Mengenal Nganggung Tradisi Turun Temurun dari Melayu Bangka

Minggu, 2 Juli 2023 - 02:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mengenal Nganggung Tradisi Turun Temurun dari Melayu Bangka

Bangka Selatan | Sriwijayaterkini.co.id Sebagai daerah kepulauan, Bangka Belitung kaya dengan keragaman penduduk, etnis, dan budaya. Termasuk Budaya Melayu Bangka yang sangat melekat pada daerah yang dikenal dengan nama Bumi Serumpun Sebalai ini.

Budaya Melayu Bangka sendiri merupakan salah satu nilai yang tambah bagi provinsi Bangka Belitung itu sendiri yang baru terbentuk di tahun 2000 setelah sebelumnya masuk wilayah administratif Provinsi Sumatera Selatan.

Baca Juga :Selain Pantai Kini Bangka Juga Miliki Pemandian Air Panas Nyelanding

Oleh karena itu sangat penting bagi masyarakat Bangka Belitung untuk terus melestarikan Budaya Melayu Bangka agar tidak tenggelam oleh zaman.

BACA JUGA  Polsek Rambang Dangku Berhasil Amankan 1 Orang Terduga Bandar Narkoba

Salah satu yang melekat pada tradisi adat Melayu Bangka yang saat ini masih berlangsung yaitu Nganggung.

Nganggung sendiri merupakan salah satu tradisi yang ada di masyarakat Melayu Bangka Belitung, khususnya di Pulau Bangka.

Baca Juga :Jaga Stabilitas Kesehatan Mental di Era Dunia Serba Digital

Nganggung merupakan kegiatan adat membawa makanan dari masing-masing rumah penduduk menuju ke satu tempat pertemuan besar, biasanya berupa Masjid, Surau, Langgar, atau Lapangan pada waktu-waktu tertentu di dalam Agama Islam.

Nganggung sering disebut juga Sepintu Sedulang karena setiap rumah (sepintu atau satu pintu) membawa ‘satu dulang (sedulang), yaitu wadah kuningan maupun seng yang digunakan untuk mengisi makanan dan kemudian ditutup dengan penutup dulang, yaitu Tudung Saji.

BACA JUGA  Danlanal Palembang Menyambut Kedatangan Presiden Jokowi di Lubuk Linggau

Baca Juga :9 Wanita Korban Perdagangan Orang di Palembang, 4 Diantaranya Masih Anak Anak

me-nganggung hingga kini, masih sering dilakukan di kampung – kampung atau di pedesaan dan masih tetap dipertahankan sampai sekarang, meskipun sedikit mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zamannya.

Sejauh ini, peran pemerintah Bangka Belitung dalam memajukan dan melestarikan Budaya Melayu Bangka di Indonesia pun cukup besar dengan banyaknya objek-objek budaya yang ada.

Baca Juga :Peringati Hari Lahir Pancasila dan Bung Karno, DPC PDIP Kota Palembang Menggelar Lomba Sepeda Ontel dan Sepeda Hias

Pada 2013 lalu, beberapa warisan budaya tak benda di Bangka Belitung sudah mendapat pengakuan dari Pemerintah Pusat.

BACA JUGA  SKK Migas – Medco E&P Indonesia Bersama SPN Betung Menggelar Sosialisasi Hulu Migas Kepada Calon Bintara Polri

Bahkan di tahun 2018, upaya Pemerintah Daerah baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota, telah menyusun 2060 pokok-pokok pikiran kebudayaan daerah yang terdapat rincian tradisi lisan, objek ritus, pengetahuan, tradisional teknologi, seni, termasuk permainan rakyat.

Pengakuan dari pusat tersebut menjadikan Bangka Belitung memiliki nilai Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) sebesar 54,37 persen, dan berada di atas rata-rata nasional yakni. 53,74 persen.

Baca juga : Aspers Kasdam II/Sriwijaya Pimpin Sidang Parade Taruna/Taruni Akmil TA. 2023 Tingkat Subpandasus Palembang

Dengan persentase tersebut, Bangka Belitung menempati posisi 9 dari 34 provinsi dalam urusan objek budaya Melayu.

Ditulis Oleh : Sela Puspita Mahasiswi Universitas PGRI Palembang

Berita Terkait

Di Tengah Badai Hukum Wabup, Misteri ‘Menghilangnya’ Bupati PALI Terjawab: Asgianto Tumbang Diserang ISPA di Palembang
Tak Sekadar Omon-Omon: Kadis LH PALI Sukses Gol-kan Kontrak Sumur Minyak Pertamina!
Gas Melon Langka dan Mahal, Kadisperindag PALI: Kami Tidak Punya Taji!
Menolak Senja Menjadi Ringkih: Asa Sehat Lansia Pangkul di Hari Tua
Satu Tahun Tanpa Kejelasan, 26 Finalis Bujang Gadis PALI 2025 Protes Keras: Kami Dirugikan Waktu, Biaya, dan Mental!
Makan Uang Negara dari Dua Kaki: Oknum Guru P3K di PALI Kebal Hukum, Kepsek Tutup Mata!
OPINI: May Day 2026 dan “Sinyal Darurat” Ketenagakerjaan: Akankah Buruh Hanya Menjadi Penonton Era AI?
Kontras Insting Penguasa PALI: Rp4,2 Miliar untuk Kenyamanan “Bokong” Pejabat, Sementara Guru Bergelut Lumpur di Desa Benuang

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:05 WIB

Di Tengah Badai Hukum Wabup, Misteri ‘Menghilangnya’ Bupati PALI Terjawab: Asgianto Tumbang Diserang ISPA di Palembang

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:22 WIB

Tak Sekadar Omon-Omon: Kadis LH PALI Sukses Gol-kan Kontrak Sumur Minyak Pertamina!

Senin, 15 Juni 2026 - 06:40 WIB

Gas Melon Langka dan Mahal, Kadisperindag PALI: Kami Tidak Punya Taji!

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:16 WIB

Menolak Senja Menjadi Ringkih: Asa Sehat Lansia Pangkul di Hari Tua

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:17 WIB

Satu Tahun Tanpa Kejelasan, 26 Finalis Bujang Gadis PALI 2025 Protes Keras: Kami Dirugikan Waktu, Biaya, dan Mental!

Berita Terbaru