Idul Adha dalam Perspektif Efran sebagai Wartawan

Jumat, 6 Juni 2025 - 21:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sudut pandang Efran sebagai wartawan terhadap Idul Adha
(Foto: ej@/tintamerah.co.id)

Sudut pandang Efran sebagai wartawan terhadap Idul Adha (Foto: ej@/tintamerah.co.id)

PALI | Tintamerah.co.id -, Sejarah Idul Adha dimulai dari kurban di zaman Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Saleh, Nabi Ibrahim, hingga Nabi Muhammad SAW. Namun, yang pertama kali muncul dalam sejarah adalah pada masa Nabi Adam AS melalui kisah dua putranya, Qabil dan Habil.

Perintah untuk menyembelih hewan kurban saat Idul Adha bermula dari Nabi Ibrahim a.s yang mendapatkan mimpi untuk menyembelih Nabi Ismail a.s pada tanggal 8 Dzulhijjah.

Idul Adha dinamai juga ” Idul Nahr ” artinya hari raya penyembelihan. Hal ini untuk memperingati ujian paling berat yang menimpa Nabi Ibrahim. Akibat dari kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan ” Khalilullah ” (kekasih Allah).

Pada momentum perayaan Idul Adha tahun 2024 ini, jurnalis Tintamerah.co.id Efran mengatakan bahwa orang yang berprofesi sebagai wartawan dapat mengambil pesan moral yang disampaikan dalam peristiwa penyembelihan yang dilakukan Nabi Ibrahim.

BACA JUGA  Heri Amalindo Disebut Pendekar Pembangunan Kabupaten PALI 

“Sebagai wartawan saya harus belajar dari peristiwa yang dilakukan Nabi Ibrahim saat itu,” kata Efran kepada Tintamerah.co.id, Jumat (6/6).

Menurut Efran, makna Idul Adha ternyata tidak hanya tentang ketaatan Nabi Ibrahim kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi dirinya dapat bercermin tentang nilai keikhlasan, pengorbanan, dan solidaritas sosial antarumat.

Selain itu, kata Efran, perayaan Idul Adha ini adalah momen bagi profesinya-nya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan menjalankan kewajiban sebagai pejuang demokrasi dengan mentaati dua kitab porfesi, yakni Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik.

Lebih lanjut, Efran menuturkan, bahwa makna kurban dalam istilah di sini berarti dirinya selaku pewarta harus berusaha menyingkirkan hal-hal yang dapat menghalangi upaya mematuhi Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik.

Menurut Efran, hal yang menjadi penghalang dirinya mematuhi dua kita itu adalah terjerambab menjadi ‘pelacur profesi’ dalam berbagai bentuknya, menerima suap atau pemerasan, menyebarkan informasi bohong, fitnah atau sadis, pemberitaan tidak berimbang, pemberitaan tidak akurat, menghakimi atau menyimpulkan tanpa data, plagiat atau penjiplakan karya tulis, pelanggaran lain yang berkaitan dengan profesionalisme, integritas, dan tanggung jawab sosial wartawan.

BACA JUGA  Kadiskop UKM PALI Respon Permanensi Tempat Jualan: Segera Dibahas dengan SKPD Terkait, Program Listrik UMKM Sudah Berjalan

“Wartawan yang terjerambab menjadi pelacur profesi penghalang profesionalisme kerja jurnalistik,” ujar Efran.

Selanjutnya, Efran menyatakan bahwa berkurban saat hari raya Idul Adha merupakan sebuah pengingat kepada dirinya dan rekan sejawat bahwa orang memutuskan menjadi jurnalis harus berani mewakafkan diri untuk kepentingan publik yang membutuhkan pengorbanan dan ketaatan atas perintah-Nya sebagaimana kisah Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s.

“Idul Adha menjadi pengingat yang kuat akan pentingnya berkorban. Sebagaimana Nabi Ibrahim menunjukkan kesediaannya untuk mengorbankan putranya, umat Islam didorong untuk mengorbankan waktu, kekayaan, dan sumber daya mereka demi Allah dan perbaikan masyarakat,” ungkap Efran.

