Kisah Warga Binaan Medco E&P di Gajah Mati-Muba Tembus Omzet 30 Juta Per Bulan

Sabtu, 15 November 2025 - 21:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yuni Lusmita, warga binaan Medco E&P Indonesia berhasil mengembangkan tumbuhan herbal menjadi produk TOGA
(Foto: Efran)

Yuni Lusmita, warga binaan Medco E&P Indonesia berhasil mengembangkan tumbuhan herbal menjadi produk TOGA (Foto: Efran)

tintamerahNEWS -, Berawal dari hobi dan kecintaannya membuat ramuan jamu membuat Yuni Lusmita, seorang ibu rumah tangga berhasil mengembangkan berbagai tanaman herbal menjadi produk Tanaman Obat Keluarga (TOGA).

Ia merupakan perantau di pulau Sumatera tepatnya di Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, menjelma menjadi Srikandi Herbal. Yuni Lusmita memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumahnya untuk menanam berbagai jenis tumbuhan herbal. Ia telah meracik berbagai tumbuhan herbal sejak tahun 2011 silam, hingga kini telah menghasilkan 17 macam produk TOGA.

Produknya dipercaya mampu mengobati berbagai penyakit seperti diabetes, hipertensi, hepatitis, Lliver, koleterol, ambeien, batu ginjal, batuk, sakit pinggang dan masuk angin.

Pernah Cicip Omzet Puluhan Juta Rupiah per Bulan

Wabah Covid-19 yang melanda wilayah Kabupaten Musi Banyuasin pada tahun 2020 silam menjadi berkah tersendiri bagi Yuni Lusmita. Produk TOGA buatannya  dijadikan pemerintah daerah dan perusahaan untuk menjadi pencegah virus Corona. Karena, produknya dipercaya mampu meningkatkan sistem imunitas tubuh guna melawan infeksi. Saat itulah, Yuni Lusmita merasakan hasil kerja kerasnya selama hampir satu dekade dengan meraup omzet penjualan sebesar Rp 30 juta per bulan.

“Alhamdulillah saat itu rezeki buat saya, penjualan sampai 30 juta per bulan. Yang membeli produk saya dari Dinas Kesehatan (Musi Banyuasin) dan PT Hindoli,” terang Yuni.

Ia menyebut, PT Hindoli yang paling banyak membeli produknya karena seluruh karyawan perusahaan terpapar Covid-19.

“Karena di PT Hindoli itu yang paling banyak kena, seluruh karyawannya. Jadi dengan minum ramuan kita digunakan untuk penderita Covid,” ungkap Yuni.

Ia mengatakan selama wabah Covid-19 menyerang masyarakat di wilayahnya, selama itu pula pundi-pundi rezeki puluhan juta rupiah masuk kekantongnya. Namun demikian, Yuni mengungkap, omzetnya saat ini merosot tajam hingga ratusan ribu per bulan.

Kesuksesan Yuni Lusmita, Ada Medco E&P Indonesia Dibelakangnya

Keberhasilan Yuni Lusmita ini ternyata tidak lepas dari peran Medco E&P Indonesia dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang beroperasi di wilayah tersebut. Berbagai program Corporate Social Responsibility (CSR) diberikan perusahaan minyak dan gas bumi (migas) ini untuk mendukung pengembangan produk TOGA buatan ‘Emak-Emak’ yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Herbal Kenanga bersama Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Gajah Mati.

BACA JUGA  Diduga Tumpang Tindih SK Dishub Banyuasin, Tiga Jukir Nyaris Tewas Dibacok

“Nah, tinggal di Desa Gajahmati. Di Desa Gajahmati ini kebetulan ada kegiatan dari Medco yang usaha Medco ini istilahnya apa? Pipa. Pipa Medco ini melintasi Desa Gajahmati sehingga Medco membina,” kata Yuni saat ditemui tintamerah.co.id di kediamannya, Senin (27/10/2025).

“Membina ibu-ibu PKK-nya untuk kegiatan ini. Nah, dari situ kebetulan saya juga hobi istilahnya membuat jamu-jamu. Nah, dengan ada binaan ini saya mengikuti,” Yuni Lusmita menambahkan.

Yuni menceritakan awal mula perkenalannya dengan perusahaan yang dahulunya bernama PT Exspan Sumatera ini pada Juli 2011. Setelah assesment, kata Yuni, perusahaan baru menjalankan program dan kegiatannya pada akhir Desember 2011.

Ia mengaku banyak mendapat manfaat atas kepedulian Medco E&P Indonesia terhadap pemberdayaan ekonomi kepada masyarakat di sekitar wilayah operasinya, mulai kebutuhan keluarga hingga kesehatan.

“Kalau manfaatnya sih banyak. Sebenarnya kita juga bersyukur ya alhamdulillah dengan adanya kegiatan ini yang dibina sama Medco. Itu terutama untuk kebutuhan keluarga itu sudah tercukupi. Terutama buat kesehatan,” ujar Yuni.

