatan pengguna jalan lain. Jalan umum yang seharusnya menjadi hak warga, kini terasa seperti medan perang yang mematikan akibat lalu lalang kendaraan berat pengangkut logistik perusahaan.
Politisi Demokrat ini menyoroti bagaimana armada-armada raksasa tersebut seringkali ugal-ugalan dan tidak memiliki standar keselamatan yang mumpuni saat bersinggungan dengan masyarakat. “Perusahaan jangan hanya tahu mengeruk hasil bumi PALI, tapi abai terhadap keselamatan orang-orang yang tinggal di sini. Jangan paksa kami bertindak lebih jauh jika kalian masih ingin beroperasi di sini,” tambahnya dengan nada mengancam.
Ultimatum untuk Manajemen
Tanggapan keras ini bukan tanpa alasan. Rentetan kecelakaan yang melibatkan kendaraan operasional perusahaan besar di wilayah PALI sudah sering terjadi, namun respon perusahaan dinilai lamban dan tidak menyentuh akar permasalahan. Firdaus Hasbullah secara eksplisit menuntut agar PT MHP tidak hanya bertanggung jawab kepada keluarga korban, tetapi juga mengubah total pola distribusi logistik mereka agar tidak lagi membahayakan nyawa warga.
“Kami akan panggil manajemennya. Kami ingin penjelasan, bukan alasan. PALI punya aturan, dan setiap perusahaan yang menginjakkan kaki di sini harus tunduk pada keselamatan warga kami,” tutup Firdaus dengan lugas.
Kini bola panas berada di tangan PT MHP. Apakah mereka akan terus membiarkan roda-roda mautnya berputar di jalanan PALI, atau mulai belajar menghargai satu nyawa manusia di atas tumpukan profit perusahaan? Yang pasti, suara dari gedung DPRD sudah memberikan sinyal merah: kesabaran warga PALI telah habis.
Tintamerah.co sudah berusaha menghubungi Kadishub PALI, manajemen PT. MHP, dan Humas pereusahaan serta Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten PALI mengenai armada angkutan kayu MHP masih melintas di jalanan pusat Kota Pendopo, Jumat (20/3/2026). Hingga berita ini diturunkan, belum ada satupun pihak yang memberikan jawaban.
Laporan: Efran















