Menyemai Rindu di Simpang Bandara: H. Heri Amalindo dan Pesan “Garam” Kehidupan untuk Insan Pers PALI

Sabtu, 7 Maret 2026 - 23:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua DPW PSI Sumsel, H. Heri Amalindo bersilaturahi dengan wartawan dari berbagai media massa Bumi Serepat Serasan pada momen puasa Ramadhan 1447 H di RM Sejahtera Simpang Bandara, Handayani Mulya, Pendopo, talang Ubi, Sabtu (7/3/2026).
(Dok/tintamerah)

Ketua DPW PSI Sumsel, H. Heri Amalindo bersilaturahi dengan wartawan dari berbagai media massa Bumi Serepat Serasan pada momen puasa Ramadhan 1447 H di RM Sejahtera Simpang Bandara, Handayani Mulya, Pendopo, talang Ubi, Sabtu (7/3/2026). (Dok/tintamerah)

tintamerahNEWS -, Sabtu petang menjelang berbuka puasa Ramadhan 1447 H, (7/3/2026), suasana di Rumah Makan Sejahtera, Simpang Bandara, Handayani Mulya, Pendopo, Talang Ubi, tampak lebih hidup dari biasanya. Bukan karena deru mesin kendaraan yang melintas di persimpangan strategis Talang Ubi itu, melainkan karena hadirnya sosok yang tak asing bagi masyarakat Bumi Serepat Serasan: H. Heri Amalindo.

Mantan Bupati PALI dua periode yang kini menjabat sebagai Ketua DPW PSI Sumsel ini hadir bukan untuk urusan birokrasi kaku. Ia datang sebagai “orang tua” yang rindu akan anak-anaknya—para wartawan yang selama belasan tahun mengawal perjalanannya membangun kabupaten ini.

Filosofi Garam: Antara Kritik dan Kedewasaan

Dalam petuah yang mengalir santai namun sarat makna, Heri Amalindo menganalogikan peran manusia dengan ‘garam. Sebuah bumbu dapur yang harganya murah, sering dianggap remeh, bahkan terkadang diletakkan di tempat paling rendah.

BACA JUGA  Menembus Target 2026: Bappeda PALI Pacu Realisasi Fisik dan Serapan Anggaran Program Strategis

“Garam itu barang murah, paling hina mungkin. Tapi coba bayangkan hidup tanpa garam, semua rasa jadi hambar,” ujarnya di hadapan puluhan jurnalis.

Pesan ini seolah menjadi tamparan halus sekaligus penyemangat bagi insan pers. Bahwa setiap peran, sekecil apa pun, memiliki nilai vital dalam membangun harmoni. Begitu pula dengan perbedaan pendapat dalam demokrasi. Baginya, kritik bukanlah musuh, melainkan energi untuk berbenah.

“Aku tidak anti-kritik. Kritik itu ada dua, bisa benar bisa salah. Kalau kritikmu benar, maka aku yang harus berubah. Itulah pemimpin,” tegasnya dengan nada tenang.

Silaturahmi: Investasi Langit yang Tak Terputus

Bagi Heri, silaturahmi adalah prioritas yang bahkan melampaui urusan administratif. Ia mengingatkan bahwa dalam pandangan spiritual, hubungan antar-manusia adalah hal yang akan dimintai pertanggungjawaban besar.

BACA JUGA  Deretan OPD PALI Tak Gubris Surat Wawancara Redaksi tintamerah.co Soal Program Kerja 2026: Ada Apa dengan Transparansi Publik?

“Allah paling benci orang yang memutus tali silaturahmi. Adik-adik ini masih muda, masa depan tidak ada yang tahu. Mungkin besok lusa ada yang jadi menteri atau gubernur. Maka jangan pernah sombong dan jangan pernah memutus hubungan,” pesan Heri untuk anak-anaknya.

Ia juga menekankan bahwa membantu sesama adalah jalan pintas menuju rida Tuhan. Baginya, keberadaan Tuhan terasa nyata bukan hanya dalam ritual ibadah, tetapi saat manusia bergerak membantu umat lain, bahkan saat menyayangi hewan ciptaan-Nya.

Posisi Seorang “Orang Tua”

Sepanjang pertemuan, Heri konsisten memposisikan dirinya sebagai sosok ayah. Ia mengakui bahwa dalam perjalanan panjang memimpin PALI, pasti ada gesekan dan perbedaan pendapat. Namun, baginya, seorang anak tetaplah anak.

BACA JUGA  Begini Penjelasan Wabup PALI Soal Peralihan Aset PT Pemdas Agro Citra Buana

“Anak saya banyak, macam-macam jenisnya. Ada yang pintar, ada yang nakal, ada yang pengalamannya beda-beda. Tapi apapun itu, mereka anak saya. Orang tua mana yang tidak senang melihat anaknya sukses? Kalau ada orang tua bangga melihat anaknya susah, itu sakit jiwa namanya,” tuturnya yang disambut tawa akrab para awak media.

Pertemuan yang berlangsung beberapa jam itu ditutup dengan diskusi santai dan saling lempar tawa. Di balik meja makan sederhana itu, Heri Amalindo kembali menegaskan bahwa jabatan bisa berakhir, namun ikatan emosional dan persaudaraan harus tetap abadi.

Bagi para kuli tinta di PALI, malam itu bukan sekadar mengumpulkan bahan berita, melainkan momen pulang ke rumah untuk mendengar nasihat dari seorang guru kehidupan.

Oleh: Efran

Berita Terkait

Refleksi 1 Muharam 1448 H: Firdaus Hasbullah Serukan ‘Hijrah’ sebagai Energi Perubahan PALI
Ketua DPRD PALI Percayakan Efran Nahkodai FKS: “Justru Pengalaman Wartawan Jadi Modal Strategis”
Misi Transparansi Pendidikan di Bumi Serepat Serasan: Efran Temui Ketua DPRD PALI
Gas Melon “Langka & Mahal”, DPRD PALI Panggil Paksa Pemangku Kebijakan: Jangan Sampai Rapat Hanya Jadi Sandiwara!
Menanti Aksi Nyata di Gelora November: LLI PALI Harapkan Firdaus Hasbullah Jadi Pembina dan Sandaran Sarana
Komedi Mahalnya Gas 3 Kg di PALI: Pertamina Patra Niaga Sumbagsel ‘Cuci Tangan’, Rakyat Tetap Tercekik
Firdaus Hasbullah: Di Balik Survei, Aspirasi Rakyat PALI adalah Harga Mati
Menembus Tirai Pendidikan PALI: Efran Bawa Misi Transparansi ke Sekretariat Dewan Pendidikan

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 19:31 WIB

Refleksi 1 Muharam 1448 H: Firdaus Hasbullah Serukan ‘Hijrah’ sebagai Energi Perubahan PALI

Senin, 15 Juni 2026 - 19:28 WIB

Ketua DPRD PALI Percayakan Efran Nahkodai FKS: “Justru Pengalaman Wartawan Jadi Modal Strategis”

Senin, 15 Juni 2026 - 18:33 WIB

Misi Transparansi Pendidikan di Bumi Serepat Serasan: Efran Temui Ketua DPRD PALI

Senin, 15 Juni 2026 - 09:20 WIB

Gas Melon “Langka & Mahal”, DPRD PALI Panggil Paksa Pemangku Kebijakan: Jangan Sampai Rapat Hanya Jadi Sandiwara!

Senin, 15 Juni 2026 - 08:16 WIB

Menanti Aksi Nyata di Gelora November: LLI PALI Harapkan Firdaus Hasbullah Jadi Pembina dan Sandaran Sarana

Berita Terbaru