Medco, ujar Yuni, juga memberikan bantuan berupa bibit tanaman herbal terutama yang tidak ada di sekitar desanya, peralatan produksi hingga pelatihan pembinaan cara bercocok tanam dan pembuatan pupuk alami.

Tak hanya itu, Yuni menyatakan, Medco juga memberikan bimbingan teknis hingga ke beberapa daerah di pulau Jawa.

“Nah, setelah itu juga, di samping itu kita diberi binaan untuk pelajaran keluar. Pelajaran keluar? Iya, diberi pelajaran keluar. Seperti kemarin itu di Bogor, di Tasik, di Jogja, di Jakarta,” ucap Yuni.

Dibesut Perusahaan Hingga Dapat Gelar Herbalis

Melihat potensi yang dimiliki Yuni Lusmita, Medco E&P Indonesia tak berhenti pada bantuan dan pembekalan. Medco berusaha memberikan kompetensi agar masyarakat lebih percaya dengan produk hasil karya Yuni Lusmita dengan mengirimnya bersama 15 peserta lainnya untuk menempuh ujian di Pusat Pengembangan Tanaman Obat Indonesia Karyasari, Jakarta pada Desember 2015.

Yuni Lusmita tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Berkat kegigihannya, ia menjadi peserta yang mewakili Kabupaten Musi banyuasin mendapat gelar Herbalis.

BACA JUGA  Kunjungan Tim Verifikasi Polda Aceh ke Polres Aceh Timur

“Pokoknya tidurnya itu dalam sehari selama satu jam. Satu jam? Iya, dalam satu minggu itu. Cara pengujiannya dengan ada yang ditutup mata, dengan ada perabaan rasa. Nah, setelah diuji, dites, alhamdulillah dari Muba mewakili saya,” ungkap Yuni.

Mendapat Bantuan Rumah Produksi

Setelah melihat perkembangan yang dihasilkan Yuni Lusmita, Medco tak segan menggelontorkan bantuan yang lebih besar kepadanya. Pada tahun 2022, perusahaan mendiang Arifin Panogoro itu memberikan bantuan rumah produksi. Bangunan ukuran 5×6 meter itu selesai pada tahun 2023.

“Rumah produksi ini tahun 2022, selesainya 2023. Itu terakhir, udah nggak ada bantuan lagi,” jelas Yuni.

Yuni menjelaskan, rumah produksi tersebut terbagi menjadi beberapa ruangan dari penyimpanan bahan mentah, pemilihan bahan, pengolahan, hingga produksi.

Selain itu, Yuni menyatakan, Medco menghadirkan tenaga ahli selama tiga hari untuk memberikan pelatihan cara membuat berbagai produk olahan TOGA di rumah produksinya.

Yuni menuturkan, rumah produksi tersebut merupakan bantuan terakhir yanng diberikan perusahaan yang telah membinanya selama belasan tahun.

“Itu. Terakhir, ya. Ini bangunan 5×6 kayaknya kurang lebih,” sebut Yuni.

Berikut 17 produk TOGA hasil karya Yuni Lusmita:

  1. Jahe Instan
  2. Kopi Jahe
  3. Sehat Lelaki
  4. Sijateng
  5. Temu Lawak Instan
  6. Paksuti
  7. Kunir Putih
  8. Kunyit Asem
  9. Kunyit Asem Daun Sirih
  10. Beras Kencur
  11. Empon-empon
  12. Sirup Prosela
  13. Sirup Lejase
  14. Sirup Telang
  15. Sirup Temu Lawak
  16. Aneka Macam Teh
  17. Aneka Macam Teh Racikan

Sekilas tentang Medco E&P Indonesia di Usaha TOGA Yuni Lusmita

PT Medco E&P Indonesia merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang industri migas. Selain mengemban tugas sebagai penyokong ketahanan energi nasional, Perusahaan Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) ini mempunyai tanggung jawab terhadap hubungan sosial di wilayah operasinya, yakni Block Rimau, Kabupaten Musi Banyuasin.

“Medco menyadari bahwa sebagai Perusahaan yang bergerak di industri ekstraktif, keberadaannya tidak bisa secara terus-menerus dirasakan oleh masyarakat. Jika sumberdaya migas telah tidak tersedia, maka Medco akan berpindah ke wilayah lain. Untuk itu, Medco berupaya mendorong masyarakat di sekitar wilayah operasi untuk mampu mengembangkan kemandirian melalui program-program pemberdayaan ekonomi. Harapannya, masyarakat mampu mengembangkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga wilayah tersebut tetap menjadi desa yang berkembang,” kata Field Relation & Community Enhancement South Sumatera Region Hirmawan Eko Prabowo kepada tintamerah.co.id, Kamis (6/11/2025)

BACA JUGA  Jembatan P6 Runtuh, Ekonomi Terancam: Massa Tuntut Pemprov dan Pemkab Muba Bertindak Cepat

