SKANDAL TERBONGKAR! Ketua Poktan Tempirai Bersatu Akui Jual Pupuk Bantuan Cetak Sawah: “Saya Salah, Saya Teledor!”

Jumat, 17 April 2026 - 23:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

"Kondisi terkini gudang penyimpanan pupuk milik Kelompok Tani Tempirai Bersatu, di mana terlihat stok pupuk dalam karung putih tinggal sedikit, mengonfirmasi kabar hampir habisnya persediaan untuk petani." (Foto: Dok/tintamerah)

PALI | tintamerah.co -, Tabir gelap yang menyelimuti raibnya bantuan sarana produksi (Saprodi) pada proyek cetak sawah di Desa Tempirai, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), akhirnya tersingkap. Dalam wawancara eksklusif di kantor redaksi tintamerah.co, Selasa (31/3/2026), Ketua Kelompok Tani Tempirai Bersatu, Penting Haryanto, secara mengejutkan mengakui telah menjual pupuk bantuan pemerintah yang seharusnya diperuntukkan bagi kesejahteraan petani.

Pengakuan ini bak “bom waktu” yang meledak di tengah penyelidikan skandal penyelewengan bantuan cetak sawah yang sedang hangat diperbincangkan.

“Aku Ngaku Salah, Aku Teledor”

Dengan nada bicara yang semula penuh keraguan namun akhirnya terbuka, Penting Haryanto tidak bisa lagi mengelak dari fakta-fakta yang ditemukan di lapangan. Ia mengonfirmasi bahwa sebagian stok pupuk bantuan telah “dimakan” atau dijual.

“Aku jelas lah, aku ngaku salah kan. Keteledoran aku dalam itu… Memang aku akui, warga kan kadang meminta satu, dua… Barangnya dimana, siapa yang belinya, aku jelas,” ungkap Penting dengan nada pasrah.

Mirisnya, Penting mengakui bahwa hasil penjualan gelap pupuk tersebut dibagi-bagi kepada beberapa oknum. Ia menyebut nama-nama seperti berinisial A dan N, bahkan menyeret nama menantunya sendiri dalam pusaran aliran dana haram tersebut.

“Duitnya sudah sampai 3 juta. Berbagi siapa? Itulah, ambil N, ambil A. Samping itu, aku ada mantu juga yang membantu angkut pupuk,” tambahnya.

Fakta Mengejutkan: 90 Persen Stok Lenyap Bukan Isapan Jempol

Pengakuan ini sinkron dengan laporan tintamerah.co sebelumnya mengenai lenyapnya 90 persen stok pupuk di malam buta. Dalam wawancara ini, terungkap jumlah bantuan yang fantastis namun pengelolaannya amburadul:

  • Dolomit: 200 ton lebih.
  • Urea: Sekitar 30-40 ton.
  • NPK: Jumlah besar yang tersimpan di berbagai gudang.
  • Benih Padi: 5 ton.
  • Racun Hama: 22 botol untuk tahap awal.
BACA JUGA  Team Srigala Unit Reskrim Polsek Penukal Abab Berhasil Mengungkap Kasus Dugaan Tindak Pidana Pencurian dengan Pemberatan

Anehnya, meski bantuan alat mesin pertanian (Alsintan) seperti traktor roda dua, combine harvester, dan jonder (traktor) sudah diterima, fasilitas canggih berupa Drone belum bisa digunakan karena alasan klasik: “Belum ada pelatihan pilot.”

Gudang Kades Muhammad Jonot Jadi Saksi Bisu

Penting kembali menegaskan bahwa pendistribusian barang-barang ini tidak transparan. Sebagian besar bantuan justru dititipkan di lokasi yang bukan gudang resmi Gapoktan, melainkan di gudang milik Kepala Desa Tempirai, Muhammad Jonot.

