PALI | Tintamerah.co.id -, Jembatan jalan provinsi di PALI mengalami rusak berat sejak awal 2024 lalu belum ada tanda-tanda untuk diperbaiki. Kondisi ini seakan mempertegas bahwa semua pihak yang berada di Bumi Serepat Serasan ini hanya berdiam diri, seolah tak mengetahui apa yang terjadi dengan kondisi jembatan itu saat ini.
Jembatan ini menghubungkan Kota Pendopo, Talang Ubi ke Desa Teluk Lubuk menuju Muara Enim dan Prabumulih. Jembatan yang terletak tak jauh dari Kantor Dinas Perhubungan kabupaten PALI itu nyaris luput mendapat perhatian dari siapapun, walau dinilai membahayakan, apalagi saat di malam hari.
Pantauan tintamerah.co.id, jembatan ini acapkali rusak setiap tahunnya akibat tergerus derasnya banjir air sungai, namun cepat ditindaklanjuti untuk diperbaiki.
Selain itu, sejak pemerintah provinsi Sumatera Selatan membangun jalan penghubung PALI – Musi Rawas – Linggau, bahkan ke Jambi.
Jalan lintas provinsi melalui PALI ini menjadi favorit pengguna jalan karena memangkas waktu perjalanan Palembang – Lubuklinggau semula 5,5 jam menjadi 3 jam.
Letak geografis PALI yang strategis di Sumatera Selatan membuat volume kendaraan melintasi PALI jadi meningkat, akibatnya jembatan ini sering ambrol tak mampu menahan kapasitas beban angkutan truk yang bermuatan berat.
Sehingga jembatan yang menjadi jalur utama lalu lintas keluar masuk masyarakat PALI ini sering mengalami kerusakan, walaupun sudah dilakukan perbaikan namun tidak bertahan lama.
Menanggapi kondisi tersebut, Tokoh Pemuda PALI Efran sangat prihatin dengan sikap apatis berbagai pihak pemangkuh kebijakan di kabupaten yang beberapa bulan lalu merayakan usia ke – 11 tahun.
“Sangat miris sekali, bisa kita lihat dan rasakan saat ini. Aneh rasanya, mengapa kita semua berdiam diri,” kata Efran kepada tintamerah.co.id, Senin (02/09/24).
Menurut dia, untuk memperbaiki jembatan itu bukan suatu perkara yang sulit dikerjakan apabila pihak-pihak terkait terutama pemerintah daerah ada keinginan kuat duduk bersama mencari solusi penyelesaian.
Namun faktanya, kata Efran, semua orang tau jembatan itu sudah rusak kurun waktu yang lama, namun karena kurangnya kepedulian dan kesadaran dari siapapun yang melintasi jembatan tersebut sehingga tidak menyadari bom waktu mengancam keselamatan nyawanya.
“Semakin hari permukaan jembatan semakin amblas, jadi kita tunggu waktu saja, maut sudah menunggu di kolong jembatan,” cemas Efran.
Efran sangat menyesalkan terhadap sikap acuh tak acuh dari pemerintah kabupaten PALI, DPRD PALI, Polres PALI, Kejari PALI, Koramil Talang Ubi, Partai Politik, Pers, Ormas, LSM, Mahasiswa, dan masyarakat terkesan sepakat bahwa jembatan rusak itu bukan suatu ancaman yang berarti.
Selain itu, Efran menuturkan bahwa perusahaan-perusahaan tambang yang beroperasi di PALI yakni seperti PT Pertamina Pendopo Field, PT Medco E&P Indonesia, PT EPI, PT BSEE, PT BSE ambil bagian dengan sikap yang sama, beranggapan kondisi jembatan masih bisa dilewati. Tak hanya itu, Perusahaan-perusahaan lainnya yakni PT Musi Hutan Persada, PT Suryabumi Agro Langgeng, PT GBS, PT Aburahmi belum terketuk hatinya.
“Saya membayangkan jika semua pihak-pihak tersebut tersadar menyatakan sikap akan memperbaiki jembatan itu bersama-sama,” ungkap Efran.
“Jembatan shiratal mustaqim pun mereka mampu membangunnya,” gurau Efran.
Efran berpesan apakah harus menunggu dahulu terjadinya kecelakaan bahkan merenggut korban jiwa yang membuka hati nurani semua pihak-pihak terkait untuk melakukan perbaikan.
Kendati demikian, Efran masih berharap agar ada satu pihak manapun yang menjadi inisiator mengambil sikap mengajak semua pihak-pihak terkait untuk secepatnya melakukan perbaikan jembatan.
Disisih lain, Efran mempertanyakan, mengapa belakangan ini, termasuk dirinya sendiri maupun rekan-rekan sejawatnya tak lagi menunjukan taringnya menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap permasalahan yang terjadi ditengah masyarakat, termasuk dalam permasalahan jembatan rusak tersebut.
Menurut dia, permasalahan apapun yang terjadi saat ini di PALI, tidak bisa diselesaikan hanya dari peran kalangan profesinya. Ia mengajak semua pihak-pihak terkait berjuang bersama dalam mewujudkan kabupaten PALI mengejar ketertinggalan dari kabupaten/kota di Sumatera Selatan.
Efran menghimbau dan mengajak rekan-rekan wartawan untuk merefleksikan kembali semangat perjuangan agar keberlangsungan peradaban pers di kabupaten PALI tetap terjaga dan terpelihara. (and















