PALI | tintamerah.co -, Hari Raya Idul Fitri 1447 H menjadi bukti nyata bahwa relasi antara pemimpin dan rakyatnya tidak melulu soal jabatan formal. Di kediaman pribadinya, Rumah Kebon, Simpang Raja, Kelurahan Handayani Mulya, suasana hangat menyelimuti open house yang digelar oleh mantan Bupati PALI, Heri Amalindo, pada Rabu (25/3/2026).
Sejak pagi, arus warga dari berbagai penjuru Bumi Serepat Serasan seolah tak terbendung. Mereka datang silih berganti, menciptakan antrean yang organik namun penuh kekeluargaan. Tidak ada protokoler yang kaku, yang ada hanyalah jabat tangan erat dan senyum lepas.
Kehangatan di Balik Gendongan Bayi
Pemandangan menarik terlihat di tengah kerumunan. Puluhan ibu-ibu tampak sabar menggendong buah hati mereka demi bisa bersalaman langsung dengan sosok yang telah memimpin PALI selama dua periode tersebut. Ada semacam harapan dan doa yang mereka titipkan dalam sebuah sapaan singkat.
Bagi warga, sosok Heri Amalindo bukan sekadar mantan pejabat, melainkan figur yang telah melekat di hati masyarakat. Kedatangan mereka ke Rumah Kebon adalah bentuk kerinduan sekaligus apresiasi atas dedikasi yang pernah tertoreh.
Pernyataan Heri Amalindo: “Rumah Rakyat, Bukan Sekadar Rumah Kebon”
Menyambut kehadiran warga yang terus mengalir, Heri Amalindo tampak tak sedikitpun menunjukkan raut lelah. Dengan gaya bicaranya yang lugas dan rendah hati, ia menegaskan bahwa momentum lebaran adalah waktu untuk meruntuhkan tembok pembatas.
“Hari ini bukan soal siapa saya atau siapa mereka. Ini soal kita. Idul Fitri adalah jembatan untuk kembali menyatukan hati. Saya sangat terharu melihat antusiasme saudara-saudara saya dari jauh-jauh datang ke sini. Rumah Kebon ini selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin bersilaturahmi, bukan hanya saat saya menjabat, tapi selamanya selama hayat dikandung badan,” ujar Heri Amalindo tegas di sela-sela menyalami warga.
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran ibu-ibu yang membawa anak-anak mereka adalah pengingat baginya untuk terus memikirkan masa depan generasi PALI ke depan.
“Melihat ibu-ibu membawa bayi mereka, itu mengetuk hati saya. Mereka adalah masa depan kita. Silaturahmi ini memberi saya energi dan semangat baru untuk terus memberikan yang terbaik bagi masyarakat, di mana pun saya berada,” pungkasnya.
Arus Warga Tak Terputus
Hingga sore hari, gelombang tamu masih terus berdatangan. Kendaraan roda dua dan roda empat memadati area parkir di sekitar Simpang Raja. Fenomena ini menegaskan satu hal: magnet sosial seorang Heri Amalindo tetap kuat. Rakyat tidak hanya mencari hidangan lebaran, mereka mencari sosok yang bersedia mendengar dan menyambut mereka dengan tangan terbuka.
Di Rumah Kebon hari ini, politik sejenak menepi, berganti dengan narasi ketulusan dan persaudaraan yang menggugah.
Laporan: Efran | Editor: tintamerah.co















