OPINI: Pasca ‘Yang Tua Ngalah’, PALI Menatap Babak Baru Sinergi Politik

Selasa, 24 Maret 2026 - 23:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Bupati PALI, Heri Amalindo (kiri), disambut hangat oleh Bupati PALI, Asgianto (kanan), saat menyambangi Guest House Rumah Dinas Bupati, Selasa malam (24/3/2026). Langkah

Mantan Bupati PALI, Heri Amalindo (kiri), disambut hangat oleh Bupati PALI, Asgianto (kanan), saat menyambangi Guest House Rumah Dinas Bupati, Selasa malam (24/3/2026). Langkah "Yang Tua Ngalah" yang ditunjukkan Heri Amalindo dengan mendatangi juniornya ini dinilai sebagai simbol runtuhnya ego sektoral demi stabilitas politik dan keberlanjutan pembangunan di Bumi Serepat Serasan. (Dok/Firman Irpama)

tintamerahNEWS -, Pertemuan malam ini di Guest House Rumah Dinas Bupati PALI, Selasa (24/3/2026), bukan sekadar tontonan politik biasa. Jabat tangan antara Heri Amalindo dan Bupati Asgianto adalah sebuah pernyataan geopolitik lokal yang bergetar kencang, meruntuhkan sekat-sekat ego yang sering kali memenjarakan kemajuan sebuah daerah pasca-suksesi.

Judul iconik ‘Yang Tua Ngalah’ yang disematkan publik bukanlah tanda kelemahan Heri Amalindo. Sebaliknya, itu adalah demonstrasi kedewasaan politik yang langka di level akar rumput Indonesia. Namun, apa makna sebenarnya dari momen ini bagi masa depan Kabupaten PALI?

Rekonsiliasi Total: Matinya Politik Kebencian

Dampak paling instan dan paling krusial dari pertemuan ini adalah terciptanya Peta Politik yang Stabil. Selama ini, PALI—seperti banyak daerah lain—sering terjebak dalam residu rivalitas pilkada yang berkepanjangan. Pendukung “A” enggan bertegur sapa dengan pendukung “B”, dan kebijakan sering kali disorot dengan kacamata partisan.

BACA JUGA  DANREM 044/GAPO BUKA ACARA RAT KOPERASI KARTIKA GAPO.

Dengan kedatangan Heri Amalindo ke markas Asgianto, sebuah pesan tegas dikirimkan ke level akar rumput: “Perang selesai. Waktunya membangun.”

Ini adalah rekonsiliasi total. Petinggi politiknya sudah duduk melingkar, maka tidak ada lagi alasan bagi para pendukung untuk memelihara api permusuhan. Stabilitas ini adalah modal utama bagi iklim investasi dan kenyamanan sosial di PALI. Politik kebencian telah kehilangan bahan bakarnya.

Sinergi Tanpa Residu: Pembangunan Tanpa Henti

Analisis mendalam harus menyoroti poin Sinergi Pembangunan. Kelemahan transisi kekuasaan sering kali adalah mentalitas “babat alas” (menghancurkan jejak pendahulu). Di PALI, pertemuan ini menutup celah tersebut.

Heri Amalindo, sebagai peletak dasar pembangunan PALI modern, membawa ‘buku resep’ pengalaman. Asgianto, sebagai pemimpin muda yang energik, membawa mandat rakyat dan visi baru. Sinergi ini memastikan tidak ada waktu yang terbuang untuk saling curiga terhadap program masa lalu.

BACA JUGA  MPD,DPD Serta DED PKS Kota Palembang Masa Bakti 2020-2025 Resmi Dilantik

Kesinambungan adalah kuncinya.

Visi PALI yang berkelanjutan kini memiliki pondasi yang jauh lebih kokoh karena didukung oleh dua kekuatan politik utama. Ini bukan sekadar kompromi, melainkan kolaborasi strategis untuk mempercepat kemajuan daerah.

