PALEMBANG | tintamerah.co -, Tekanan publik pasca tragedi ledakan steam di pabrik kelapa sawit PT Golden Blossom Sumatera (GBS) akhirnya direspons oleh pihak manajemen. Setelah sempat menuai kecaman akibat minimnya informasi pasca insiden yang membuat Aditya Wiranata (25), warga Desa Panta Dewa, Talang Ubi, kritis di ruang ICU, perwakilan PT GBS, Wely Sudarsono, memberikan pernyataan resmi kepada tintamerah.co pada Sabtu (8/8/2026).
Kunjungan Mill Manager PT GBS, Hermawan ke RS Charitas Palembang, Jumat (7/8/2026), menjadi langkah awal perusahaan dalam memitigasi sentimen negatif yang kian memuncak. Sebelumnya, laporan tintamerah.co mengungkap kondisi memilukan korban yang terancam nyawanya akibat luka bakar serius, serta memicu kemarahan Ketua DPRD PALI, H. Ubaidillah, yang mendesak tanggung jawab penuh perusahaan serta audit menyeluruh terhadap standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di pabrik tersebut.
Komitmen Tanggung Jawab Medis
Dalam keterangannya kepada tintamerah.co, Wely Sudarsono menegaskan bahwa perusahaan tidak akan melepas tangan atas musibah ini. Ia memastikan bahwa seluruh proses medis yang dijalani Aditya, mulai dari penanganan di klinik perusahaan, rujukan ke RS Bunda Prabumulih, hingga rujukan krusial ke RS Charitas Palembang, sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan.
“Kami menyadari sepenuhnya dampak dari kejadian ini bagi korban dan keluarganya. Sebagai wujud tanggung jawab mutlak PT GBS, kami memastikan seluruh biaya pengobatan, perawatan medis intensif, hingga kebutuhan pendukung lainnya selama proses pemulihan, sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan tanpa terkecuali,” tegas Wely kepada tintamerah.co, Sabtu (8/8/2026).
Investigasi dan Perbaikan SOP
Lebih lanjut, Wely menambahkan bahwa manajemen saat ini tengah melakukan investigasi internal untuk mengungkap akar penyebab ledakan steam tersebut. Ia berjanji bahwa hasil evaluasi ini akan menjadi dasar bagi perusahaan untuk melakukan pembenahan sistemik agar insiden serupa tidak terulang kembali di masa depan.
“Tentu ini menjadi pukulan berat bagi kami. Kami saat ini sedang fokus pada pemulihan kondisi kesehatan saudara Aditya, sembari melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) dan sistem K3 di pabrik kami,” tambah Wely.
Audit K3 Menjadi Harga Mati
Wely menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen untuk melakukan perbaikan langkah-langkah pencegahan secara serius. Meski demikian, janji perusahaan ini tetap berada di bawah pengawasan ketat. Mengingat desakan keras dari legislatif PALI dan publik, langkah evaluasi PT GBS diharapkan tidak sekadar menjadi formalitas.
Kasus ini kini menjadi ujian nyata bagi komitmen PT GBS dalam menjaga integritas operasional dan tanggung jawab kemanusiaan, di mana audit K3 yang transparan menjadi harga mati yang dituntut oleh berbagai elemen masyarakat guna memastikan tidak ada lagi nyawa pekerja yang melayang di balik mesin-mesin pabrik.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















