Memulai Verstehen dalam Kampanye pada PILKADA 2024

Rabu, 23 Oktober 2024 - 07:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasangan calon bupati dan wakil bupati PALI
(Dok/KPUD PALI)

Pasangan calon bupati dan wakil bupati PALI (Dok/KPUD PALI)

PALI | Tintamerah.co.id -, Pemilihan Kepala Daerah atau PILKADA akan dilaksanakan pada November mendatang. Sekian banyak gambar calon telah ditampilkan mengisi berbagai ruang publik untuk menduduki posisi kepala daerah masing-masing. Beserta slogan yang memberikan gambaran tentang visi misi seolah menjadi janji ketika mereka terpilih.

Seperti biasa pada geleran PILKADA terdahulu, masa kampanye senantiasa diisi dengan berbagai panggung hiburan, di antaranya diisi para calon kepala daerah dengan berbagai menyapa masyarakat terutama para pendukungnya di sana. Masa kampanye menjadi tahapan terpenting untuk mengenal dan memperkenalkan para calon. Sehingga membutuhkan ongkos yang tidak murah sebab akan memakan biaya akomodasi, transport dan tetek-bengeknya.

Pemimpin bermakna penanggung beban rakyat yang dipimpin maka disebut wali atau yang bertanggungjawab terhadap urusan orang yang dipimpinnya. Maka memahami persoalan serta kebutuhan rakyat adalah suatu yang an sich. Pemimpin secara simbol menjadi representasi rakyatnya.

Harga yang setara dengan gambaran tentang pemimpin di atas adalah sosok yang mengalami secara sesungguhnya. Dia adalah di antara orang yang hidup di tengah-tengah mereka. Memiliki pengetahuan dan pemahaman sebab lahir dari kehidupan bersama-sama mereka. Sehingga perkenalan terhadapnya tidak sebatas simbolik kepala daerah. Begitu pun terhadap persoalan yang dihadapi yaitu dengan metode verstehen.

BACA JUGA  Diskominfo Aceh Timur Gelar Pelatihan Pemasaran Digital Dasar

Verstehen sebagai model kampanye

Pemimpin yang lahir, tumbuh dan berkembang bersama-sama masyarakat memiliki karakter sebagai repsrentasi rakyat sesungguhnya, baik pengetahuan, kejiwaan sampai harapan akan kebaikan bersama. Verstehen mensyaratkan kesejatian. Esensi atau hakikat dari suatu kenyataan dalam kehidupan sehari-hari menjadi intinya.

Kampanye politik adalah bagian dari cara bahkan dapat sekedar ceremoni. Suatu tahapan perkenalan baik kepribadian, program sampai pelayanan sebagai pemimpin tanpa mendistorsi inti. Kesungguhan akan pemahaman termanifestasi dalam sosok pemimpin ala verstehen bukan ala kampanye politik praktis belaka.

Sebagai bagian dari produk pemikiran manusia, verstehen dalam politik bukan metode populer. Sebagaimana sifatnya, metode politik yang banyak digandrungi adalah kepraktisannya. Suatu kesalahan jika persepsi politik berkutat pada orientasi materi, hingar-bingar pesta sesaat yang akan berujung pada kepemimpinan dalam periode yang panjang.

Sosok Bervisi Profetik

Janji kampanye bernuansa dunia sudah banyak dan seringkali terulang seiring waktu. Komitmen dalam bingkai hukum nampaknya tidak memberi kepastian untuk memenuhi apa yang menjadi alasan masyarakat memilih para pemimpin selama ini. Maka dibutuhkan suatu kesungguhan, komitmen tersebut akan teruji secara sesungguhnya melalui visi ala nabi.

Tidak banyak, bahkan belum pernah ada calon pemimpin sampai pemimpin terpilih selama ini yang secara tegas menyatakan membawa visi kepemimpinan profetik. Padahal profetik adalah karakteristik yang jelas dan dapat diuji oleh setiap orang, baik kepribadian pemimpin, semangat, sampai program kerjanya.

BACA JUGA  Pelaku Pencabulan Terhadap Mahasiswa Perguruan Tinggi di Palembang Diamankan Subdit IV PPA Ditreskrimum Polda Sumsel

Pada karakter profetik, pemimpin dapat menjawab persoalan dan persoalan masyarakat secara sesungguhnya. Karakter khas kesucian profetik atau kenabian selain memang dibutuhkan, juga kenyataannya sulit ditemukan. Maka pemimpin Bervisi profetik adalah ideal.

Sosok pemimpin identik dengan kepemimpinan yang mengemban tanggungjawab sebagai pimpinan di bawah pengawasan Tuhan. Ketaatan kepadanya termasuk ketaatan kepada Tuhan. Maka pemimpin dengan karakter yang dekat dengan Tuhan, sebagai representasi hubungan masyarakat yang dipimpinnya dengan Tuhan.

