Memasuki Panen Raya, Petani Beras di Sumsel Malah Sengsara

Jumat, 26 Maret 2021 - 05:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PALEMBANG|Tintamerah.co.id-
Harga gabah dan beras petani anjlok saat memasuki musim panen raya dari beberapa Kabupaten di Sumsel. Sayangnya saat Sumsel mengalami surplus beras, malah membuat para petani padi di Sumsel sengsara. Pasalnya, harga jual Gabah Kering Panen (GKP) di Sumsel menurun drastis dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

H Arkoni MD Sip selaku Direktur Utama (Dirut) PT Sriwijaya Agro Industri (SAI) mengatakan, dukungan semua pihak untuk PT SAI agar jangan sampai Bulog dikendalikan oleh perusahaan- perusahaan swasta tetapi lebih banyak bekerjasama dengan BUMD.

“Beras itu jangan sepenuhnya kepada mekanisme pasar, tetapi bagaimana peran Bulog dan BUMD seperti PT SAI bisa mengambil peran dominan dalam distribusi dan penyangga harga Gabah,” ujar Arkoni saat diwawancara usai diskusi publik di Cafe Roca Palembang, Kamis (25/3/2021).

BACA JUGA  Gubernur Apresiasi Kapolda Sumsel, Andil Dalam Penyediaan Oksigen Dan Disinfektan Untuk Memerangi Covid 19

Ir Yulian Junaidi MSi selaku Akademisi Universitas Sriwijaya (Unsri) menanggapi tentang kenaikan anjloknya harga padi dan beras bagi petani di Sumsel.

“Beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni perlu pergeseran paradigma dari Ketahanan pangan menjadi kedaulatan pangan, Reforma Agraria dijalankan terintegrasi dengan pemenuhan pangan Nasional, distribusi pangan tidak boleh diserahkan pada ekonomi pasar yang Liberal,” singkatnya.

Usai Diskusi, Anggota DPRD Komisi II Sumsel, Azmi Shofix SR Sip mengatakan, sesuai diskusi yang digelar pada hari ini dengan tema Impor beras petaka berulang bagi petani.

“Inikan sudah menjadi masalah yang berulang- ulang, Sumatera Selatan adalah lumbung pangan Nasional jadi permasalahan ini yang artinya petaka bagi petani adalah dengan adanya isu impor beras, itu dijadikan alat atau bahan bagi korporasi- korporasi besar untuk menekan harga pembelian ditingkat petani,” ujar Asmi.

BACA JUGA  Ketua PPDI Kecamatan Banyuasin III Resmi Dikukuhkan

Asmi mengungkapkan, dalam satu sisi Bulog tidak maksimal melakukan penyerapan sebagaimana fungsinya, yang harusnya menyerap beras petani tetapi tidak melakukan fungsinya secara penuh yang akhirnya petani menjual kepada sektor swasta.

“Isu impor ini akhirnya membuat sektor swasta berspekulasi menurunkan harga ditingkat petani dari 30 sampai 40 persen dari harga yabg ditetapkan Pemerintah,” ungkap Azmi.

Sementara itu Sekretaris Serikat Tani Nelayan (STN) Ki Edi Susilo menanggapi terkait impor beras yang menjadi malapetaka bagi petani.

“Di posisi petani, harga beras itu cukup murah. Artinya dampak yang diberikan Pemerintah dalam mengimpor beras cukup signifikan, sementara di sentra- sentra beras di Sumsel ini sedang panen. Sebagai contoh di OKU Timur sudah berjalan 50 persen, dan sentra- sentra beras yang empat sampai lima hari ini sedang panen serta sentra- sentra beras lainnya di Sumsel,” kata Ki Edi.

BACA JUGA  Megawati Resmikan Kantor DPC PDI Perjuangan OKU Timur Secara Virtual

Lanjut Ki Edi, jika keadaan seperti ini terus berlanjut maka hal tersebut menjadi malapetaka buat petani.

“Petani sangat dirugikan, kita juga meminta ada tindakan signifikan untuk menyerap gabah dan beras petani dengan HPP. Sudah ada undang- undangnya bahwa Negara wajib membeli beras petani sesuai HPP, dan Bulog harusnya melakukan penyerapan itu. Kami mendukung BUMD PT SAI untuk menyerap gabah- gabah petani, jangan impor beras lagi. Berdayakan BUMD dan Bulog untuk menyerap hasil petani,” pungkas Ki Edi. (Hanny)

Berita Terkait

Menolak Senja Menjadi Ringkih: Asa Sehat Lansia Pangkul di Hari Tua
Satu Tahun Tanpa Kejelasan, 26 Finalis Bujang Gadis PALI 2025 Protes Keras: Kami Dirugikan Waktu, Biaya, dan Mental!
Makan Uang Negara dari Dua Kaki: Oknum Guru P3K di PALI Kebal Hukum, Kepsek Tutup Mata!
OPINI: May Day 2026 dan “Sinyal Darurat” Ketenagakerjaan: Akankah Buruh Hanya Menjadi Penonton Era AI?
Kontras Insting Penguasa PALI: Rp4,2 Miliar untuk Kenyamanan “Bokong” Pejabat, Sementara Guru Bergelut Lumpur di Desa Benuang
OPINI: May Day 2026 dan Sinyal SOS Hubungan Industrial Indonesia
Jejak Inovasi Sosial PHR Zona 1: Bawa Produk Batik Lapas Jambi ke Level Global
Herman Deru Tabuh Genderang Perang: Desa Bersinar Sumsel Harus Jadi Benteng Anti-Narkoba Nasional!
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:16 WIB

Menolak Senja Menjadi Ringkih: Asa Sehat Lansia Pangkul di Hari Tua

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:17 WIB

Satu Tahun Tanpa Kejelasan, 26 Finalis Bujang Gadis PALI 2025 Protes Keras: Kami Dirugikan Waktu, Biaya, dan Mental!

Sabtu, 16 Mei 2026 - 07:54 WIB

Makan Uang Negara dari Dua Kaki: Oknum Guru P3K di PALI Kebal Hukum, Kepsek Tutup Mata!

Jumat, 8 Mei 2026 - 21:29 WIB

OPINI: May Day 2026 dan “Sinyal Darurat” Ketenagakerjaan: Akankah Buruh Hanya Menjadi Penonton Era AI?

Rabu, 6 Mei 2026 - 20:35 WIB

Kontras Insting Penguasa PALI: Rp4,2 Miliar untuk Kenyamanan “Bokong” Pejabat, Sementara Guru Bergelut Lumpur di Desa Benuang

Berita Terbaru