PALEMBANG | tintamerah.co -, Di bawah langit mendung yang menyelimuti Griya Agung, Rabu (6/5/2026), sebuah pesan penting menggema dari jantung Sumatera Selatan. Ini bukan sekadar seremoni formal atau jabat tangan protokoler. Pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, dengan duet pemimpin Sumsel, Herman Deru dan Cik Ujang, adalah sebuah pernyataan sikap: bahwa keamanan adalah fondasi mati yang tak boleh ditawar.
Sumatera Selatan, yang selama ini dikenal sebagai wilayah “Zero Conflict”, kembali diingatkan untuk tidak terlena. Di hadapan jajaran Forkopimda dan tokoh lintas sektoral, Djamari Chaniago berbicara dengan nada lugas namun penuh peringatan. Musuh hari ini, katanya, tidak lagi membawa senjata di medan laga, melainkan menyelusup lewat jempol di layar ponsel.
“Yang diserang bukan hanya wilayah, tetapi pikiran dan keyakinan kita,” tegas Djamari dalam keterangan pers yang diterima tintamerah.co, Jumat (8/5/2026)
Kalimat ini tajam menusuk realita sosial saat ini, di mana hoaks dan narasi kebencian kerap menjadi bensin bagi api perpecahan.
Sinergi Tanpa Sekat
Herman Deru dan Cik Ujang, yang berdiri mendampingi sang Jenderal, tampak menangkap sinyal itu dengan serius. Bagi mereka, kondusivitas Sumsel adalah harga diri. Kehadiran tokoh agama, adat, dan masyarakat dalam forum tersebut menjadi simbol bahwa menjaga keamanan bukan hanya tugas aparat berbaju dinas, melainkan kerja kolektif.
Djamari mengingatkan dengan tegas bahwa ada “tangan-tangan gelap” yang ingin melihat kekacauan. Ia tidak melarang kritik, ia tidak mengharamkan demonstrasi, namun ia mengharamkan anarkisme. Sebuah pesan yang jelas: sampaikan pendapat dengan akal sehat, bukan dengan amuk massa.
Membangun Kesejahteraan di Atas Stabilitas
Logikanya sederhana namun fundamental: tidak akan ada kesejahteraan tanpa keamanan. Bagaimana investor mau datang, bagaimana pasar mau bergerak, jika suasana gaduh dan mencekam?
Pertemuan silaturahmi ini akhirnya menjadi sebuah komitmen bersama. Di akhir acara, jabat tangan erat antara Menko Polkam dan Gubernur Sumsel bukan hanya simbol kemitraan, melainkan janji untuk terus menjaga Sumsel tetap tenang, produktif, dan bersatu.
Kini, bola panas ada di tangan masyarakat. Apakah kita akan membiarkan narasi kebencian memecah belah, atau tetap teguh menjaga martabat “Bumi Sriwijaya” sebagai rumah yang aman bagi siapa saja?
Sumber: yulie | Editor: Efran