Dialah pemimpin berkarakter profetik. Sebab tidak semua pengembangan visi profetik/kenabian sedia untuk sekaligus memimpin masyarakat sebagai warga suatu negara, menjadi pemimpin bervisi profetik adalah istimewa. Keprofetikan menjadi karakter ideal atau tentunya diidam-idamkan orang. Bayangkan saja suatu daerah dipimpin oleh orang berkarakter demikian, tentu banyak yang akan menuju ke wilayah tersebut untuk menjadi warganya.

Idealitas dan Harapan

Meski tidak mudah bukan berarti tidak mungkin! Sejarah menunjukkan seorang manusia dengan kepribadian mulia pernah memimpin suatu negara sekaligus membentuk administrasi di sana, Madinah oleh Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa Sallam di zamannya. Keadilan dijunjung sedemikian rupa. Tidak hanya terhadap umatnya, namun juga kelompok di luar agamanya mengakuinya hingga saat sekarang. Semua orang ridho dengan kepemimpinnya. Berprasangka baik lah!

BACA JUGA  Tingkatkan Keselamatan Masyarakat, PTBA Bantu Pembangunan 4 Palang Pintu Kereta

Di tengah banyaknya fenomena orang-orang, berusaha mengikuti jejak dengan mencontoh suri teladan tersebut, di zaman sekarang merupakan kesempatan untuk menciptakan zaman yang dikenal dalam sejarah dengan istilah zaman keemasan atau potret kehidupan ideal, pantas diharapkan dan bukan sosok berkepribadian yang menyusahkan. Tetap harus optimis!

Secara perlahan, metode yang disebut sepanjang peradaban manusia dengan verstehen mengarah kepada metode dalam pemilihan pemimpin ke arah ideal di atas dapat menghasilkan pemimpin terpilih yang an sich tersebut, selain menjadi cikal bakal metode untuk terus dikembangkan dalam memilih pemimpin, untuk dapat dimulai melalui PILKADA, ya tahun ini!

Kampanye menjadi bagian dari ceromi politik dalam PILKADA, berulang dan cenderung formalitas dan bersifat pemubadzdziran. Adakah cara lain untuk mengenal calon kepala daerah yang tepat, ideal dan sesuai harapan? Artikel ini membahas verstehen sebagai metode untuk memilih pemimpin dalam arti sesungguhnya. Sosok yang lahir, hidup, dan akan berjuang bersama rakyat yang dipimpinnya. Kepala daerah yang bukan hanya simbol pemimpin politik namun menjadi penanggungjawab terhadap urusan rakyatnya dan pantas mengemban harapan-harapan mereka terhadap seorang pemimpin.

Editor: Efran

Berita Terkait

Di Tengah Badai Hukum Wabup, Misteri ‘Menghilangnya’ Bupati PALI Terjawab: Asgianto Tumbang Diserang ISPA di Palembang
Tak Sekadar Omon-Omon: Kadis LH PALI Sukses Gol-kan Kontrak Sumur Minyak Pertamina!
Gas Melon Langka dan Mahal, Kadisperindag PALI: Kami Tidak Punya Taji!
Menolak Senja Menjadi Ringkih: Asa Sehat Lansia Pangkul di Hari Tua
Satu Tahun Tanpa Kejelasan, 26 Finalis Bujang Gadis PALI 2025 Protes Keras: Kami Dirugikan Waktu, Biaya, dan Mental!
Makan Uang Negara dari Dua Kaki: Oknum Guru P3K di PALI Kebal Hukum, Kepsek Tutup Mata!
OPINI: May Day 2026 dan “Sinyal Darurat” Ketenagakerjaan: Akankah Buruh Hanya Menjadi Penonton Era AI?
Kontras Insting Penguasa PALI: Rp4,2 Miliar untuk Kenyamanan “Bokong” Pejabat, Sementara Guru Bergelut Lumpur di Desa Benuang

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:05 WIB

Di Tengah Badai Hukum Wabup, Misteri ‘Menghilangnya’ Bupati PALI Terjawab: Asgianto Tumbang Diserang ISPA di Palembang

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:22 WIB

Tak Sekadar Omon-Omon: Kadis LH PALI Sukses Gol-kan Kontrak Sumur Minyak Pertamina!

Senin, 15 Juni 2026 - 06:40 WIB

Gas Melon Langka dan Mahal, Kadisperindag PALI: Kami Tidak Punya Taji!

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:16 WIB

Menolak Senja Menjadi Ringkih: Asa Sehat Lansia Pangkul di Hari Tua

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:17 WIB

Satu Tahun Tanpa Kejelasan, 26 Finalis Bujang Gadis PALI 2025 Protes Keras: Kami Dirugikan Waktu, Biaya, dan Mental!

Berita Terbaru