SKANDAL MAFIA CETAK SAWAH: Gudang Digerebek, Puluhan Ton Pupuk Lenyap, Kades Muhammad Jonot Kabur Saat Sidak Gabungan!

Rabu, 20 Mei 2026 - 09:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sidak Gabungan Skandal Cetak Sawah PALI: Tim Gabungan dari DPRD, Inspektorat, Dinas Pertanian Kabupaten PALI, bersama unsur TNI-Polri dan LSM LIDIK, melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lokasi proyek Cetak Sawah Rakyat Desa Tempirai Raya, Kecamatan Penukal Utara, Senin (4/5/2026). Sidak ini berhasil membongkar dugaan proyek fiktif, hilangnya puluhan ton pupuk bantuan, serta penyelewengan alat mesin pertanian (alsintan) negara. (Foto: Dok/Mulyadi)

Sidak Gabungan Skandal Cetak Sawah PALI: Tim Gabungan dari DPRD, Inspektorat, Dinas Pertanian Kabupaten PALI, bersama unsur TNI-Polri dan LSM LIDIK, melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lokasi proyek Cetak Sawah Rakyat Desa Tempirai Raya, Kecamatan Penukal Utara, Senin (4/5/2026). Sidak ini berhasil membongkar dugaan proyek fiktif, hilangnya puluhan ton pupuk bantuan, serta penyelewengan alat mesin pertanian (alsintan) negara. (Foto: Dok/Mulyadi)

PALI | tintamerah.co -, Tabir gelap kedok Program Cetak Sawah Rakyat (PCSR) Tahun Anggaran 2025 di Desa Tempirai Raya, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan akhirnya dibongkar paksa. Sebuah inspeksi mendadak (Sidak) berskala besar yang menggabungkan kekuatan politik DPRD PALI, ketajaman audit Inspektorat Daerah, serta Dinas Pertanian, resmi mengepung titik-titik krusial yang diduga menjadi pusat operasi penyelewengan bantuan negara, Senin (4/5/2026).

Namun, ada satu pemandangan mencolok yang mengundang tanda tanya besar sekaligus memicu kegeraman tim gabungan: Di manakah Kepala Desa Tempirai, Muhammad Jonot? Di saat institusi tertinggi daerah turun ke lumpur lapangan demi mencari keadilan bagi rakyat, sang Kades justru memilih raib bak ditelan bumi.

Ketua LSM LIDIK PALI, Dedi Handayani, dengan nada tinggi dan tanpa tedeng aling-aling angkat bicara mengenai misteri hilangnya sang Kades di hari krusial tersebut.

“Sidak kemarin menjadi bukti telanjang betapa bobroknya pelaksanaan proyek cetak sawah ini. Dan herannya, ke mana Kades Muhammad Jonot? Ketika gudang pribadinya digerebek dan dihitung isinya, dia justru minus alias tidak berani menampakkan batang hidungnya! Apakah ini bentuk kepanikan luar biasa?” cetus Dedi Handayani dengan pedas kepada redaksi tintamerah.co, Senin (18/5/2026)

Sumpah Palsu 50 Ton Pupuk dan Lahan yang Belum Selesai Diolah

Sidak ini merupakan buntut dari rentetan surat resmi, mulai dari Surat Ketua DPRD Nomor 005/110/DPRD/IV/2026 perihal Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III, Surat Undangan Rapat Koordinasi Nomor 005/114/DPRD/IV/2026, hingga Surat Inspektorat Nomor 700/251/B/ITKAB-PALI/IV/2026 terkait Permintaan Keterangan atas dugaan mafia saprodi.

Ketegangan langsung memuncak di awal dialog lapangan saat Ketua Kelompok Tani (Poktan) Tempirai Bersatu sekaligus KAUR KESRA Desa Tempirai, Penting Haryanto, dengan percaya diri mengklaim di hadapan 4 anggota DPRD PALI (Robinhod, Afias, Amir Mursan, dan Apriadi) bahwa dirinya telah menabur sebanyak 50 ton pupuk di atas lahan cetak sawah.

Kebohongan itu langsung dibantah keras oleh tim investigasi di lapangan. Faktanya, berdasarkan kesaksian nyata masyarakat setempat (termasuk Suparmin, Sumantri, Lispa, Hasan dan Haji Bupri), warga hanya menerima bantuan pupuk Dolomit (kapur pertanian), itu pun sama sekali belum digunakan karena lahannya belum siap dan belum diolah.

Bahkan, lahan cetak sawah Tahap 1 terbukti masih berstatus hamparan kosong tanpa sentuhan mekanisasi, sementara pengerjaan Tahap 2 baru berjalan beberapa hektar dan mangkrak. Jangankan tanaman padi, bekas karung pupuk Urea atau NPK yang diklaim telah ditabur pun tidak ditemukan satu biji pun di lapangan.