Pemerintahan yang Kokoh dan Legitimat

Secara politik-praktis, Asgianto mendapatkan keuntungan besar. Pertemuan ini memberikan legitimacy (keabsahan moral) politik yang sangat kuat. Ia tidak lagi dipandang sebagai “junior” yang sedang mencoba, melainkan pemimpin yang diakui oleh tokoh paling berpengaruh di PALI.

Ini akan memperkokoh Stabilitas Pemerintahan. Posisi politik Asgianto menjadi lebih secure (aman), meminimalkan gangguan politik dari faksi-faksi yang mungkin sebelumnya resisten. Dengan pemerintahan yang stabil, Asgianto dapat lebih fokus pada eksekusi kebijakan daripada sibuk bermanuver mengamankan kekuasaan.

BACA JUGA  Pemprov Sumsel Siapkan Dukungan Penuh Peluncuran Koperasi Merah Putih pada 21 Juli 2025

Teladan Kepemimpinan: Menang Tanpa Merendahkan

Akhirnya, PALI telah melahirkan sebuah standar baru dalam berpolitik: Teladan Kepemimpinan. Budaya politik santun yang ditunjukkan oleh Heri dan hormatnya Asgianto adalah modal sosial yang tidak ternilai harganya. Mereka menunjukkan bahwa kompetisi politik hanyalah alat, sedangkan harmoni adalah tujuan.

PALI kini bukan sekadar kabupaten yang sedang membangun infrastruktur fisiknya, tetapi juga sedang membangun infrastruktur mental politiknya. ‘Yang Tua Ngalah’ adalah kemenangan bagi kewarasan dan kematangan sebuah peradaban politik. PALI sedang menatap babak baru, babak di mana ego personal tunduk di bawah kepentingan besar kemajuan daerah. Rakyat PALI pantas optimis.

 

Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co

 

Berita Terkait

Desakan Total PALI Berhasil, Pemprov Sumsel Akhirnya Proses Pencabutan Pergub “Cacat Hukum” 40/2017
Di Tengah Badai Hukum Wabup, Misteri ‘Menghilangnya’ Bupati PALI Terjawab: Asgianto Tumbang Diserang ISPA di Palembang
Tak Sekadar Omon-Omon: Kadis LH PALI Sukses Gol-kan Kontrak Sumur Minyak Pertamina!
Gas Melon Langka dan Mahal, Kadisperindag PALI: Kami Tidak Punya Taji!
Menolak Senja Menjadi Ringkih: Asa Sehat Lansia Pangkul di Hari Tua
Satu Tahun Tanpa Kejelasan, 26 Finalis Bujang Gadis PALI 2025 Protes Keras: Kami Dirugikan Waktu, Biaya, dan Mental!
Makan Uang Negara dari Dua Kaki: Oknum Guru P3K di PALI Kebal Hukum, Kepsek Tutup Mata!
OPINI: May Day 2026 dan “Sinyal Darurat” Ketenagakerjaan: Akankah Buruh Hanya Menjadi Penonton Era AI?

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 17:02 WIB

Desakan Total PALI Berhasil, Pemprov Sumsel Akhirnya Proses Pencabutan Pergub “Cacat Hukum” 40/2017

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:05 WIB

Di Tengah Badai Hukum Wabup, Misteri ‘Menghilangnya’ Bupati PALI Terjawab: Asgianto Tumbang Diserang ISPA di Palembang

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:22 WIB

Tak Sekadar Omon-Omon: Kadis LH PALI Sukses Gol-kan Kontrak Sumur Minyak Pertamina!

Senin, 15 Juni 2026 - 06:40 WIB

Gas Melon Langka dan Mahal, Kadisperindag PALI: Kami Tidak Punya Taji!

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:16 WIB

Menolak Senja Menjadi Ringkih: Asa Sehat Lansia Pangkul di Hari Tua

Berita Terbaru