Festival Celeng Srenggi Digelar Besok di Taman Budaya Jakabaring

Sabtu, 4 Februari 2023 - 12:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Palembang | Tintamerah.co.id – Dalam rangka ikut melestarikan budaya bangsa, Ravinda-Pro bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), akan mengadakan Gelar Seni Budaya Nusantara yang dikemas dalam “Festival Celeng Srenggi”.

Hal itu dikatakan Sulaiman, Ketua Pelaksana kegiatan melalui press reelase-nya yang dikirim, ke redaksi, Sabtu (4/2/2023)

Lebih lanjut, Sulaiman menyebutkan, acara ini akan digelar pada Hari Sabtu dan Minggu Tanggal 18 dan 19 Februari 2023, Pukul 08.30 – 16.30 WIB Graha Budaya Jakabaring Palembang Jalan Seniman Amir Yahya, Jakabaring, 22 ilir Palembang.

Menurut Sulaiman, sejumlah lembaga lain yang juga turut mendukung acara ini, diantaranya Pengurus Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma) dan Pengurus Persatuan Pedalangan Indoensia (Pepadi) Kabupaten Banyuasin yang bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kabupaten (Pemkab) Banyuasin.

Sulaiman menjelaskan, pada pembukaan dan penutupan nanti akan menampilkan Seni Tari Kuda Lumping dan Seni Tari Rampak Barong.

Kuda Lumping di menurut sejumlah sumber disebutkan, suatu jenis tarian yang sangat terkenal di Jawa. Tarian Kuda Lumping, menggunakan kuda yang terbuat dari bambu atau bahan lainnya yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Dalam rumbai kuda itu, dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang, sehingga pada masyarakat jawa sering disebut sebagai jaran kepang.

BACA JUGA  KASAD Resmikan Agrowisata Tekno 44 Banyuasin Sumsel

Asal muasal tarian kuda lumping
Dilansir asalmuasal.com, dibalik maknanya yang menerangkan sifat manusia, berdasarkan sejarahnya tarian ini mempunyai asal muasal yang masih belum diketahui dengan pasti.

Dilansir dari selasar.com, tarian kuda lumping mempunyai cerita banyak versi yang beredar di masyarakat. Dari sekian banyaknya versi tersebut, 5 diantaranya merupakan yang paling populer.

Versi Pertama; berdasarkan versi ini ada yang menyebutkan, tarian kuda lumping sudah ada sejak zaman purba. Dimana waktu masa itu tarian tersebut digunakan dalam upacara adat atau ritual-ritual yang bersifat magis.

Versi kedua; mengatakan tarian tersebut merupakan salah satu bentuk apresiasi dari rakyat untuk perjuangan dari Pangen Diponegoro beserta pasukan kudanya yang berperang melawan dan mengusir penjajah.

Versi ketiga; dikatakan bahwa asal mula tarian kuda lumping ini merupakan gambaran atas perjuangan Raden Patah beserta dengan Sunan Kalijaga dan pasukannya yang kala itu mengusir penjajah dari Nusantara.

BACA JUGA  Ratusan Masyarakat Dan Prajurit Sholat Idul Fitri 1444 H Bersama di Makodam II/Sriwijaya

Versi keempat; menyebutkan tarian kuda lumping berdasarkan dari penggambaran proses latihan pasukan perang Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono I dalam menghadapi Belanda.

Versi kelima; agak berbeda dengan versi sebelumnya. Di versi ini dikatakan bahwa tarian kuda lumping berasal dari cerita tentang seorang raja dari tanah Jawa yang sangat sakti.

“Namun, apapun versinya, kuda lumping termasuk kesenian dari Indonesia yang sudah berada sejak zaman dahulu,” tegas Sulaiman.

Tari Rampak Barong
Di beberapa sumber menybeutkan, Tari Rampak Barong, merupakan tarian yang berasal dari Jawa Timur dan telah meluas ke penjuru Jawa Timur dan luar Jawa Timur, dengan gaya khas yang berbeda tiap daerah. Termasuk di Sumsel.

Secara mendasar Tari Baromg merupakan tarian yang juga menggunakan topeng. Namun topeng yang digunakan topeng Barong. Tarian ini dilakukan secara berkelompok sehingga membutuhkan kekompakkan untuk keselarasan gerak dalam pementasannya. Maka secara tidak langsung, untuk melakukan tarian ini dibutuhkan gotong-royong gerak dalam melakukannya.