Gudang Kades Jonot Dikepung: Isinya Sisa-Sisa dan Terkunci Misterius

Pencarian berlanjut secara agresif. Tim Gabungan yang diperkuat oleh Inspektorat PALI (Ibu Asdri Yosi, M. Syukur dan Pak Sumantri), perwakilan Dinas Pertanian (Ahmad Shoni, S.P., M.M.), BP3 Penukal (Pak Rusman Dewi), Babinsa (Pak Mulyadi dan Martosa), serta unsur lainnya, langsung meluncur dan mengepung gudang milik Kades Muhammad Jonot.

BACA JUGA  Jajaran Polres PALI Lakukan Pengamanan Hiburan Pesta Rakyat Di Kabupaten PALI

Di lokasi ini, bau busuk penyelewengan kian menyengat. Tim menemukan sisa-sisa pupuk Dolomit bercampur antara bantuan Poktan dan Brigade Pangan. Tragisnya, pupuk Urea yang bernilai tinggi hanya tersisa kurang lebih 2 hingga 3 ton saja. Saat tim hendak memeriksa ruangan penyimpanan padi di dalam gudang Jonot, pintu tersebut dalam kondisi terkunci rapat. Tak ada satu pun aparat desa di lokasi yang berani membuka kunci tersebut, memaksa tim gabungan hanya bisa gigit jari di depan pintu yang digembok.

Tak berhenti di situ, tim bergerak menyisir Gudang TPS 3R (Sumatera) dan Gudang Yadi yang dilaporkan menjadi tempat transit logistik. Hasilnya? Mencengangkan! Pupuk Banyak Berkurang. Berdasarkan kesaksian saksi kunci di sekitar lokasi, sebelumnya ada sekitar 10 mobil truk bermuatan total 100 ton pupuk Urea dan NPK yang melakukan bongkar muat secara mencurigakan di tengah malam buta. Kini, seluruh stok tersebut telah raib misterius dari gudang-gudang tersebut.

Merajut Puzzle Skandal: Dari Air Mata Rakyat Hingga Pintu Sel Penjara

Hilangnya Kades Muhammad Jonot dari arena sidak dan lenyapnya ratusan ton pupuk ini bukanlah kejadian instan, melainkan puncak gunung es dari gurita skandal yang telah lama diinvestigasi oleh tintamerah.co. Jika dirunut ke belakang, kasus ini menyajikan potret kelam birokrasi dan penindasan hak-hak masyarakat adat:

