Penulis: Imron Supriyadi
tintamerahNEWS
Satu per satu peserta turun dari bus, menghela napas panjang sambil memandangi gerbang besar Yonzipur II Samara Grawira. Bukan hotel atau wisma pelatihan yang menyambut mereka, melainkan barak militer, lengkap dengan deretan ranjang susun dan peraturan ketat.
Di situlah Efran, seorang wartawan muda dari Kabupaten PALI, akan menghabiskan 14 hari penuh keringat, disiplin, dan tak disangka juga dentuman bom simulasi pada pukul satu dini hari.
Program bertajuk Leadership Character & Literacy Program (LCLP) ini digagas oleh Relation Zona 4 PT Pertamina Hulu Rokan. Sekitar puluhan peserta dari LSM, ormas, dan media dikumpulkan di Kota Prabumulih dan dilepas langsung oleh Suherman, Senior Manager Pendopo Field, menuju “kamp pelatihan karakter” ala militer.
Di Balik Pagar Barak
Setiba di lokasi, para peserta langsung diarahkan ke barak di belakang kompleks militer. Belum sempat benar-benar akrab dengan lingkungan baru, sore harinya mereka sudah berbaris di bawah komando instruktur militer, mengikuti latihan baris-berbaris di Lapangan Pujatnoko.
Kegiatan itu menjadi pembuka program yang digelar dengan khidmat, dihadiri oleh General Manager Zona 4, Djudjuwanto, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, hingga para pemangku kebijakan dan keamanan daerah.
Di hari pertama, Efran mulai menyadari bahwa ia sedang menjalani sesuatu yang jauh lebih serius dari pelatihan jurnalistik biasa. Mulai dari pola tidur, makan, hingga waktu mandi, semua diatur dan diawasi. “Pokoknya semua harus taat. Makan harus cepat, tidur harus rapi, bahkan mandi pun harus sesuai aba-aba,” ujar Efran.
Hari kedua makin mengguncang. Jam 04.00 dini hari, suara peluit membangunkan mereka. Shalat subuh berjamaah dilanjutkan dengan latihan fisik. “Tubuh saya kaget luar biasa. Rasanya otot ini seperti baru dipinjam dari orang lain,” katanya sambil tertawa getir.
Bom Psikologis
Kejutan terbesar datang pada hari ketiga. Sekitar pukul 01.30 dini hari, dua dentuman keras mengguncang tenda tempat para peserta tidur. Suara bom simulasi itu mengagetkan hampir semua peserta. Beberapa bahkan lari ke lapangan apel dalam pakaian dalam.
“Gila. Suaranya seperti perang. Kami dikumpulkan dalam kondisi seadanya. Ada yang hanya pakai singlet, ada yang nyeker,” kata Efran.
Kepanikan berubah jadi latihan kedisiplinan. Peserta dihukum berguling, push-up, hingga tiarap di lapangan lembab oleh embun malam. “Ini bukan lagi pelatihan, tapi ujian kesabaran, fisik, dan mental,” katanya.
Hari-Hari Lempung
Hari-hari berikutnya berjalan penuh ujian. Tak sedikit peserta tumbang karena kelelahan, demam, dan stres fisik. Efran sendiri sempat meminta izin untuk istirahat setelah merasakan tubuhnya benar-benar lelah.
Untungnya, ia membawa ramuan herbal dari rumah yang sedikit banyak membantu memulihkan kondisinya.
“Banyak teman-teman saya yang tidak kuat menahan kantuk saat materi. Bahkan ada yang tertidur saat posisi duduk tegak,” ujarnya. “Tapi setelah lewat masa terberat, kami mulai terbiasa.”
Nutrisi Pikiran
Memasuki hari kelima, suasana berubah. Para peserta jurnalis, termasuk Efran, mengikuti workshop jurnalistik yang diisi oleh tokoh-tokoh pers nasional: Abdul Manan dari Dewan Pers, Ocktap Riady dari Forum Jurnalis Migas, serta Ainur Rohim, mantan Ketua PWI Jatim.
“Kami disiapkan untuk mengikuti Uji Kompetensi Wartawan pada 20 Juni nanti,” ujar Efran.
Di hari-hari terakhir, lelah berganti bangga. “Kami datang sebagai peserta pelatihan. Kami pulang dengan pengalaman hidup,” kata Efran.
Gubernur Herman Deru dijadwalkan menutup program ini pada 23 Juni.
Disiplin, Darah, dan Tinta
Program LCLP bukan sekadar pelatihan jurnalistik atau karakter.
Ia adalah ujian menyeluruh—dari mental, fisik, hingga psikologis. Bagi Efran, suara bom malam itu mungkin akan menjadi mimpi buruk beberapa malam ke depan. Tapi dalam diamnya, ia belajar bahwa menulis yang menyentuh hati, tak hanya datang dari pena, tapi juga dari nyali dan disiplin.















