PALI | tintamerah.co -, Bau busuk dugaan kelalaian sistem keselamatan kerja kembali mencuat di bumi serapat serasan. Kasus kecelakaan kerja maut yang merenggut nyawa seorang pemuda asal Desa Panta Dewa, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, memantik kemarahan terbuka dari pucuk pimpinan legislatif daerah.
Aditya Wiranata (25), korban luka bakar akibat insiden mengerikan di pabrik kelapa sawit PT Golden Blossom Sumatera (GBS), akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di RS Charitas Palembang pada Jumat, 7 Agustus 2026. Ia mengakhiri perjuangan kritisnya di ruang ICU setelah sebelumnya menjadi korban ledakan uap panas (steam) pabrik yang meremukkan keselamatan jiwanya.
Tak butuh waktu lama bagi Ketua DPRD PALI, H. Ubaidillah, untuk bersuara lantang. Saat dihubungi secara eksklusif oleh tintamerah.co pada Jumat (7/8/2026), Ubaidillah meluapkan kemarahannya dan melayangkan ultimatum keras tanpa kompromi kepada korporasi raksasa sawit tersebut.
Ultimatum Keras Ketua DPRD PALI: “Jangan Main-Main dengan Nyawa Manusia!”
Dengan nada tegas dan lugas, H. Ubaidillah mendesak agar manajemen PT GBS tidak lari dari tanggung jawab moral maupun material atas hilangnya nyawa pekerja lokal akibat sistem kerja yang diduga abai terhadap standar operasional prosedur (SOP).
“Jadi aku minta kepada PT GBS bertanggung jawab atas kejadian insiden ini. Satu, bertanggung jawab atas yang meninggal, dan bertanggung jawab atas biaya-biaya yang nunggu yang sakit,” tegas Ubaidillah dengan nada berapi-api.
Politisi kawakan ini tidak sekadar menuntut ganti rugi, melainkan membongkar akar masalah yang kerap diabaikan oleh perusahaan perkebunan di daerah: Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang amburadul. Ubaidillah menduga keras bahwa musibah ini murni akibat keteledoran manajemen yang mengabaikan aspek keselamatan mutlak bagi para pekerjanya.
“Jangan-jangan ini disebabkan oleh kelalaian atau tidak sesuai dengan SOP? Yang kita khawatirkan, takutnya diduga mereka tidak safety. Mereka tuh intinya, tentang keselamatan K3 itu tidak taat, intinya itu!” sambungnya dengan nada geram.
Tak hanya menyoroti manajemen PT GBS, Ubaidillah juga menyeret instansi pemerintah terkait untuk tidak tutup mata dan segera turun tangan melakukan investigasi mendalam terhadap kelayakan operasional pabrik tersebut.
“Nah, itu, maksud aku, dinas mana tolong dicek K3-nya, betul. K3 lah bahasanya,” pungkas Ubaidillah mendesak Dinas Tenaga Kerja dan instansi berwenang agar segera melakukan audit total terhadap sistem K3 di PT GBS.
Rekam Jejak Tragedi: Dari Ledakan Steam hingga Runtuhnya Nyawa di ICU
Berdasarkan penelusuran dari laporan eksklusif sebelumnya oleh tintamerah.co, tragedi maut ini bermula dari insiden mengerikan di dalam pabrik sawit PT GBS (Tragedi di Pabrik Sawit PT GBS: Karyawan Kritis Akibat Ledakan Steam, Nyawa Terancam di Ruang ICU).
Dalam insiden tersebut, ketel uap (steam) maut meledak dahsyat dan menghantam tubuh pekerja tanpa perlindungan memadai. Aditya Wiranata mengalami luka bakar parah dan kritis di ruang ICU dengan kondisi tubuh yang mengenaskan akibat hantaman uap bertekanan tinggi.
Meski tim medis di RS Charitas Palembang telah berjuang maksimal memberikan perawatan intensif, takdir berkata lain (Tragedi Maut PT Golden Blossom Sumatera: Korban Ledakan Steam Akhirnya Menghembuskan Napas Terakhir). Nyawa Aditya tidak tertolong. Ia berpulang, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan di Desa Panta Dewa, sekaligus meninggalkan lembaran hitam catatan pelanggaran keselamatan kerja di tubuh PT GBS.
Publik kini menagih janji ketegasan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Apakah suara keras Ketua DPRD PALI ini akan menjadi momentum penegakan hukum yang adil, atau sekadar angin lalu di hadapan korporasi bermodal besar? Warga PALI mengawal ketat pertanggungjawaban mutlak PT GBS!
Manajemen PT GBS Bungkam, Bola Panas Saling Lempar
Di balik tragedi yang menghancurkan masa depan Aditya, manajemen PT GBS justru menunjukkan gelagat yang mencurigakan dan terkesan menutup diri. Saat dikonfirmasi, Humas PT GBS, Edwar, memang membenarkan insiden tersebut. Namun, alih-alih memberikan penjelasan komprehensif mengenai kronologi dan langkah pertanggungjawaban perusahaan, ia justru melemparkan tanggung jawab kepada pihak lain dengan mengarahkan media untuk menghubungi perwakilan PT GBS lainnya, Wely Sudarsono.
Hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi berulang kali kepada Wely Sudarsono melalui panggilan telepon maupun pesan singkat tidak membuahkan hasil. Sikap bungkam manajemen PT GBS ini memicu spekulasi liar di tengah masyarakat: apakah ada upaya sistematis untuk menutupi kelalaian fatal ini?
Desakan Investigasi dan Audit K3 Total
Tragedi Aditya Wiranata adalah tamparan keras bagi industri kelapa sawit di wilayah tersebut. Apakah nyawa pekerja hanya dipandang sebagai angka dalam statistik operasional? Publik kini menuntut transparansi total dari PT GBS. Pihak berwenang, terutama Dinas Tenaga Kerja dan pihak kepolisian, didesak untuk segera melakukan investigasi mendalam, melakukan audit K3 secara ketat, dan menindak tegas jika terbukti terdapat unsur kelalaian yang menyebabkan hilangnya keselamatan pekerja.
Jika perusahaan gagal menjamin nyawa pekerjanya, apakah pantas perusahaan tersebut tetap beroperasi? Aditya saat ini sedang berjuang, dan masyarakat menunggu keadilan ditegakkan sebelum korban-korban berikutnya jatuh.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