  1. Penggusuran Berdarah Dingin & Proyek Fiktif: Skandal ini mencuat pertama kali saat lahan milik warga digusur paksa tanpa permisi demi proyek cetak sawah ratusan hektar yang diduga kuat fiktif (Skandal Cetak Sawah di Tempirai PALI: Lahan Warga Digusur Tanpa Permisi, Diduga Kuat Fiktif Ratusan Hektar).
  2. Operasi Malam Buta: Dugaan penyelewengan pupuk bantuan terendus ketika 90% stok logistik tiba-tiba lenyap secara misterius pada malam hari (Skandal Pupuk Cetak Sawah di Pali: 90% Stok Lenyap Misterius, Diduga Diselewengkan di Malam Buta).
  3. Kezaliman Hak Tanah (Penolakan SKT): Di tengah berjalannya proyek, Kades Muhammad Jonot terbukti melakukan tindakan sewenang-wenang dengan menolak menerbitkan Surat Keterangan Tanah (SKT) milik warga, hingga berujung pada somasi keras dari Yayasan Keadilan dan Bantuan Hukum Nusantara (YKBHN) (Diduga Zolimi Hak Rakyat, Kades Tempirai Disomasi YKBHN: Skandal Penolakan SKT di Tengah Proyek Cetak Sawah Rakyat).
  4. Bungkamnya Dinas Pertanian: Saat dikonfrontasi oleh LSM LIDIK PALI, pihak Dinas Pertanian awalnya memilih bermain aman dan menutup informasi rapat-rapat (Misteri Proyek Cetak Sawah PALI 2025: Dinas Pertanian Menjawab, LSM LIDIK Sebut Masih Gelap).
  5. Perlawanan Hukum Waris: Salah satu korban terdampak, Suparin, secara berani melakukan perlawanan hukum demi mempertahankan tanah warisan leluhurnya yang diobrak-abrik proyek PCSR (Menggugat Diamnya Birokrasi: Perlawanan Hukum Suparin Atas Tanah Waris di Tempirai).
  6. Camat Lempar Bola Panas: Merasa pusaran kasus semakin membahayakan posisi birokrasi, Camat Penukal Utara akhirnya angkat suara dan melempar tanggung jawab hukum ke pihak kepolisian Sektor Penukal Utara (Skandal Cetak Sawah Tempirai: Camat Penukal Utara Akhirnya Buka Suara, Lempar Bola Panas ke Polsek).
  7. Laporan Resmi Mafia Pupuk: LSM LIDIK PALI secara resmi melaporkan Penting Haryanto ke penegak hukum atas dugaan keterlibatan jaringan mafia pupuk subsidi (Penting Haryanto Dipolisikan: LSM LIDIK Bongkar Dugaan Mafia Pupuk Subsidi di Desa Tempirai).
  8. Kades Jonot Resmi Dilaporkan ke Polres PALI: YKBHN tidak tinggal diam dan resmi melaporkan secara pidana Kades Muhammad Jonot ke Polres PALI atas dugaan kezaliman terstruktur terhadap hak-hak rakyat (YKBHN Resmi Laporkan Kades Muhammad Jonot ke Polres PALI, Dugaan Zalimi Hak Rakyat Mencuat).
  9. Sikap Sombong Menantang Hukum: Alih-alih kooperatif, Kades Muhammad Jonot sempat mengeluarkan pernyataan arogan dan menantang para aktivis serta penegak hukum (Babak Baru Skandal Cetak Sawah Tempirai: Kades Muhammad Jonot Menantang, ‘Silakan Lapor, Saya Tidak Takut!’).
  10. Nyanyian ‘Tumbal’ Sang Ketua Poktan: Pertahanan mereka mulai runtuh saat Penting Haryanto bernyanyi di media, mengaku frustrasi dan merasa sengaja dijadikan tumbal oleh sang Kades untuk menutupi dalang utama (Penting Haryanto Buka-Bukaan: Saya Dijadikan Tumbal Skandal Cetak Sawah Tempirai).
  11. Gudang Kades Jadi Pusat Penimbunan: Pengakuan krusial Penting Haryanto secara telak memojokkan Kades Jonot, mengungkap bahwa gudang pribadi sang Kades adalah pusat penimbunan pupuk gelap dan alat mesin pertanian (Alsintan) (Kades Muhammad Jonot Terpojok: Kesaksian Penting Haryanto Bongkar Kebohongan Skandal Cetak Sawah Tempirai, Gudang Kades Jadi Pusat Penimbunan Pupuk dan Alsintan).
  12. Pengakuan Dosa & Teledor: Penting Haryanto akhirnya menyerah dan mengakui secara terbuka bahwa dirinya telah secara ilegal menjual pupuk bantuan cetak sawah tersebut (Skandal Terbongkar: Ketua Poktan Tempirai Bersatu Akui Jual Pupuk Bantuan Cetak Sawah, ‘Saya Salah, Saya Teledor’).
  13. Jeritan Air Mata Suparin: Kasus ini terus bergulir di atas penderitaan mendalam para petani kecil seperti Suparin yang tanah nafkahnya dirampas tanpa ganti rugi (Menggugat Cetak Sawah di Atas Air Mata: Mengapa Suparin Berhak Melawan).
  14. Bom Audit Inspektorat Siap Meledak: Sebelum sidak fisik kemarin dijalankan, Inspektorat PALI memang telah memperketat ruang gerak Kades Jonot dengan menyiapkan berkas hasil audit investigasi khusus (Skandal Besar Tempirai: Inspektorat PALI Kepung Kades Muhammad Jonot dan Mafia Alsintan, Hasil Audit Khusus Segera Meledak).
BACA JUGA  Solusi Macet di Jantung Kota, Dinas PUTR PALI Desak Provinsi Bangun Jalan Lingkar Simpang Madu-Simpang Raja

Ke Mana Larinya Alsintan? Disewakan ke Luar PALI Rp5,8 Juta!

Selain hilangnya ratusan ton pupuk Urea dan NPK, sidak lapangan ini juga menelusuri keberadaan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) berupa ekskavator kombinasi bantuan negara. Berdasarkan hasil interogasi tajam tim gabungan, didapatkan pengakuan mengejutkan bahwa alat berat tersebut saat ini tidak berada di lokasi proyek Tempirai.

Alsintan tersebut diduga kuat telah dilarikan dan disewakan secara ilegal ke wilayah kawasan Jalur, Banyuasin, dengan tarif sewa komersial yang fantastis: Rp5.800.000,- dengan ikatan kontrak selama dua bulan! Uang jutaan rupiah hasil penyewaan aset negara ini diduga masuk ke kantong pribadi para mafia tanah di Tempirai, sementara lahan milik rakyat dibiarkan telantar.

