tintamerahNEWS -, Aroma “anti-kritik” nampaknya mulai menyengat dari balik dinding kokoh operasional Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4. Sebuah ironi besar terjadi ketika seorang jurnalis yang menjalankan amanat Undang-Undang Pers untuk melakukan kontrol sosial, justru dihadiahi tudingan miring: “Mencari kesalahan perusahaan”.
Tudingan ini terlontar dari oknum humas PHR Zona 4 saat Redaktur tintamerah.co, Efran, mencoba mengonfirmasi jeritan warga Desa Karta Dewa terkait limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang di buang ke salah satu lokasi sumur bor Adera Field, Kamis (2/4/2026). Bukannya memberikan jawaban teknis yang menenangkan publik, oknum tersebut justru melakukan serangan verbal yang mempertanyakan integritas jurnalisme.
Arogansi di Balik Tameng “Plat Merah”
Pertamina adalah perusahaan milik negara, yang artinya setiap tetes keringat operasionalnya harus bermuara pada kesejahteraan rakyat, bukan malah menjadi ancaman bagi keselamatan warga PALI. Fakta di lapangan tidak bisa ditutupi dengan retorika dalam laporan tintamerah.co:
- Pipa Tua yang Mematikan: Jejak ledakan pipa yang merenggut nyawa warga adalah luka permanen yang tak bisa dihapus hanya dengan rilis pers.
- Limbah yang Menghantui: Luberan air asin di Adera Field adalah ancaman nyata bagi ekosistem dan kesehatan masyarakat lokal.
- Tabir Rekrutmen & Proyek: Dugaan praktik kotor dalam lelang dan rekrutmen karyawan terus menjadi “bola panas” yang membutuhkan transparansi, bukan pembungkaman.
Wawancara Eksklusif yang “Dikebiri”
Sikap menuduh “mencari kesalahan” adalah puncak dari kepanikan komunikasi. Padahal, secara profesional, Efran telah melayangkan surat resmi nomor 039/TM/III/2026 kepada GM PHR Zona 4, Djujuwanto, untuk melakukan wawancara eksklusif.
Surat tersebut adalah bukti nyata niat baik pers untuk menyajikan berita yang proporsional mengenai strategi produksi 30.305 BOPD dan dampak ekonomi bagi wilayah PALI. Namun, surat itu layaknya “surat cinta yang tak berbalas”—didiamkan tanpa jawaban. Jika pintu komunikasi resmi dikunci rapat, jangan salahkan jika pers mengetuk lewat fakta-fakta pahit di lapangan.
Jurnalis Bukan “Humas Cadangan”
Efran, sebagai putra asli PALI dan pemegang sertifikasi Wartawan Madya, paham betul bahwa tugasnya bukan untuk menyenangkan pejabat atau petinggi korporasi. Jurnalisme bukan tentang menjadi pemandu sorak (cheerleader) bagi perusahaan, melainkan menjadi penyambung lidah bagi mereka yang tak bersuara.
“Saat kami bicara fakta buruk, kami dituduh musuh. Saat kami bicara keberhasilan, kami dituduh penjilat. Tapi kami memilih berdiri tegak di atas fakta, karena kebenaran tidak butuh validasi dari mereka yang antipati,” tegas Efran.
Kesimpulan: Jangan Alergi Terhadap Kebenaran
PHR Zona 4 harus sadar bahwa PALI bukan sekadar ladang minyak untuk diperas isinya, tapi ada manusia di atasnya yang punya hak untuk hidup aman. Melabeli wartawan kritis sebagai “pencari kesalahan” adalah bentuk kemunduran demokrasi dan penghinaan terhadap profesi pers.
Kami tidak mencari kesalahan, kami menemukan fakta. Dan fakta itu memang pahit bagi mereka yang ingin terus tidur nyenyak di atas penderitaan rakyat. Stop anti-kritik, mulailah bekerja untuk rakyat!
Oleh: Efran | Editor: tintamerah.co















