tintamerahNEWS -, Sabtu petang menjelang berbuka puasa Ramadhan 1447 H, (7/3/2026), suasana di Rumah Makan Sejahtera, Simpang Bandara, Handayani Mulya, Pendopo, Talang Ubi, tampak lebih hidup dari biasanya. Bukan karena deru mesin kendaraan yang melintas di persimpangan strategis Talang Ubi itu, melainkan karena hadirnya sosok yang tak asing bagi masyarakat Bumi Serepat Serasan: H. Heri Amalindo.
Mantan Bupati PALI dua periode yang kini menjabat sebagai Ketua DPW PSI Sumsel ini hadir bukan untuk urusan birokrasi kaku. Ia datang sebagai “orang tua” yang rindu akan anak-anaknya—para wartawan yang selama belasan tahun mengawal perjalanannya membangun kabupaten ini.
Filosofi Garam: Antara Kritik dan Kedewasaan
Dalam petuah yang mengalir santai namun sarat makna, Heri Amalindo menganalogikan peran manusia dengan ‘garam’. Sebuah bumbu dapur yang harganya murah, sering dianggap remeh, bahkan terkadang diletakkan di tempat paling rendah.
“Garam itu barang murah, paling hina mungkin. Tapi coba bayangkan hidup tanpa garam, semua rasa jadi hambar,” ujarnya di hadapan puluhan jurnalis.
Pesan ini seolah menjadi tamparan halus sekaligus penyemangat bagi insan pers. Bahwa setiap peran, sekecil apa pun, memiliki nilai vital dalam membangun harmoni. Begitu pula dengan perbedaan pendapat dalam demokrasi. Baginya, kritik bukanlah musuh, melainkan energi untuk berbenah.
“Aku tidak anti-kritik. Kritik itu ada dua, bisa benar bisa salah. Kalau kritikmu benar, maka aku yang harus berubah. Itulah pemimpin,” tegasnya dengan nada tenang.
Silaturahmi: Investasi Langit yang Tak Terputus
Bagi Heri, silaturahmi adalah prioritas yang bahkan melampaui urusan administratif. Ia mengingatkan bahwa dalam pandangan spiritual, hubungan antar-manusia adalah hal yang akan dimintai pertanggungjawaban besar.
“Allah paling benci orang yang memutus tali silaturahmi. Adik-adik ini masih muda, masa depan tidak ada yang tahu. Mungkin besok lusa ada yang jadi menteri atau gubernur. Maka jangan pernah sombong dan jangan pernah memutus hubungan,” pesan Heri untuk anak-anaknya.
Ia juga menekankan bahwa membantu sesama adalah jalan pintas menuju rida Tuhan. Baginya, keberadaan Tuhan terasa nyata bukan hanya dalam ritual ibadah, tetapi saat manusia bergerak membantu umat lain, bahkan saat menyayangi hewan ciptaan-Nya.
Posisi Seorang “Orang Tua”
Sepanjang pertemuan, Heri konsisten memposisikan dirinya sebagai sosok ayah. Ia mengakui bahwa dalam perjalanan panjang memimpin PALI, pasti ada gesekan dan perbedaan pendapat. Namun, baginya, seorang anak tetaplah anak.
“Anak saya banyak, macam-macam jenisnya. Ada yang pintar, ada yang nakal, ada yang pengalamannya beda-beda. Tapi apapun itu, mereka anak saya. Orang tua mana yang tidak senang melihat anaknya sukses? Kalau ada orang tua bangga melihat anaknya susah, itu sakit jiwa namanya,” tuturnya yang disambut tawa akrab para awak media.
Pertemuan yang berlangsung beberapa jam itu ditutup dengan diskusi santai dan saling lempar tawa. Di balik meja makan sederhana itu, Heri Amalindo kembali menegaskan bahwa jabatan bisa berakhir, namun ikatan emosional dan persaudaraan harus tetap abadi.
Bagi para kuli tinta di PALI, malam itu bukan sekadar mengumpulkan bahan berita, melainkan momen pulang ke rumah untuk mendengar nasihat dari seorang guru kehidupan.
Oleh: Efran















