PALI | tintamerah.co -, Di bawah langit Bumi Serepat Serasan yang masih berselimut suasana Idul Fitri, sebuah pemandangan tak biasa tersaji. Dua kutub yang selama ini dipandang berseberangan dalam kontestasi politik, Asgianto dan Heri Amalindo, duduk bersama dalam satu meja silaturahmi.
Pertemuan ini bukan sekadar seremoni jabat tangan biasa. Pertemuan ini menjadi kian sakral dan strategis dengan hadirnya dua pimpinan legislatif tertinggi di Kabupaten PALI: Ketua DPRD PALI, H. Ubaidillah, serta Wakil Ketua DPRD PALI, Firdaus Hasbullah, SH, MH. Kehadiran mereka seolah menjadi saksi sekaligus penjamin bahwa arah pembangunan PALI ke depan akan berpijak pada harmonisasi antara eksekutif dan legislatif. Di mata Firdaus Hasbullah, momen ini adalah simbol “runtuhnya sekat” demi kepentingan yang lebih besar: Kesejahteraan rakyat Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Kedewasaan di Balik Cangkir Kopi
Publik PALI tentu masih mengingat dinamika politik yang sempat memanas. Namun, lebaran kali ini menjadi katalisator perubahan. Asgianto, sang Bupati periode 2024–2029, menunjukkan gestur penghormatan kepada pendahulunya, Heri Amalindo, yang telah memimpin PALI selama dua periode.
“Ini adalah oase di tengah gurun politik kita. Pertemuan ini menunjukkan kedewasaan berdemokrasi yang luar biasa. Kompetisi memang memiliki garis finis, tapi pengabdian untuk daerah tidak boleh berhenti hanya karena perbedaan pilihan,” ujar Firdaus Hasbullah dengan nada optimis saat dihubungi tintamerah.co, Selasa (24/3/2025).
Menurut Ketua PGK Sumsel ini, percakapan yang terjadi jauh dari kesan kaku. Alih-alih membahas perselisihan masa lalu, keduanya justru larut dalam diskusi tentang harapan masa depan. Suasana cair ini mengirimkan pesan kuat bahwa jarak yang sempat tercipta kini telah merapat kembali.
Sinergi: Fondasi Lama dan Visi Baru
Salah satu poin tajam yang disoroti Firdaus adalah potensi kolaborasi antara pengalaman dan inovasi. Heri Amalindo, sang arsitek yang meletakkan fondasi pembangunan PALI sejak awal, memiliki rekam jejak yang tak terbantahkan. Di sisi lain, Asgianto membawa visi baru yang segar dan energi muda untuk mengakselerasi kemajuan.
Jika kedua energi ini disatukan, PALI akan memiliki kekuatan ganda: Melanjutkan program strategis yang telah dirintis Heri Amalindo, melakukan terobosan baru di bawah kepemimpinan Asgianto untuk menjawab tantangan zaman, dan menciptakan iklim politik yang kondusif bagi investor dan pembangunan daerah.
“Membangun PALI itu butuh kebersamaan, bukan sekat-sekat kepentingan kelompok. Pengalaman Pak Heri dan semangat Pak Asgianto adalah kombinasi emas yang dirindukan masyarakat,” tambah Firdaus.
Pesan Persatuan untuk Masyarakat
Politisi Demokrat ini menegaskan bahwa silaturahmi ini bukan hanya tentang dua tokoh besar, melainkan tentang arah kompas masa depan PALI. Ia melihat momentum spiritual Lebaran telah berhasil dikonversi menjadi energi sosial-politik yang konstruktif.
“Lebaran mengajarkan kita bahwa memaafkan adalah awal, tapi menjaga hubungan adalah proses. Pertemuan ini adalah langkah nyata dari proses tersebut. Kita ingin masyarakat melihat bahwa pemimpin mereka bisa bersatu, maka rakyatnya pun harus lebih solid,” tegas pria yang dikenal vokal menyuarakan aspirasi rakyat ini.
Mengubah Momentum Menjadi Kemajuan
Dari ruang tamu yang penuh kekeluargaan itu, lahir harapan baru. PALI kini melangkah menuju fase di mana kolaborasi menjadi panglima. Persatuan ini diharapkan tidak hanya berhenti di meja makan, tetapi turun ke kebijakan-kebijakan yang menyentuh langsung perut dan hati masyarakat.
Sebuah catatan penting dari pertemuan ini: PALI bukan milik satu golongan, melainkan warisan bersama yang harus dijaga dengan nilai persaudaraan.
Laporan: Efran | Editor: tintamerah.co















