PALI | tintamerah.co -, Momentum Idul Fitri 1447 H di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, melahirkan sebuah potret langka yang sarat makna. Pertemuan antara Bupati PALI saat ini, Asgianto, dengan Bupati PALI dua periode, H. Heri Amalindo, menjadi sorotan hangat. Pertemuan ini bukan sekadar ritual jabat tangan, melainkan sebuah pesan kuat tentang kedewasaan berpolitik di Bumi Serepat Serasan.
Ketua DPRD PALI, Ubaidillah, yang menyaksikan langsung momen tersebut, menegaskan bahwa pertemuan ini adalah “kuliah terbuka” tentang silaturahmi bagi seluruh masyarakat dan elite politik di PALI.
Melampaui Sekat Politik
Meski jawaban yang terlontar tampak normatif, Ubaidillah menekankan ada substansi mendalam di balik tawa dan obrolan ringan kedua tokoh tersebut. Menurutnya, pemandangan ini adalah jawaban atas dahaga masyarakat akan keteduhan politik.
“Pertemuan kedua tokoh PALI ini tidak lain adalah silaturahmi dalam rangka Idul Fitri. Ini merupakan pelajaran berharga bagi kita semua dan patut dicontoh. Para tokoh sudah seharusnya merajut hubungan, saling berbagi pengalaman demi kemajuan Kabupaten PALI,” tegas Ubaidillah saat dihubungi tintamerah.co, Selasa (24/3/2026).
Ubaidillah tidak menyangkal bahwa publik mungkin mencari celah “kesepakatan politik” di balik pertemuan tersebut. Namun, ia memastikan bahwa fokus utama pembicaraan tetaplah pada garis besar pembangunan daerah.
Estafet Pikiran untuk PALI
Bagi Ubaidillah, kehadiran Heri Amalindo sebagai peletak fondasi PALI dan Asgianto sebagai nakhoda saat ini, merupakan simbol estafet kepemimpinan yang sehat. Tidak ada ego sektoral; yang ada hanyalah diskusi mengenai arah pembangunan PALI ke depan agar tidak kehilangan momentum.
“Saya ikut bangga menyaksikan pertemuan ini. Ada transfer pengalaman dan visi. Fokusnya jelas: bagaimana pembangunan PALI tidak hanya sekadar berjalan, tapi melesat lebih maju lagi,” tambahnya dengan nada lugas.
Opini: Simbolisme di Tengah Kritik
Pertemuan ini menjadi kontras yang menarik di tengah kritik tajam mengenai aksesibilitas ruang publik dan transparansi yang belakangan kerap disuarakan. Dengan duduk bersama, kedua tokoh ini seolah ingin meruntuhkan tembok eksklusivitas yang seringkali menjadi sekat antara pemimpin dan realitas masyarakat.
Ubaidillah menegaskan bahwa momen halal bihalal ini harus menjadi titik balik. “Tidak ada pembicaraan yang terlalu spesifik atau rahasia, namun yang pasti, frekuensi keduanya sama: PALI harus lebih baik. Ini adalah momen maaf-memaafkan yang nyata, yang kita harap menular hingga ke akar rumput,” tutupnya.
Pertemuan Asgianto dan Heri Amalindo di bawah pengamatan Ubaidillah ini memberikan sinyal positif: bahwa di atas segala syahwat politik, kepentingan Kabupaten PALI tetap menjadi panglima tertinggi.
Laporan: Efran | Editor: tintamerah.co















