FKPK Telusuri Indikasi Buruknya Sistem Manajemen di RSUD Tubaba

Selasa, 10 Januari 2023 - 15:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tubaba | Tintamerah.co.id – Sejumlah dokter kontrak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tulang Bawang Barat provinsi Lampung mengeluh. Pasalnya, pihak manajemen RSUD pada tahun 2023 membuat kebijakan menurunkan gaji pokok para dokter.

“Sebelumnya gaji pokok kami sebesar Rp5 juta/bulan, akan turun menjadi Rp3,5 juta/bulan,” kata salah satu dokter yang meminta untuk tidak disebutkan namanya kepada wartawan,” pada Selasa (10/1/2023).

Dia mengatakan, sangat keberatan dengan kebijakan tersebut, akibatnya dua orang rekannya sesama dokter akhirnya mengajukan pengunduran diri karena menolak kebijakan itu.

“Saat kami tanya dengan manajemen, mereka beralasan jika penurunan gaji pokok mengikuti kebijakan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Tubaba, padahal setahu kami manajemen RSUD sudah berdiri sendiri dan terpisah dengan Dinas Kesehatan,” terangnya.

BACA JUGA  Sekda Lampura Mengikuti Rakornas BKN Tahun 2023

Saat disinggung terkait insentif, dan jasa yang di terima para dokter, dia mengungkapkan sangat jauh dari harapan dan tidak seperti yang dibayangkan banyak pihak bahwa tenaga kesehatan di RSUD sudah sangat sejahtera.

“Kalau janji-janji manis iya, tapi kenyataannya sangat jauh dari harapan, contohnya ini jangankan naik, yang ada gaji kami malah turun. Padahal pasien setiap harinya selalu ada 7 hingga 8 orang per hari, baik itu umum maupun pasien BPJS,” ungkapnya kembali.

Dia juga memaparkan, turunnya gaji pokok para dokter kemungkinan besar juga berlaku bagi bidan serta perawat.

Terpisah, pendiri Forum Komunikasi Pemberantasan Korupsi (FKPK) Wahidin Yusuf saat dihubungi,awak media menyayangkan rencana kebijakan manajemen RSUD tersebut.

BACA JUGA  Menag Nasaruddin Umar Terima Gelar Doctor of Divinity dari Hartford International University

“Kebijakan itu sangat menindas, pantas saja pelayanan di RSUD semakin buruk, ternyata selama ini manajemen tidak memikirkan kesejahteraan para tenaga kesehatan yang ada,” kata dia dikediamannya, Selasa (10/1).

Dia menambahkan, kesehatan merupakan satu hal yang sangat vital dan harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

“Kami selaku salah satu lembaga pengawas kebijakan pemerintah daerah, akan mempertanyakan kebenaran informasi ini kepada pihak manajemen RSUD, untuk mempertanyakan sejauh mana insentif dan jasa yang diberikan kepada para tenaga kesehatan, untuk kemudian kami laporkan kepada kementerian kesehatan di Jakarta,” pungkasnya.(Joni St)

Berita Terkait

Gas Melon Langka dan Mahal, Kadisperindag PALI: Kami Tidak Punya Taji!
Menolak Senja Menjadi Ringkih: Asa Sehat Lansia Pangkul di Hari Tua
Satu Tahun Tanpa Kejelasan, 26 Finalis Bujang Gadis PALI 2025 Protes Keras: Kami Dirugikan Waktu, Biaya, dan Mental!
Makan Uang Negara dari Dua Kaki: Oknum Guru P3K di PALI Kebal Hukum, Kepsek Tutup Mata!
OPINI: May Day 2026 dan “Sinyal Darurat” Ketenagakerjaan: Akankah Buruh Hanya Menjadi Penonton Era AI?
Kontras Insting Penguasa PALI: Rp4,2 Miliar untuk Kenyamanan “Bokong” Pejabat, Sementara Guru Bergelut Lumpur di Desa Benuang
OPINI: May Day 2026 dan Sinyal SOS Hubungan Industrial Indonesia
Jejak Inovasi Sosial PHR Zona 1: Bawa Produk Batik Lapas Jambi ke Level Global

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 06:40 WIB

Gas Melon Langka dan Mahal, Kadisperindag PALI: Kami Tidak Punya Taji!

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:16 WIB

Menolak Senja Menjadi Ringkih: Asa Sehat Lansia Pangkul di Hari Tua

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:17 WIB

Satu Tahun Tanpa Kejelasan, 26 Finalis Bujang Gadis PALI 2025 Protes Keras: Kami Dirugikan Waktu, Biaya, dan Mental!

Sabtu, 16 Mei 2026 - 07:54 WIB

Makan Uang Negara dari Dua Kaki: Oknum Guru P3K di PALI Kebal Hukum, Kepsek Tutup Mata!

Jumat, 8 Mei 2026 - 21:29 WIB

OPINI: May Day 2026 dan “Sinyal Darurat” Ketenagakerjaan: Akankah Buruh Hanya Menjadi Penonton Era AI?

Berita Terbaru