Hal ini semakin memperkuat dugaan adanya konspirasi sistematis di tingkat desa. Meskipun Penting sempat merasa dijadikan “tumbal” dalam skandal ini (sebagaimana laporan sebelumnya), pengakuan penjualannya hari ini membuktikan bahwa ia adalah bagian dari rantai perusakan program ketahanan pangan nasional di PALI.

Alasan Klasik: Lahan Belum Bisa Ditanam

Saat ditanya mengapa pupuk tersebut justru “diuangkan” daripada disalurkan, Penting berdalih bahwa lahan cetak sawah seluas 248 hektar tersebut belum siap tanam. Ia menyalahkan pihak kontraktor yang belum menuntaskan pengolahan lahan.

“Lahan itu kami belum bisa tanam. Kenapa? Itu masih tanggung jawab kontraktor. Olah lahan belum dikucurkan dananya. Kami harus memanfaatkan lahan itu, ” kelitnya.

Transparansi Mati Suri

Sikap tertutup Gapoktan dan Pemerintah Desa juga terendus dari tidak dipasangnya daftar penerima manfaat (RDPU) di desa, meski hal tersebut adalah instruksi dari Dinas Pertanian. Penting beralasan adanya potensi “kecemburuan sosial” karena lahan yang digarap merupakan tanah ulayat yang diklaim secara pribadi oleh oknum-oknum tertentu.

BACA JUGA  Polsek Penukal Abab Hadiri Kegiatan Rapat Koordinasi Loka Karya Mini LS

Penegak Hukum Harus Bertindak

Skandal ini bukan lagi sekadar keteledoran administratif, melainkan dugaan tindak pidana korupsi dan penggelapan aset negara. Pengakuan Penting Haryanto di kantor redaksi tintamerah.co seharusnya menjadi pintu masuk bagi aparat penegak hukum (APH) untuk menyeret semua pihak yang terlibat, termasuk oknum perangkat desa yang disebut-sebut ikut menikmati “uang panas” pupuk subsidi tersebut.

Rakyat Tempirai menunggu keadilan. Akankah pengakuan ini berujung pada jeruji besi, atau hilang ditelan kongkalikong? tintamerah.co akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas.

Berdasarkan data resmi dari Dinas Pertanian Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) melalui surat Nomor 521/191/DIPERTA-II/2025 tertanggal 27 Januari 2026 yang diperoleh redaksi tintamerah.co, berikut adalah rincian bantuan yang telah diterima oleh Brigade Pangan Tempirai Bersatu dengan Ketua Penting Haryanto untuk kegiatan Padi CSR dan OPLAH Tahun 2025:

Status Bantuan Brigade Pangan Tempirai Bersatu (Ketua: Penting Haryanto)

  • Luas Lahan: 248 Hektar.
  • Jumlah Anggota: 50 Orang.
  • Usulan Luas Lahan Pengajuan Benih: 96 Hektar.

Rincian Penerimaan Saprodi dan Alsintan

Berdasarkan lampiran monitoring evaluasi dan kelengkapan administrasi, status bantuan untuk kelompok ini adalah sebagai berikut:

  • Benih Padi: Berstatus “Sudah Salur”.
  • Dolomit: Administrasi (Proposal) dinyatakan “Lengkap” dan status bantuan “Sudah Salur”.
  • Pupuk (NPK dan Urea): Administrasi (Proposal) dinyatakan “Lengkap” dan status bantuan “Sudah Salur”.
  • Alsintan (Alat Mesin Pertanian): Status dinyatakan “Sudah Diterima”.
BACA JUGA  DPW ILDI PALI Resmi Dilantik Oleh Ketua DPD ILDI Sumsel

Surat ini menegaskan bahwa secara administratif, seluruh bantuan baik berupa benih, pupuk (Dolomit, NPK, Urea), maupun alat mesin pertanian untuk Brigade Pangan yang dipimpin oleh Penting Haryanto di Desa Tempirai telah disalurkan dan diterima. Dokumen ini ditandatangani secara resmi oleh Kepala Dinas Pertanian PALI, Ahmad Jhoni, SP., MM.