Selain itu, Efran berujar, bahwa ritual utama Idul Adha melibatkan pengorbanan hewan, biasanya domba, kambing, sapi, atau unta. Tindakan ini, terang Efran, melambangkan kesediaan wartawan untuk mengorbankan waktu keluarga, energi, hingga risiko nyawa untuk menyampaikan kebenaran, dan berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya tidak mementingkan diri sendiri dan ketaatan dalam menghadapi kesulitan .

BACA JUGA  Menjemput PALI Maju 2045: Dinas PUTR Pacu Akselerasi Infrastruktur Jalan dan Jembatan di Tahun Anggaran 2026

“Pengorbanan yang dilakukan wartawan sangat beragam, mulai dari pengorbanan waktu keluarga, energi, hingga risiko nyawa untuk menyampaikan kebenaran. Mereka juga sering menerima kritik dan ketidakpastian hidup demi menjaga kewarasan publik. Selain itu, wartawan juga berjuang untuk mempertahankan kebebasan pers dan keadilan,” tutur Efran.

Oleh sebab itu, Efran berharap bahwa peran publik sangat penting dalam mengawasi profesi wartawan yang dapat dilakukan melalui beberapa cara, di antaranya adalah dengan memberikan informasi yang tepat, akurat, dan benar, serta menggunakan Hak Jawab dan Hak Koreksi.

Selain itu, terang Efran, masyarakat juga dapat terlibat dalam pengembangan kemerdekaan pers dan menjamin hak memperoleh informasi. Masyarakat juga dapat meningkatkan kesadaran tentang kode etik jurnalistik dan ikut mengawasi jurnalis dalam pelaksanaannya.

(ej@/tintamerah)

Berita Terkait

Firdaus Hasbullah: Di Balik Survei, Aspirasi Rakyat PALI adalah Harga Mati
Menembus Tirai Pendidikan PALI: Efran Bawa Misi Transparansi ke Sekretariat Dewan Pendidikan
Sekda Kartika Yanti Tertular Bupati Asgianto: Komunikasi Publik Pemkab PALI Alami Pembusukan Moral, Kangkangi Perintah dan Sembunyi dari Wartawan
DI BALIK SENYAP BUPATI ASGIANTO: Bukan Bersembunyi, Menjemput Ratusan Miliar untuk PALI yang Diguncang Badai
Skandal Kelangkaan Gas Melon di PALI: Tokoh Masyarakat Muktar Jayadi Tuding Eksekutif Hingga Aparat Hukum Mandul Berjemaah Menghadapi Gerilya Mafia Energi
Ketukan Pintu di Ujung Senja: Langkah Nyata Lurah Talang Ubi Timur Memeluk Warga yang Rapuh
PALI KACAU: Birokrasi Tiarap, Sinergi Forkopimda Ambyar, Rakyat Menjerit di Tengah Tekanan Fiskal!
Pasca Iwan Tuaji Diamankan Kejati Sumsel: Bupati Asgianto ‘Menghilang’, Prokopim Sebut Dinas Luar ke Jakarta

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 17:31 WIB

Firdaus Hasbullah: Di Balik Survei, Aspirasi Rakyat PALI adalah Harga Mati

Sabtu, 13 Juni 2026 - 13:53 WIB

Menembus Tirai Pendidikan PALI: Efran Bawa Misi Transparansi ke Sekretariat Dewan Pendidikan

Kamis, 11 Juni 2026 - 12:49 WIB

Sekda Kartika Yanti Tertular Bupati Asgianto: Komunikasi Publik Pemkab PALI Alami Pembusukan Moral, Kangkangi Perintah dan Sembunyi dari Wartawan

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:43 WIB

DI BALIK SENYAP BUPATI ASGIANTO: Bukan Bersembunyi, Menjemput Ratusan Miliar untuk PALI yang Diguncang Badai

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:00 WIB

Skandal Kelangkaan Gas Melon di PALI: Tokoh Masyarakat Muktar Jayadi Tuding Eksekutif Hingga Aparat Hukum Mandul Berjemaah Menghadapi Gerilya Mafia Energi

Berita Terbaru