PALI, tintamerah.co – Ada yang berbeda dari perhelatan reses Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Firdaus Hasbullah, S.H., M.H., di Gedung Pesos Pertamina Pendopo, Senin (3/8/2026). Di hadapan ratusan warga Dapil I Talang Ubi, politisi yang dikenal vokal ini membuka pemaparannya dengan membongkar diskursus mendalam yang ia bangun bersama pimpinan daerah. Fokus utamanya sangat tajam: bagaimana membebaskan keterisolasian wilayah dengan membuka akses jalan utama dari Simpang Lima Talang Ubi menuju Musi Rawas agar memiliki kapasitas yang lebih luas, layak, dan berdaya saing bagi mobilitas warga.
Diskursus yang diangkat bukan sekadar wacana di atas kertas, melainkan sebuah refleksi atas pergulatan panjang pemikiran para pemangku kebijakan dalam mencari solusi terbaik bagi masa depan infrastruktur regional.
Menelisik Sejarah dan Urgensi Pelebaran Akses Simpang Lima
Dalam narasi pembukanya yang lugas dan memikat, Firdaus mengajak masyarakat menyelami latar belakang pemikiran pembangunan yang digagas bersama jajaran eksekutif. Ia bertutur secara terbuka mengenai esensi dasar menghubungkan simpul-simpul vital antar-wilayah.
“Jadi begini, saya cerita sedikit. Saya pernah diskusi dengan Pak Bupati soal bagaimana kita akses jalan dari Talang Ubi Simpang Lima menuju Musi Rawas itu supaya lebar. Nah, gitu kan? Kita harus ada sejarah dulu ya,” ungkap Politisi Demokrat tersebut.
Kutipan tersebut menegaskan bahwa setiap kebijakan besar selalu berakar dari percakapan substansial antara legislatif dan eksekutif. Firdaus menempatkan transparansi komunikasi publik sebagai fondasi utama agar masyarakat memahami betul kompleksitas tantangan pembangunan yang sedang dihadapi pemerintah daerah.
Realitas Lapangan: Antara Batas Fiskal dan Kerumitan Sosial
Sebagai wakil rakyat yang turun langsung mendengar denyut nadi masyarakat, Firdaus tidak menutup-nutupi realitas pelik di lapangan. Ia membedah dua hambatan klasik tatkala berbicara tentang pelebaran jalan eksisting yang melintasi kawasan padat pemukiman penduduk.
“Bahwa masyarakat kita ini benar enggak makan dua meter jalan di pinggir-pinggir jalan itu? Pernah enggak ada adu cerita itu? Eh, pakai dua meter mungkin. Nah, cuman kalau kita harus pertama melakukan pembebasan, kita tidak punya biaya sebesar itu. Yang kedua, kalau misalnya masyarakat relah mengembalikannya lagi dua meter yang dipakai setiap rumah di pinggir jalan itu, agak terlalu rumit,” jelas Ketua Kormi PALI tersebut.
Uraian tajam ini membuka mata publik bahwa ambisi pembangunan kerap berbenturan dengan batasan kemampuan keuangan daerah (APBD) serta kerumitan sosial terkait pemanfaatan bahu jalan oleh warga di sepanjang koridor utama. Pendekatan jujur ini menuai apresiasi dari audiens karena menunjukkan integritas seorang pemimpin yang berbicara apa adanya tanpa janji manis palsu.
Terobosan Solutif: Jalan Lingkar Strategis Sebagai Jawaban Masa Depan
Tidak berhenti pada pemaparan masalah, Firdaus bersama Bupati merumuskan jalan keluar taktis yang visioner. Ketika pelebaran jalan eksisting menemui jalan buntu fiskal dan sosial, opsi pembangunan jalan lingkar (ring road) disepakati sebagai solusi mutlak.
“Sehingga Bupati punya pemikiran dan DPRD juga punya pemikiran, membuat jalan lingkar. Mungkin dari mulai dari simpang Raja, tembus ke sampai ke Musi Rawas nanti. Enggak tahu ketemunya nanti di mana gitu jalan itu,” pungkas pria yang baru terpilih menjadi Ketua KAHMI PALI tersebut.
Megaproyek jalan lingkar yang membentang dari Simpang Raja menembus hingga wilayah Musi Rawas ini diproyeksikan sebagai urat nadi baru pertumbuhan ekonomi. Langkah ini dinilai jauh lebih efektif untuk mendistribusikan arus logistik dan mobilitas warga tanpa harus menggusur pemukiman padat di pusat kota Talang Ubi.
Sinergi Lintas Sektor dan Perjuangan Anggaran Pusat
Visi besar konektivitas Talang Ubi menuju Musi Rawas ini menemukan titik singgung yang kuat dengan rekam jejak perjuangan politik anggaran Firdaus Hasbullah. Sebagaimana diulas dalam laporan eksklusif tintamerah.co mengenai perjuangan pengembalian pemotongan anggaran pusat untuk PALI, keterbatasan fiskal daerah disikapi Firdaus dengan gigih mengawal pengembalian alokasi dana pusat.
Didukung pula oleh skema hibrida melalui pelibatan aktif konsorsium perusahaan migas sebagaimana disorot dalam laporan tintamerah.co, Firdaus membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah halangan untuk mewujudkan infrastruktur berkeadilan di Bumi Serepat Serasan.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















