Senjakala Watchdog PALI: Antara Kenyang, Lelah, Takut, atau Moral yang Runtuh?

Jumat, 27 Februari 2026 - 23:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi foto AI. (Dok/tintamerah)

Ilustrasi foto AI. (Dok/tintamerah)

tintamerahNEWS -, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, yang lahir dari semangat reformasi birokrasi dan percepatan pembangunan, kini tampaknya sedang memasuki fase “hening”. Di tengah hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur dan dinamika politik lokal yang kental dengan nuansa kekerabatan (dinasti), ada satu elemen penting yang perlahan sirna: taji para aktivis sebagai watchdog (pengawas) kekuasaan.

Dahulu, suara kritis membubung tinggi di bumi Serapat Serasan. Baik aktivis senior pendahulu maupun gelombang aktivis baru, kerap menjadi momok bagi penyalahgunaan wewenang. Namun, di mana mereka sekarang? Mengapa saat kebijakan publik terasa jomplang, atau saat transparansi anggaran dipertanyakan, suara mereka seperti tertelan sunyinya hutan karet?

Apakah mereka takut? Apakah sudah kenyang? Ataukah tak peduli lagi, atau sekadar lelah? Pertanyaan ini memantik refleksi mendalam mengenai runtuhnya moral demokrasi  di Bumi Serepat Serasan.

BACA JUGA  Warga Panca Usaha Infaqkan Ratusan Al-Quran, Diroadshow Dakwah Habib Ahmad Al Habsyi

Antara Kenyang dan Terkooptasi

Fenomena “kenyang” adalah asumsi paling umum ketika seorang aktivis mendadak diam. Ketika idealisme ditukar dengan posisi komisaris di BUMD, jabatan staf khusus, atau proyek-proyek penunjukan langsung, maka sirnalah tajinya. Aktivis yang dahulu berdiri di jalanan membela rakyat, kini duduk nyaman di ruang ber-AC, menjadi bagian dari sistem yang dulu mereka kritik. Ini bukan sekadar lelah, tapi sebuah pengkhianatan terhadap moralitas aktivisme.

Lelah dan Takut (Kriminalisasi)

Di sisi lain, harus diakui bahwa menjadi pengawas di tingkat kabupaten memiliki risiko tinggi. Kriminalisasi aktivis lingkungan atau vokal (sebagaimana marak terjadi di berbagai daerah) menciptakan efek gentar. Ketika aktivis vokal diseret ke ranah hukum dengan pasal-pasal hasutan, aktivis baru mungkin memilih jalan “aman” atau “lelah” bertarung melawan raksasa kekuasaan yang didukung modal.

BACA JUGA  Wujudkan Ketahanan Pangan Saat Pandemi, Thia Ajak KWT Muba Lakukan Inovasi

Ketidakpedulian dan Runtuhnya Moral Demokrasi

Namun, yang paling memprihatinkan adalah sikap “tak peduli lagi”. Ketika aktivisme hanya dijadikan batu loncatan untuk masuk ke lingkaran kekuasaan, maka ketika tujuan tercapai, perjuangan dihentikan. Ini menunjukkan runtuhnya moral demokrasi. Demokrasi hanya dianggap prosedural (pemilu), bukan substansial (pengawasan kekuasaan).

Menakar Ulang Masa Depan

PALI membutuhkan aktivis yang tidak “kenyang” oleh jabatan, yang tidak mudah ditakuti oleh aparat, dan tidak gampang lelah. Watchdog bukan berarti membenci pemerintah, melainkan memastikan pemerintah berjalan di koridor kepentingan rakyat.

Jika aktivis pendahulu sudah lelah dan aktivis baru sudah kenyang, siapa yang akan bersuara saat lingkungan rusak atau uang rakyat diselewengkan? Runtuhnya moralitas aktivis adalah awal dari hancurnya demokrasi. Kita butuh oase baru, generasi aktivis yang kembali ke khitah: vokal, jujur, dan tak terkooptasi.

 

BACA JUGA  Jembatan Penghubung Antar Desa di Pedalaman Penaron Aceh Timur Rusak Parah

Oleh: Efran

Berita Terkait

Jejak Inovasi Sosial PHR Zona 1: Bawa Produk Batik Lapas Jambi ke Level Global
Herman Deru Tabuh Genderang Perang: Desa Bersinar Sumsel Harus Jadi Benteng Anti-Narkoba Nasional!
Gas Pol! Pasca Dilantik, Kadis PU Lahat Jefran Azsyapputra Langsung Kawal MoU Strategis Perbaikan Jalan
Hijrah ke Bumi Seganti Setungguan, Mantan Kadis PUTR PALI Jefran Azsyapputra Ikuti Gladi Pelantikan Kadis PU Lahat
Jefran Azsyapputra Dijadwalkan Dilantik Jadi Kadis PU Lahat Hari Ini
Ledakan Ekonomi Malam Hari: Ratu Dewa & Herman Deru Sulap Jalan Atmo Jadi Pusat Magnet Wisata Baru!
Gerak Cepat! Polrestabes Palembang Buru Predator Anak di Gandus, Polda Sumsel: Tidak Ada Toleransi!
PALI DARURAT WIBAWA! Aturan Gubernur Jadi “Keset” Kaki PT BSE, DPRD PALI Ngamuk: “Dishub Jangan Jadi Pelayan Cukong, Sikat Tanpa Pandang Bulu!”

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 12:48 WIB

Jejak Inovasi Sosial PHR Zona 1: Bawa Produk Batik Lapas Jambi ke Level Global

Kamis, 23 April 2026 - 12:58 WIB

Herman Deru Tabuh Genderang Perang: Desa Bersinar Sumsel Harus Jadi Benteng Anti-Narkoba Nasional!

Rabu, 22 April 2026 - 13:12 WIB

Gas Pol! Pasca Dilantik, Kadis PU Lahat Jefran Azsyapputra Langsung Kawal MoU Strategis Perbaikan Jalan

Selasa, 21 April 2026 - 09:49 WIB

Hijrah ke Bumi Seganti Setungguan, Mantan Kadis PUTR PALI Jefran Azsyapputra Ikuti Gladi Pelantikan Kadis PU Lahat

Selasa, 21 April 2026 - 09:25 WIB

Jefran Azsyapputra Dijadwalkan Dilantik Jadi Kadis PU Lahat Hari Ini

Berita Terbaru