Pesan Keras Firdaus Hasbullah di HUT ke-9 PGK: Jangan Pernah Merasa Cukup! & Jangan Jadi Alat Kekuasaan

Selasa, 31 Maret 2026 - 10:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua DPW PGK Sumsel, Firdaus Hasbullah, SH, MH, menegaskan bahwa usia 9 tahun adalah momentum bagi PGK untuk bertransformasi dari sekadar gerakan struktural menjadi gerakan sosial yang nyata. (Foto: Dok/Firdaus Hasbullah)

Ketua DPW PGK Sumsel, Firdaus Hasbullah, SH, MH, menegaskan bahwa usia 9 tahun adalah momentum bagi PGK untuk bertransformasi dari sekadar gerakan struktural menjadi gerakan sosial yang nyata. (Foto: Dok/Firdaus Hasbullah)

PALEMBANG | tintamerah.co -, Sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sekadar menjaga eksistensi sebuah papan nama organisasi. Bagi Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Sumatera Selatan, angka sembilan adalah sebuah “Ujian Kedewasaan”. Di bawah kepemimpinan Firdaus Hasbullah, SH, MH, organisasi ini sedang dipaksa bercermin: apakah mereka tumbuh sebagai raksasa struktural yang hampa, atau akar sosial yang menyerap peluh rakyat?

Dalam orasinya yang bertajuk “Menuju Substansi: Ujian Kedewasaan Gerakan Kebangsaan”, Firdaus melempar kritik tajam ke dalam jantung organisasinya sendiri. Ia menegaskan bahwa perayaan hari jadi ke-9 ini bukanlah panggung seremoni, melainkan momentum evaluasi yang brutal.

Melampaui Jargon dan Baliho

Firdaus menyentil fenomena organisasi yang seringkali terjebak pada “politik baliho”. Ia menegaskan bahwa keberhasilan PGK tidak diukur dari megahnya baliho di sudut kota, melainkan dari keberanian pemuda desa menyuarakan keadilan.

BACA JUGA  Salurkan Bansos Polres PALI, IWO PALI Sasar Warga di Kecamatan Talang Ubi

“Jika masyarakat masih melihat kita hanya di baliho, maka itu kegagalan kolektif kita,” tegas Firdaus dengan nada lugas dalam keterangan pers kepada tintamerah.co, Selasa (30/3/2026).

PGK Sumsel kini mematok standar baru. Kontribusi tidak lagi boleh sekadar “terasa” secara abstrak, tapi harus “terukur” secara nyata. Baik itu dalam advokasi konflik agraria di mana PGK memilih tidak netral secara moral—melainkan berpihak pada keadilan—maupun dalam program pemberdayaan ekonomi yang konkret.

Independensi: Harga Mati di Tengah Polarisasi

Di tengah bayang-bayang tahun politik dan fragmentasi sosial yang kian tajam di Sumatera Selatan, PGK memposisikan diri di jalur yang rawan namun terhormat: Independensi.

Firdaus menggarisbawahi bahwa PGK dilarang keras menjadi “perpanjangan tangan” kekuatan politik mana pun. “Independensi PGK adalah harga mati. Kita harus berdiri di atas kepentingan rakyat, bukan kepentingan kekuasaan,” ujarnya.

BACA JUGA  Tim Gabungan Pemkab PALI Tertibkan PKL Pasar Inpres Kecamatan Talang Ubi

Di tengah keretakan kohesi sosial akibat jarak ekonomi dan perbedaan generasi, PGK ingin hadir sebagai perekat, bukan pemilah.

Menembus Ruang Digital Gen Z

Menyadari perubahan zaman, PGK Sumsel juga melakukan redefinisi terhadap narasi kebangsaan. Bagi mereka, kebangsaan bukan lagi soal pidato usang yang membosankan. Bagi Gen Z, kebangsaan adalah soal:

  • Akses ekonomi yang adil.
  • Peluang masa depan yang nyata.
  • Kehadiran solusi di ruang digital yang visual dan relatable.

