tintamerahNEWS -, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, tidak sedang kekurangan mahasiswa. Ribuan pemuda-pemudi asal Bumi Serepat Serasan tersebar di berbagai penjuru mata angin; dari Palembang, Lampung, Yogyakarta, Bandung, hingga Malang, dan masih banyak lagi. Namun, jika kita melihat panggung dialektika dan kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah daerah, muncul sebuah anomali yang menggelitik: Mengapa hanya Formapali Jabodetabek yang terdengar suaranya?
Di saat kawan-kawan di Jakarta dan sekitarnya konsisten menyuarakan kritik, melakukan aksi, dan menjadi “alarm” bagi jalannya pemerintahan di PALI, kita justru disuguhi pemandangan sunyi dari basis massa mahasiswa di dalam maupun luar PALI. Apakah nalar kritis hanya tumbuh subur di aspal ibu kota, sementara di daerah lain ia mati suri?
Jarak yang Mendekatkan, Dekat yang Meninabobokan
Ada sebuah ironi yang nyata. Mahasiswa PALI di Jabodetabek secara geografis adalah yang paling jauh dari pusat kekuasaan di Pendopo. Namun, jarak itulah yang nampaknya memberikan mereka independensi. Mereka tidak terikat oleh relasi kuasa lokal yang seringkali membungkam idealisme.
Sebaliknya, mahasiswa PALI yang menempuh studi lebih dekat dengan rumah—seperti di Palembang atau bahkan yang berada di PALI sendiri—seolah terjebak dalam “keramahan” yang semu. Apakah kedekatan geografis ini justru menciptakan rasa takut? Takut kehilangan akses, takut menyinggung relasi keluarga, atau jangan-jangan, mereka telah terkooptasi oleh zona nyaman bantuan sosial dan janji-janji politik?
Mahasiswa atau Sekadar “Event Organizer”?
Kita harus berani bertanya: ke mana organisasi kedaerahan PALI lainnya? Jika organisasi mahasiswa hanya sibuk dengan agenda seremonial, berbuka bersama, berbagi sembako, atau sekadar kumpul-kumpul rutin tanpa pernah menyentuh substansi persoalan rakyat, maka mereka bukan lagi gerakan mahasiswa. Mereka tak lebih dari sekadar Event Organizer (EO) yang berbaju almamater.
Ketajaman Formapali Jabodetabek dalam menyoroti isu-isu krusial—mulai dari transparansi anggaran hingga kebijakan infrastruktur—seharusnya menjadi tamparan keras bagi organisasi mahasiswa PALI di daerah lain. Kesunyian mereka adalah bentuk pembiaran terhadap ketidakadilan.
“Diamnya mahasiswa terhadap ketimpangan di tanah kelahirannya adalah pengkhianatan paling nyata terhadap gelar ‘Agent of Change’.”
Tantangan untuk Nalar yang “Tidur”
Fenomena ini mencerminkan adanya krisis kepemimpinan di tingkat mahasiswa. Kita tidak butuh mahasiswa yang hanya pandai memuji atau sibuk berswafoto saat pelantikan. PALI butuh pengawal yang berani “berisik” saat ada yang tidak beres.
Jika Formapali Jabodetabek bisa konsisten bergerak di tengah kerasnya hidup di perantauan Jakarta, apa alasan bagi mereka yang di PALI, Palembang atau daerah lainnya untuk tetap diam? Apakah nalar kritis kalian sudah tergadaikan oleh kepentingan jangka pendek? Ataukah kalian sedang menunggu “jatah” agar bisa ikut merasa nyaman dalam diam?
Kesimpulannya, keberanian Formapali Jabodetabek adalah anomali yang patut diapresiasi, namun sekaligus cermin retak bagi gerakan mahasiswa PALI secara keseluruhan. Sudah saatnya mahasiswa PALI di luar Jabodetabek bangun dari tidur panjangnya. Jangan biarkan suara kritis hanya datang dari jauh, sementara yang dekat justru bungkam seribu bahasa.
PALI tidak butuh generasi yang penurut; PALI butuh generasi yang punya nyali untuk meluruskan yang bengkok.
Oleh: Efran















