Satu Tahun Tanpa Kejelasan, 26 Finalis Bujang Gadis PALI 2025 Protes Keras: Kami Dirugikan Waktu, Biaya, dan Mental!

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Brosur pendaftaran Pemilihan Bujang Gadis PALI (BGP) 2025. Sebanyak 26 finalis melayangkan protes keras terkait pembatalan sepihak malam Grand Final yang hingga kini belum ada kejelasan konkret dari pihak panitia maupun Disbudpar PALI. (Foto: Dok/Istimewah)

Brosur pendaftaran Pemilihan Bujang Gadis PALI (BGP) 2025. Sebanyak 26 finalis melayangkan protes keras terkait pembatalan sepihak malam Grand Final yang hingga kini belum ada kejelasan konkret dari pihak panitia maupun Disbudpar PALI. (Foto: Dok/Istimewah)

PALI | tintamerah.co -, Ajang bergengsi Pemilihan Bujang Gadis PALI (BGP) Tahun 2025 menyisakan luka mendalam dan kekecewaan emosional bagi para pesertanya. Proses kompetisi yang sedianya melahirkan duta daerah baru justru mandek total pasca-tahapan semifinal. Sebanyak 26 finalis (13 Bujang dan 13 Gadis) kini telantar tanpa kepastian, memicu protes keras atas buruknya tata kelola dan transparansi pihak penyelenggara.

Rangkaian seleksi yang dimulai sejak masa pendaftaran online pada 3–24 Oktober 2025 tersebut awalnya berjalan normal. Dari total 77 pendaftar, tersaring 26 finalis setelah melewati babak semifinal di Gedung Guesthouse pada 26 Oktober 2025. Namun, kejanggalan demi kejanggalan mulai dirasakan para peserta sejak memasuki masa karantina.

Fasilitas “Diturunkan” Secara Mendadak

Berdasarkan pengakuan salah satu finalis, rencana awal karantina yang dijanjikan bertempat di Hotel Srikandi secara mendadak dialihkan ke sebuah kos-kosan (Kos Barokah). Tak hanya lokasi yang berubah, fasilitas penunjang pun jauh dari standar ajang tingkat kabupaten.

“Kami membawa koper dan tas besar dengan ekspektasi karantina formal. Tapi tiba-tiba dipindahkan ke kos-kosan dengan alasan kamar hotel penuh. Peralatan mandi harus bawa sendiri. Kami hanya mendapatkan kaos BGP, selempang finalis, dan nasi kotak tiga kali sehari. Sebagai junior dan pemula, kami takut memprotes saat itu karena khawatir berdampak pada penilaian juri,” ujar salah satu finalis yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada tintamerah.co, Jumat (22/5/2026).

BACA JUGA  DPPPA Muba Gelar Pelatihan PPRG

Puncak karut-marut ini terjadi pada 29 Oktober 2025. Di tengah masa karantina yang baru berjalan dua hari, para peserta mendadak diinstruksikan untuk pulang oleh panitia dari Angkatan 24 BGP dan seorang alumni senior bernama Edison. Acara Grand Final yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober 2025 dibatalkan sepihak tanpa alasan teknis yang transparan.

Alih Isu Anggaran dan Pembungkusan Komunitas “GenP”

Ketidakjelasan ini berlarut-larut hingga memasuki tahun 2026. Upaya para finalis menuntut hak dan kepastian terus membentur dinding kosong. Komunikasi bulanan yang dibangun peserta ke kontak person panitia (seperti Nando, Prestio, dan Silvia) hanya berbuah iming-iming tanpa realisasi.

Bahkan, dalam sebuah pertemuan mediasi di Kafe Tansu menjelang akhir tahun 2025, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PALI, yang dihadiri oleh Pak Teguh, dinilai mencoba mengalihkan substansi masalah. Bukannya memberikan jadwal pasti Grand Final, pihak dinas justru mengajak para finalis yang sedang digantung statusnya ini untuk membentuk komunitas baru bernama GenP (Generasi Pemuda Pemudi PALI) serta mengagendakan kegiatan touring ke Candi Bumiayu.

BACA JUGA  Latih Ketangkasan Jasmani, Siswa Dikmata TNI AD Diuji Lewat Halang Rintang

“Kami tanya soal anggaran dan kejelasan BGP 2025, tapi jawabannya tetap sama dan terus ditutupi. Kami malah diajak bikin komunitas GenP dan touring. Ini jelas mengalihkan isu utama,” tegasnya dengan nada kecewa.

