tintamerahNEWS -, Di teras rumahnya yang asri di kawasan Km 10, Kota Pendopo, PALI, sosok itu tak lagi mengenakan seragam dinas yang kaku. Dengan setumpuk buku lama di hadapannya dan jemari yang sesekali masih berlumur tanah sehabis berkebun, Heri Amalindo tampak menikmati masa purnatugasnya. Namun, meski hiruk-pukuk birokrasi telah mereda, semangatnya membangun daerah tak pernah benar-benar padam.
“Dulu, waktu tugas negara masih padat, baca buku itu cuma selintas-selintas. Sekarang, waktunya mengingat lagi, mencatat lagi, dan yang terpenting, mendekatkan diri pada ibadah,” ujarnya membuka percakapan dengan nada bicara yang tenang namun berwibawa saat dibincangi tintamerah.co di ruang kerjanya, Jumat (6/3/2026).
Membangun di Atas Keterbatasan: Pilihan Antara “Makan” atau “Rumah”
Mengenang awal berdirinya Kabupaten PALI pada 2013, Heri mengibaratkan posisinya saat itu seperti seorang kepala keluarga yang harus memilih prioritas di tengah kemiskinan ekstrem. Saat dilantik menjadi Penjabat (PJ) Bupati, infrastruktur jalan di PALI hanya menyentuh angka 15% yang layak dilewati.
“Ibaratnya, kita pilih makan dulu atau rumah dulu? Kalau pilih rumah mewah tapi perut lapar, itu gila. Maka, saya pilih bangun jalan dulu, bukan kantor bupati yang mewah,” kenang Heri.
Keputusan itu bukan tanpa kritik. Banyak yang mencibir PALI sebagai kabupaten tanpa kantor megah. Namun bagi Heri, kemewahan pejabat adalah pengkhianatan di tengah rakyat yang masih mencuci kaki di depan sekolah karena jalanan yang berlumpur.
“Tahun 2013, anak-anak sekolah di Talang Ubi atau Tanah Abang itu sepatunya diletakkan di luar kelas supaya lantai tidak kotor oleh lumpur dari jalanan. Itu yang saya pikirkan. Kantor bisa sewa, yang penting rakyat bisa jalan,” tegas Heri.
Kepemimpinan Berbasis “Adab Orang Tua”
Satu hal yang paling mencolok dari gaya kepemimpinan Heri Amalindo adalah penolakannya untuk disebut sebagai “pemimpin”. Ia lebih memilih memposisikan diri sebagai “Orang Tua” bagi masyarakat PALI.
Filosofi ini ia terapkan dalam menghadapi dinamika masyarakat yang beragam. “Anak itu macam-macam; ada yang disuruh langsung nurut, ada yang harus dipukul dulu baru belajar. Tapi sebandel apa pun, mereka tetap anak kita. Tidak mungkin kita matikan atau kita siksa. Orang tua itu mendahulukan kesenangan anak baru dirinya sendiri,” jelas Heri.
Prinsip inilah yang menurutnya membuat PALI tetap kondusif selama satu dekade kepemimpinannya. Ia mengaku tak pernah merasa hebat sendirian. Baginya, keberhasilan PALI adalah buah dari kerja kolektif antara pemerintah, ulama, LSM, wartawan, hingga petani.
Melawan Sifat “Keakuan”
Heri sangat menekankan pentingnya adab dan kerendahan hati. Mengutip nilai-nilai agama yang kini makin rajin ia dalami, ia mengingatkan tentang bahaya sifat sombong atau “keakuan”.
“Iblis itu ilmunya luar biasa, melebihi manusia. Tapi kenapa dia celaka? Karena sifat ‘Aku lebih hebat dari dia’. Itu yang saya bunuh dalam diri saya. Saya bukan Superman. Saya butuh orang lain, butuh kiai karena saya bukan ulama, butuh ahli sipil, butuh masyarakat,” tutur Heri dengan penuh refleksi.
Ia pun berpesan kepada siapa pun yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan, agar tidak terjebak dalam politik uang. Ia bangga karena selama ini merasa didukung masyarakat karena kinerja, bukan karena membeli suara. “Hukum masyarakat itu berat. Kalau kita bohong, sampai anak cucu kita akan diingat sebagai pembohong.”
Menikmati Masa Pensiun di Tanah Sendiri
Kini, hari-hari Heri Amalindo diisi dengan rutinitas yang sederhana namun bermakna. Pagi hari ia habiskan untuk bertani di halaman rumahnya di PALI—sebuah hobi lama yang menjadi alasan mengapa ia lebih betah tinggal di tempat yang lebih dikenal warga PALI ‘Kebon’ ketimbang di Palembang.
“Halaman tidak lebar, tapi cukup untuk bercocok tanam. Siang harinya, baru baca-baca lagi,” kata Heri sambil tersenyum.
Melihat PALI sekarang dengan lampu jalan yang terang di Simpang Lima, restoran yang mulai menjamur, dan akses jalan yang terbuka, Heri merasa tugasnya telah dijalankan dengan maksimal sesuai kapasitasnya. Ia meninggalkan warisan berupa fondasi infrastruktur dan, yang lebih penting, sebuah teladan tentang bagaimana menjadi pemimpin yang memiliki hati seorang ayah.
Oleh: Efran















