PALI | tintamerah.co -, Dinamika politik di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) kini memasuki babak baru yang penuh harapan. Setelah sempat diwarnai ketegangan pasca-Pilkada dan berbagai persoalan legalitas transisi kepemimpinan, sebuah “angin segar” kini bertiup kencang. Kabar mengenai rencana pertemuan strategis antara Bupati PALI saat ini, Asgianto, ST, dengan mantan bupati sekaligus tokoh sentral PALI, Dr. Ir. H. Heri Amalindo, MM, menjadi pembicaraan hangat di berbagai kalangan.
“Langkah Luar Biasa”: H. Ubaidillah Angkat Bicara
Merespons kabar yang kian santer tersebut, Ketua DPRD PALI, H. Ubaidillah, akhirnya buka suara. Dalam sebuah tanggapan yang terekam secara lugas, politisi senior ini menyatakan dukungan penuhnya terhadap rencana pertemuan kedua tokoh besar tersebut.
“Ini adalah langkah yang sangat luar biasa bagi masa depan PALI,” tegas Ubaidillah kepada tintamerah.co, Jumat (20/3/2026).
Bagi sang Ketua DPRD, duduknya dua pemimpin ini dalam satu meja bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan simbol kedewasaan berpolitik yang matang. Ubaidillah menekankan bahwa kepentingan rakyat Bumi Serepat Serasan harus berada di atas segala ego personal maupun perselisihan masa lalu.
Menembus Kebuntuan Politik
Pertemuan ini dianggap sangat krusial mengingat sejarah transisi kepemimpinan yang sempat “panas”. Publik masih ingat bagaimana prosesi serah terima jabatan (sertijab) sempat terkendala oleh absennya Heri Amalindo karena persoalan legalitas SK pemberhentian, yang kemudian berlanjut pada gugatan di PTUN.
Namun, dengan keterlibatan aktif tokoh seperti H. Ubaidillah yang mendorong rekonsiliasi, harapan untuk melihat PALI yang lebih harmonis kian nyata. “Kita tidak boleh tersandera oleh masa lalu. PALI butuh sinergi antara pengalaman senior dan semangat pemimpin muda,” tambah Ubaidillah dalam nada yang menggugah.
Menanti Dampak Nyata bagi Masyarakat
Bagi masyarakat PALI, pernyataan H. Ubaidillah yang memberikan restu politik ini menjadi jaminan bahwa roda pemerintahan akan berjalan lebih stabil. Rekonsiliasi antara Asgianto dan Heri Amalindo bukan hanya soal perdamaian elite, melainkan soal keberlanjutan pembangunan yang tidak lagi terhambat oleh riak-riak politik.
Jika Asgianto membawa energi baru dan visi masa depan, Heri Amalindo adalah pemegang “kunci” sejarah dan fondasi pembangunan PALI. Penyatuan dua kekuatan ini, menurut Ubaidillah, akan menjadi modal sosial yang tak ternilai harganya.
Kesimpulan: Fajar Baru Kepemimpinan
Kini, publik tinggal menanti detik-detik pertemuan itu terjadi. Dengan dukungan moral dari Gedung Wakil Rakyat melalui suara H. Ubaidillah, pintu rekonsiliasi telah terbuka lebar. Bumi Serepat Serasan siap menyongsong fajar baru—sebuah era di mana persatuan menjadi mesin utama penggerak kemajuan daerah.
Laporan: Efran