Sejak menggulirkan program TOGA pada tahun 2011, Medco berupaya merancang program yang komprehensif bagi Kelompok Toga/Kelompok Wanita Tani Kenanga dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan berikut:

  1. Budidaya tanaman obat keluarga, termasuk pengolahan tanah melalui pupuk organic berupa Mikro Organisme Lokal (MOL)  sebagai pupuk cair dan kompos (2011-2012)
  2. Pengenalan manfaat tanaman obat dan pengolahan tanaman obat menjadi makanan dan minuman (2012-2013)
  3. Penguatan kelembagaan
  4. Pelatihan manajemen keuangan dan manajemen pemasaran pada 2014
  5. Pelatihan herbalis pada 2015
  6. Pelatihan refleksi untuk memperkaya keterampilan pengobatan tradisional pada 2017
  7. Pembangunan Rumah Produksi Herbal untuk mendukung mendapatkan izin BPOM pada 2022

Program ini telah diimplementasikan di lima kabupaten Sumatera Selatan. Musi Banyuasin sebanyak 7 desa, dengan peserta 306 orang, Banyuasin sebanyak 4 desa, dengan peserta 277 orang, Muara Enim sebanyak 4 desa, dengan peserta 77 orang, Lahat sebanyak 2 desa, dengan peserta 91 orang, dan Musi Rawas sebanyak 4 desa, dengan peserta 142 orang.

Program Pengembangan Masyarakat (PPM) yang dilaksanakan oleh Medco telah menempuh perjalanan yang sangat panjang. Dalam perjalanan panjang itu, terdapat fluktuasi jumlah penerima manfaat program yang dipengaruhi oleh motivasi peserta, lamanya masa pendampingan, perubahan minat masyarakat, perubahan kebijakan, dan sebagainya.

Dalam upaya mendorong pemerintah daerah mengakselerasi pertumbuhan ekonomi terhadap pemberdayaan dan pembangunan kapabilitas usaha UMKM di wilayah operasi, Medco berupaya mendorong produk UMKM binaan Perusahaan untuk ikut serta dalam pameran tingkat daerah, memperkenalkan kelompok UMKM dengan dinas-dinas terkait sebagai upaya penciptaan jejaring koneksi dan relasi yang lebih kuat.

Medco menyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah usaha bersama yang membutuh peran dan keterlibatan dari berbagai kelompok. Untuk itu, Medco berupaya mengembangkan masyarakat di sekitar wilayah operasinya melalui proses penguatan potensi yang telah ada di masyarakat secara aktif dan berkelanjutan, sehingga mampu mendorong pertumbuhan, kemajuan dan kemandirian di berbagai bidang.

 

Teks: Efran

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Menolak Senja Menjadi Ringkih: Asa Sehat Lansia Pangkul di Hari Tua
Satu Tahun Tanpa Kejelasan, 26 Finalis Bujang Gadis PALI 2025 Protes Keras: Kami Dirugikan Waktu, Biaya, dan Mental!
Makan Uang Negara dari Dua Kaki: Oknum Guru P3K di PALI Kebal Hukum, Kepsek Tutup Mata!
OPINI: May Day 2026 dan “Sinyal Darurat” Ketenagakerjaan: Akankah Buruh Hanya Menjadi Penonton Era AI?
Kontras Insting Penguasa PALI: Rp4,2 Miliar untuk Kenyamanan “Bokong” Pejabat, Sementara Guru Bergelut Lumpur di Desa Benuang
OPINI: May Day 2026 dan Sinyal SOS Hubungan Industrial Indonesia
Jejak Inovasi Sosial PHR Zona 1: Bawa Produk Batik Lapas Jambi ke Level Global
Herman Deru Tabuh Genderang Perang: Desa Bersinar Sumsel Harus Jadi Benteng Anti-Narkoba Nasional!

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:16 WIB

Menolak Senja Menjadi Ringkih: Asa Sehat Lansia Pangkul di Hari Tua

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:17 WIB

Satu Tahun Tanpa Kejelasan, 26 Finalis Bujang Gadis PALI 2025 Protes Keras: Kami Dirugikan Waktu, Biaya, dan Mental!

Sabtu, 16 Mei 2026 - 07:54 WIB

Makan Uang Negara dari Dua Kaki: Oknum Guru P3K di PALI Kebal Hukum, Kepsek Tutup Mata!

Jumat, 8 Mei 2026 - 21:29 WIB

OPINI: May Day 2026 dan “Sinyal Darurat” Ketenagakerjaan: Akankah Buruh Hanya Menjadi Penonton Era AI?

Rabu, 6 Mei 2026 - 20:35 WIB

Kontras Insting Penguasa PALI: Rp4,2 Miliar untuk Kenyamanan “Bokong” Pejabat, Sementara Guru Bergelut Lumpur di Desa Benuang

Berita Terbaru