Dinas Pertanian PALI Bungkam Seribu Bahasa

Di sisi lain, upaya transparansi publik yang diusung media ini justru membentur tembok tebal di tingkat birokrasi. Hingga berita ini ditayangkan, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten PALI, Ahmad Jhoni, masih memilih bungkam seribu bahasa terkait skandal yang mencoreng program cetak sawah rakyat tersebut.

Redaksi tintamerah.co sejatinya telah melayangkan surat permohonan wawancara resmi kepada Ahmad Jhoni sejak Rabu (18/3/2026). Surat tersebut dimaksudkan untuk meminta klarifikasi mengenai raibnya 90 persen stok pupuk yang diduga diselewengkan di malam buta, serta lemahnya pengawasan dinas terhadap aset negara yang kini diakui telah dijual oleh oknum Poktan.

Namun, alih-alih memberikan penjelasan atau langkah tegas, pihak Dinas Pertanian seolah membiarkan isu ini menggantung tanpa kepastian hukum. Tidak adanya keterangan resmi dari Ahmad Jhoni memicu spekulasi liar di tengah masyarakat: sejauh mana keterlibatan oknum dinas dalam lingkaran “permainan” pupuk di Desa Tempirai ini?

Sikap diam ini seolah menjadi pembenaran atas kekacauan yang terjadi di lapangan, di mana bantuan yang seharusnya menyentuh tangan petani justru menguap menjadi uang haram bagi segelintir oknum.

 

Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co

Berita Terkait

Mitigasi Bencana Nol, FPR PALI Tuntut Pertamina Bertanggung Jawab: Jangan Korbankan Rakyat Demi Nafsu Industri!
KELALAIAN BRUTAL PERTAMINA PENDOPO: Warga Talang Gas & RSA PALI Siap Gelar Aksi Akbar Jika Tuntutan Diabaikan!
Urat Nadi Warga Talang Gas Disedot Tanpa Ampun: Company Man Rig TMMJ #05 Akhirnya Temui Warga, Desak Pengajuan Surat Tertulis
Mitigasi Bencana Nol, Pertamina & TMMJ Justru Rampas Urat Nadi Warga Talang Gas, PALI: Sungai Penukal Kering Total, Publik Desak Sanksi Tegas!
Perasaan Mendalam Bupati Asgianto Ditinggal Almarhumah Ibunda Hj. Salbiah: “Berat Sekali, Rasa Mau Lepas Kepala”
Bupati Asgianto: Selagi Ibumu Masih Hidup, Sayangi!
Restui Desakan Warga PALI, Gubernur Sumsel Sepakat Cabut Pergub No. 40/2017
Solidaritas Tanpa Batas: Insan Pers Bumi Serepat Serasan Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Anak Krakatau

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 13:30 WIB

Mitigasi Bencana Nol, FPR PALI Tuntut Pertamina Bertanggung Jawab: Jangan Korbankan Rakyat Demi Nafsu Industri!

Minggu, 20 September 2026 - 12:32 WIB

KELALAIAN BRUTAL PERTAMINA PENDOPO: Warga Talang Gas & RSA PALI Siap Gelar Aksi Akbar Jika Tuntutan Diabaikan!

Minggu, 20 September 2026 - 11:59 WIB

Urat Nadi Warga Talang Gas Disedot Tanpa Ampun: Company Man Rig TMMJ #05 Akhirnya Temui Warga, Desak Pengajuan Surat Tertulis

Minggu, 20 September 2026 - 11:12 WIB

Mitigasi Bencana Nol, Pertamina & TMMJ Justru Rampas Urat Nadi Warga Talang Gas, PALI: Sungai Penukal Kering Total, Publik Desak Sanksi Tegas!

Jumat, 18 September 2026 - 12:05 WIB

Perasaan Mendalam Bupati Asgianto Ditinggal Almarhumah Ibunda Hj. Salbiah: “Berat Sekali, Rasa Mau Lepas Kepala”

Berita Terbaru