BACA JUGA  Permudah Akses Satgas TMMD ke-117 Terus Kebut Pembangunan Gorong-gorong

Melaui tema “Dengan pagelaran seni budaya nusantara, kita bangkitkan dan kembangkan
semangat masyarakat Ber-Adat dan Berbudaya” ini, Sulaiman menjelaskan, tujuan acara ini, untuk memotivasi pembentukan sikap terhadap adat dan seni budaya, khususnya di Sumsel.

Bagi para pegiat seni, Sulaiman menjelaskan acara ini sekaligus untuk mengembangkan semangat dalam pengembangan kesenian tradisi. “Satu hal terpenting, kegiatan seni tradisioinal ini sebagai benteng atau filter arus globalisasi budaya asing yang masuk ke negeri kita,” tegasnya.

Harapannya, melalui even ini adat budaya dapat lebih dikembangkan dengan baik dan menjadi ruh dalam tatanan bermasyarakat. “Secara sederhana, pagelaran seni budaya nusantara menjadi sebuah kegiatan menunjukkan eksistensi seni budaya tradisional.

Sulaiman juga menjelaskan, kegiatan ini merupakan ajang untuk menunjukkan kemampuan dalam mengembangkan dan memajukan seni budaya terutama seni yang berbasis nusantara.

“Selain itu dengan kegiatan ini, kita belajar untuk menghargai jasa para pelaku seni dan pecinta budaya asli bangsa Indonesia sebagai aset kebudayaan nasional yang bernilai luhur,” tambahnya. (RELEASE)

Berita Terkait

Wakil Ketua DPRD PALI Firdaus Hasbullah Nyatakan Perang Total Desak Pencabutan Mutlak Pergub Nomor 40 Tahun 2017 Demi Keadilan Bumi Serepat Serasan
“Pak De” Soemarjono Desak Pencabutan Pergub 40 Tahun 2017 Wajib Akomodasi PP Terbaru Demi Kepastian Hukum Pemkab dan Keadilan Rakyat PALI
Tegas dan Tanpa Kompromi! Firdaus Hasbullah Ungkap Pergub 40/2017 Tidak Punya Dasar Hukum, RSA PALI Siapkan Perlawanan Total
Bedah Regulasi Pergub 40/2017: Dhabi K Gumarya Luruskan Pemahaman Hukum dan “Transfer Knowledge” Soal Diskresi ke Aktivis PALI
Dhabi K Gumarya ke ‘Bos’ PGK PALI: Pergub 40/2017 Tidak Punya Cantelan Hukum dan Wajib Dicabut, Bukan Direvisi
Sengit Di Agam Pisan: Kupas Tuntas Tanya Jawab Sonny Ternando Dan Dhabi K Gumarya Bongkar Cacat Hukum Pergub 40/2017
Praktisi Hukum Sumsel Dhabi K Gumarya Tegaskan Pemangku Kebijakan dan Pertamina Wajib Tunduk Mutlak pada UU Nomor 2 Tahun 2012
Napak Tilas Kejayaan Migas PALI: Efran Tegas Dukung Survei Seismik BGP, Tapi Perang Total Cabut Pergub Usang!

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 12:55 WIB

Wakil Ketua DPRD PALI Firdaus Hasbullah Nyatakan Perang Total Desak Pencabutan Mutlak Pergub Nomor 40 Tahun 2017 Demi Keadilan Bumi Serepat Serasan

Jumat, 31 Juli 2026 - 07:22 WIB

“Pak De” Soemarjono Desak Pencabutan Pergub 40 Tahun 2017 Wajib Akomodasi PP Terbaru Demi Kepastian Hukum Pemkab dan Keadilan Rakyat PALI

Jumat, 31 Juli 2026 - 07:01 WIB

Tegas dan Tanpa Kompromi! Firdaus Hasbullah Ungkap Pergub 40/2017 Tidak Punya Dasar Hukum, RSA PALI Siapkan Perlawanan Total

Jumat, 31 Juli 2026 - 05:46 WIB

Bedah Regulasi Pergub 40/2017: Dhabi K Gumarya Luruskan Pemahaman Hukum dan “Transfer Knowledge” Soal Diskresi ke Aktivis PALI

Jumat, 31 Juli 2026 - 05:01 WIB

Dhabi K Gumarya ke ‘Bos’ PGK PALI: Pergub 40/2017 Tidak Punya Cantelan Hukum dan Wajib Dicabut, Bukan Direvisi

Berita Terbaru