Dampak dari mandegnya ajang ini kian terasa saat Hari Ulang Tahun (HUT) PALI ke-13 pada 22 April 2026 lalu. Tugas keprotokolan (on duty) yang seharusnya menjadi hak milik BGP Angkatan 2025 terpaksa diambil alih oleh Duta Putra Putri Indonesia (DPPI) karena status 26 finalis lokal yang belum resmi dikukuhkan.

Setiap kali para peserta berniat melakukan aksi langsung atau menemui Kepala Dinas secara formal, langkah mereka selalu diredam dan ditahan oleh para senior BGP dengan dalih menjaga kondusivitas organisasi.

Tuntutan Transparansi Anggaran Daerah

Kondisi ini berbanding terbalik dengan klaim akuntabilitas yang seharusnya dijunjung tinggi pemerintah daerah. Melansir laporan tintamerah.co sebelumnya (“Batalnya Grand Final Bujang Gadis PALI 2025, Kadisbudpar Buka Suara dan Siapkan Solusi Bagi 26 Finalis”), Kepala Disbudpar PALI kala itu menyatakan bahwa anggaran yang teralokasi adalah sebesar Rp 200 juta dan sempat menjanjikan solusi terbaik bagi para finalis.

BACA JUGA  Secara Keseluruhan Kafilah Aceh Timur Suguhkan Penampilan Terbaik di MTQ Ke-36

Namun hingga menjelang pertengahan tahun 2026, janji tersebut dinilai hanya menjadi “angin surga”. Munculnya rumor atau kabar burung di kalangan peserta mengenai potensi dilakukannya “pemilihan ulang” dari babak awal sontak memicu kemarahan. Para finalis merasa dirugikan secara material (biaya pendaftaran, baju kantor 3R, pakaian dinas, sepatu, dan akomodasi mandiri) serta sosiologis, karena harus menanggung beban moral dan malu dari keluarga serta lingkungan sekitar yang telah memberikan dukungan pemungutan suara (voting) terfavorit.

Jejak sejarah pemilihan BGP di era kepemimpinan Bupati Heri Amalindo, yang selalu sukses mementaskan malam puncak, kini tercoreng oleh catatan kelam di periode 2025/2026 ini. Para peserta kini mendesak adanya transparansi penuh, kejelasan status 26 finalis, serta audit investigatif terhadap penggunaan anggaran daerah sebesar Rp 200 juta yang telah digelontorkan untuk proyek panggung yang berakhir tanpa hasil nyata tersebut.

 

Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co

Berita Terkait

Di Tengah Badai Hukum Wabup, Misteri ‘Menghilangnya’ Bupati PALI Terjawab: Asgianto Tumbang Diserang ISPA di Palembang
Tak Sekadar Omon-Omon: Kadis LH PALI Sukses Gol-kan Kontrak Sumur Minyak Pertamina!
Gas Melon Langka dan Mahal, Kadisperindag PALI: Kami Tidak Punya Taji!
Menolak Senja Menjadi Ringkih: Asa Sehat Lansia Pangkul di Hari Tua
Makan Uang Negara dari Dua Kaki: Oknum Guru P3K di PALI Kebal Hukum, Kepsek Tutup Mata!
OPINI: May Day 2026 dan “Sinyal Darurat” Ketenagakerjaan: Akankah Buruh Hanya Menjadi Penonton Era AI?
Kontras Insting Penguasa PALI: Rp4,2 Miliar untuk Kenyamanan “Bokong” Pejabat, Sementara Guru Bergelut Lumpur di Desa Benuang
OPINI: May Day 2026 dan Sinyal SOS Hubungan Industrial Indonesia

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:05 WIB

Di Tengah Badai Hukum Wabup, Misteri ‘Menghilangnya’ Bupati PALI Terjawab: Asgianto Tumbang Diserang ISPA di Palembang

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:22 WIB

Tak Sekadar Omon-Omon: Kadis LH PALI Sukses Gol-kan Kontrak Sumur Minyak Pertamina!

Senin, 15 Juni 2026 - 06:40 WIB

Gas Melon Langka dan Mahal, Kadisperindag PALI: Kami Tidak Punya Taji!

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:16 WIB

Menolak Senja Menjadi Ringkih: Asa Sehat Lansia Pangkul di Hari Tua

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:17 WIB

Satu Tahun Tanpa Kejelasan, 26 Finalis Bujang Gadis PALI 2025 Protes Keras: Kami Dirugikan Waktu, Biaya, dan Mental!

Berita Terbaru