PALI | tintamerah.co -, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan bukanlah pemain baru dalam panggung sejarah nasional maupun global. Jauh sebelum kota-kota lain di Sumatera Selatan berkembang pesat, bumi Serepat Serasan telah menjadi titik awal modernisasi peradaban, baik di udara maupun di dalam perut buminya.
Fakta sejarah mencatat bahwa PALI telah lebih dulu menatap langit sebelum Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (atau dahulu dikenal sebagai Bandara Talang Betutu) berdiri di Palembang. Di tanah PALI, sebuah lapangan terbang perintis yang megah lengkap dengan landasan pacu sepanjang 1.300 meter dan menara pengawas, pernah beroperasi aktif melayani para penerbang perintis dunia.
Tokoh pemuda sekaligus Wakil Ketua DPRD PALI, Firdaus Hasbullah, menegaskan bahwa kebesaran PALI di masa lalu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bukti nyata dari posisi strategis dan kekayaan luar biasa yang dimiliki daerah ini sejak era kolonial Belanda.
“PALI adalah pelopor. Ketika daerah lain belum memikirkan konektivitas udara, di sini sudah ada aktivitas penerbangan operasional yang memadai. Ini membuktikan bahwa tanah PALI sejak dahulu kala selalu berada di depan,” ujar Firdaus Hasbullah dalam pernyataan pers yangh diterima tintamerah.co terkait rekam jejak sejarah dirgantara PALI, Rabu (6/5/2026).
Magnet Investasi Global Sejak Era Hindia Belanda
Keberadaan lapangan terbang tersebut tidak lepas dari status PALI sebagai wilayah incaran dunia. Perut bumi Serepat Serasan menyimpan “harta karun” tiga kekuatan besar yang tak pernah habis: minyak bumi, gas alam, dan batu bara. Pada masa kolonial, perusahaan-perusahaan minyak raksasa asing mengeksploitasi emas hitam dari tanah ini, yang kemudian mendorong dibangunnya infrastruktur modern, termasuk jalur penerbangan khusus untuk mobilitas logistik dan tenaga ahli internasional.
Kini, meskipun menyandang status sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB) alias kabupaten termuda di Provinsi Sumatera Selatan, PALI tetap kokoh mempertahankan reputasinya. Daerah ini menjelma menjadi salah satu lumbung energi nasional yang sangat vital dan tak tergantikan bagi kedaulatan energi Indonesia.
“Artinya sangat jelas. Langitnya pernah kita kuasai secara strategis, dan buminya tidak pernah berhenti memberi kontribusi bagi bangsa ini hingga detik ini,” tegas Firdaus dengan nada menggugah.
Bukan Sekadar Cerita Masa Lalu, Tapi Modal Masa Depan
Bagi Firdaus Hasbullah, narasi sejarah ini bukan sekadar alat untuk bernostalgia atau menyombongkan diri. Sejarah emas ini adalah pelecut semangat bagi generasi muda dan pembuat kebijakan saat ini untuk melihat betapa besarnya potensi PALI yang sesungguhnya.
“Kalau ditanya seberapa hebat PALI? Seberapa kaya PALI? Jawabannya melampaui angka-angka statistik. PALI bukan hanya punya cerita sejarah, bukan hanya kaya akan warisan budaya, dan bukan hanya memiliki kejayaan di udara di masa lalu. PALI adalah paket lengkap: kekuatan energi di dalam bumi yang luar biasa, ditambah letak geografis yang sangat strategis di jantung Sumatera Selatan,” urainya optimis.
Dengan modal sejarah dirgantara yang kuat, kekayaan alam yang melimpah, serta posisi geografis yang menguntungkan, PALI memiliki semua syarat untuk kembali memimpin di lini depan pembangunan regional maupun nasional. Saatnya seluruh elemen masyarakat kompak bergerak bersama untuk mengubah kejayaan masa lalu menjadi kesejahteraan nyata di masa depan.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