Sekolah Kepemimpinan, Bukan Kerumunan Masa

Kritik paling tajam yang dilemparkan Firdaus adalah mengenai kaderisasi. Ia memperingatkan agar PGK tidak terjebak dalam “ilusi jumlah”. Memiliki banyak anggota tidak berarti memiliki banyak pemimpin.

PGK dituntut menjadi “Sekolah Kepemimpinan” yang mencetak integritas dan kapasitas, bukan sekadar loyalitas buta. Ia mengakui adanya kegagalan dalam kecepatan merespons isu dan kenyamanan dalam rutinitas yang harus segera diakhiri dengan disiplin organisasi yang baja.

BACA JUGA  Polres PALI dan Kejari Limpahkan Tahanan Titipan ke Lapas Muara Enim

Penutup: Jangan Pernah Merasa Cukup

Pesan penutup Firdaus Hasbullah menjadi cambuk bagi seluruh kader di Sumatera Selatan. Ia meminta para kader untuk terus “gelisah”.

“Organisasi yang merasa cukup adalah organisasi yang sedang menuju kemunduran. Sejarah tidak akan mencatat seberapa sering kita berkumpul, tetapi seberapa besar kita memberi arti.”

Menuju dekade pertamanya, PGK Sumsel membawa misi besar: Naik kelas. Dari sekadar gerakan yang “terlihat”, menjadi gerakan yang “terasa”. Dari organisasi yang “dikenal”, menjadi organisasi yang benar-benar “dibutuhkan”.

Sembilan tahun telah berlalu, dan ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai.

 

Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co

Berita Terkait

Firdaus Hasbullah: Di Balik Survei, Aspirasi Rakyat PALI adalah Harga Mati
Menembus Tirai Pendidikan PALI: Efran Bawa Misi Transparansi ke Sekretariat Dewan Pendidikan
Sekda Kartika Yanti Tertular Bupati Asgianto: Komunikasi Publik Pemkab PALI Alami Pembusukan Moral, Kangkangi Perintah dan Sembunyi dari Wartawan
DI BALIK SENYAP BUPATI ASGIANTO: Bukan Bersembunyi, Menjemput Ratusan Miliar untuk PALI yang Diguncang Badai
Skandal Kelangkaan Gas Melon di PALI: Tokoh Masyarakat Muktar Jayadi Tuding Eksekutif Hingga Aparat Hukum Mandul Berjemaah Menghadapi Gerilya Mafia Energi
Ketukan Pintu di Ujung Senja: Langkah Nyata Lurah Talang Ubi Timur Memeluk Warga yang Rapuh
PALI KACAU: Birokrasi Tiarap, Sinergi Forkopimda Ambyar, Rakyat Menjerit di Tengah Tekanan Fiskal!
Pasca Iwan Tuaji Diamankan Kejati Sumsel: Bupati Asgianto ‘Menghilang’, Prokopim Sebut Dinas Luar ke Jakarta

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 17:31 WIB

Firdaus Hasbullah: Di Balik Survei, Aspirasi Rakyat PALI adalah Harga Mati

Sabtu, 13 Juni 2026 - 13:53 WIB

Menembus Tirai Pendidikan PALI: Efran Bawa Misi Transparansi ke Sekretariat Dewan Pendidikan

Kamis, 11 Juni 2026 - 12:49 WIB

Sekda Kartika Yanti Tertular Bupati Asgianto: Komunikasi Publik Pemkab PALI Alami Pembusukan Moral, Kangkangi Perintah dan Sembunyi dari Wartawan

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:43 WIB

DI BALIK SENYAP BUPATI ASGIANTO: Bukan Bersembunyi, Menjemput Ratusan Miliar untuk PALI yang Diguncang Badai

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:00 WIB

Skandal Kelangkaan Gas Melon di PALI: Tokoh Masyarakat Muktar Jayadi Tuding Eksekutif Hingga Aparat Hukum Mandul Berjemaah Menghadapi Gerilya Mafia Energi

Berita Terbaru