tintamerahNEWS -, Mentari mulai condong ke ufuk barat di Simpang Bandara, Kelurahan Handayani Mulya. Di sebuah sudut hangat Rumah Makan Sejahtera, Sabtu (7/3/2026), suasana cair menyelimuti pertemuan antara tokoh sentral Bumi Serepat Serasan, H. Heri Amalindo, dengan puluhan jurnalis lokal.
Pertemuan bertajuk Silaturahmi Ramadhan 1447 H ini bukan sekadar seremoni buka puasa bersama. Lebih dari itu, ini adalah momen “pulang” bagi seorang sosok yang dianggap orang tua oleh insan pers di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Bagi mantan Bupati PALI dua periode yang kini menakhodai Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sumatera Selatan ini, pengabdian tidak mengenal kata titik. Baginya, kata “pensiun” hanyalah sebuah pembatasan administratif, bukan akhir dari sebuah kontribusi.
Politeknik PALI: Legasi Pendidikan untuk Rakyat
Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan dalam diskusi tersebut adalah progres pembangunan Politeknik PALI. Heri menegaskan bahwa mimpinya untuk menjadikan PALI sebagai pusat pendidikan bukanlah isapan jempol semata.
“Aku mimpi besarnya, PALI ini jadi Pusat Pendidikan. Rencana dulu bahkan ingin kerja sama dengan pihak luar negeri seperti Amerika hingga Belanda untuk fakultas hukumnya,” ujar Heri dengan mata berbinar.
Meski menghadapi beberapa kendala fisik terkait standarisasi ruang belajar yang harus lebih representatif sesuai standar Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI), Heri optimis target operasional sudah di depan mata.
- Target Operasional: Tahun 2026 (Semester depan).
- Program Studi Awal: Sosial Ekonomi, Hukum dan Pertanian.
- Visi Utama: Menciptakan lulusan D4 Terapan yang siap kerja dan melek hukum.
“Kenapa ambil terapan? Supaya mereka bisa langsung kerja. Masyarakat kita juga tidak boleh buta hukum. Inilah bentuk nyata perjuangan untuk pendidikan rakyat,” tambahnya.
Filosofi “Tiada Kata Pensiun”
Menjawab pertanyaan mengenai masa pensiun yang biasanya dinikmati dengan bersantai, Heri memberikan jawaban filosofis yang mendalam. Mengutip pesan agama untuk menuntut ilmu hingga ke liang lahat, ia memilih untuk tetap produktif.
“Pensiun itu kalau sudah di liang kubur. Selagi sehat, kita harus tetap berpikir. Kalau hanya di rumah saja, saraf bisa menyempit dan jadi linglung. Saya lebih memilih membaca, riset di YouTube atau TikTok tentang cara membuat kompos, atau mengelola sampah. Itu semua untuk lingkungan kita juga,” jelasnya.
Nahkoda Baru di PSI: Memulai dari Bawah
Langkah politiknya memilih PSI sebagai kendaraan baru sempat memancing rasa penasaran. Heri dengan lugas menjelaskan bahwa ia melihat peluang besar untuk berkreativitas di partai ini.
Ia tidak silau dengan partai besar yang sudah “mapan”. Sebaliknya, ia merasa lebih tertantang untuk membangun dari nol, sebagaimana ia dulu membangun infrastruktur PALI yang kini telah jauh lebih baik.
“Di PSI, kami ingin berkarya lagi. Visi utamanya satu: menyejahterakan rakyat melalui infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Kami mulai dari bawah, perlahan tapi pasti, seperti dulu kita membangun PALI,” tegas Ketua DPW PSI Sumsel ini.
Sentuhan Kekeluargaan
Di akhir pertemuan, suasana haru sempat menyelimuti ketika Heri menekankan pentingnya silaturahmi. Pernyataannya yang menyebut para wartawan sebagai “anak-anakku” memberikan kesan mendalam.
Bagi para pemburu berita di PALI, sore itu bukan sekadar sesi wawancara dengan narasumber. Itu adalah momen kembalinya sosok “orang tua” yang memiliki niat tulus untuk terus menetap dan membangun tanah kelahirannya, demi masa depan generasi muda PALI yang lebih cerah melalui jalur pendidikan.
Oleh: Efran