BACA JUGA  Semakin Di Minati Warga, Kedai HaFal Ramai Pengunjung

Tuntutan Tegas LSM LIDIK PALI: Seret ke Hukum, Jangan Biarkan Kades Sembunyi!

Menutup sidak yang penuh drama kejar-kejaran informasi tersebut, Dedi Handayani mendesak agar aparat penegak hukum (Polres PALI dan Kejaksaan) tidak lagi mengulur-ulur waktu.

Oknum pemerintah desa dan oknum kelompok tani boleh saja kabur dan mangkir dari sidak kemarin. Dia boleh saja mengunci gudangnya rapat-rapat. Tapi ingat, jeruji besi tidak akan bisa dia gembok! Dengan adanya pengakuan penjualan pupuk secara ilegal, dilarikannya Alsintan ke luar PALI, hingga hasil sidak gabungan yang membuktikan lahan ini fiktif, demi hukum dan air mata warga Tempirai, segera tangkap dan adili para pelakunya!” pungkas Dedi dengan nada bergetar penuh kemarahan.

Hasil dokumentasi foto bersama dan berita acara sidak gabungan di lokasi-lokasi kosong tersebut kini telah resmi diserahkan ke Inspektorat Daerah Kabupaten PALI. Bom waktu audit khusus kini tinggal menunggu hitungan hari untuk diledakkan di meja hijau.

Kades Tempirai Muhammad Jonot Bungkam, Upaya Konfirmasi tintamerah.co Lewat Kontak Alternatif Tetap Diabaikan

Upaya pencarian fakta terkait keberadaan Kepala Desa Tempirai, Muhammad Jonot, pasca-sidak gabungan berskala besar pada Senin (4/5/2026) lalu, terus dilakukan secara agresif oleh tim redaksi tintamerah.co.

Setelah sebelumnya nomor kontak utama jurnalis media ini diduga kuat diblokir sepihak oleh sang Kades, redaksi tintamerah.co tidak tinggal diam. Demi menjaga keberimbangan pemberitaan (cover both sides) dan memberikan ruang hak jawab, redaksi kembali melayangkan pesan konfirmasi resmi menggunakan nomor kontak redaksi alternatif pada Selasa malam (19/5/2026).

Pesan teks yang dikirimkan langsung oleh Efran, wartawan tintamerah.co, secara gamblang mempertanyakan ketidakhadiran Muhammad Jonot saat tim gabungan DPRD, Inspektorat, dan Dinas Pertanian mengepung gudang pribadinya. Beberapa poin krusial yang dipertanyakan antara lain:

  • Keberadaan fisik Kades saat sidak gabungan berlangsung.
  • Alasan utama atau penyebab di balik ketidakhadirannya di lapangan.
  • Klarifikasi atas tudingan miring mengenai hilangnya puluhan ton pupuk di Desa Tempirai Raya.

Namun sayang, iktikad baik pemenuhan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) ini kembali menemui jalan buntu. Hingga Rabu pagi (20/5/2026) pukul 09.13 WIB, pesan konfirmasi tersebut sama sekali tidak direspons. Bahkan, upaya panggilan telepon suara (voice call) yang dilayangkan redaksi ke nomor Kades Jonot berakhir dengan status “Tidak Dijawab”.

Sikap bungkam, menghindar, hingga aksi blokir kontak yang ditunjukkan oleh oknum pejabat publik di tengah bergulirnya skandal besar Program Cetak Sawah Rakyat (PCSR) TA 2025 ini kian memperkuat tanda tanya besar di tengah masyarakat.

Hingga berita ini ditayangkan, redaksi tintamerah.co tetap membuka ruang selebar-lebarnya jika Kepala Desa Tempirai, Muhammad Jonot, hendak memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan sengkarut proyek negara yang diduga merugikan para petani lokal tersebut.

 

Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co

Berita Terkait

Berlindung di Balik Dalih “Uji Coba Mesin”, PT Aburahmi Coba Kelabuhi Pemkab dan Publik PALI
Sidak Gabungan PALI Bongkar Borok PT Aburahmi: DPMPTSP Ungkap Belum Kantongi Izin Operasional, Publik Desak Ketegasan Hukum!
Bedah Tuntas Spesifikasi Komprehensif Unit Baru Damkar PALI: Perpaduan Merk Global, Ketangguhan Chassis Heavy-Duty, dan Teknologi Pemadaman Mutakhir
Wujudkan Visi Bupati Asgianto, Damkar PALI Geber Armada Baru demi Target Seluruh Kecamatan Miliki Pos Pemadam
Catatan Kritis Reses Firdaus Hasbullah di Talang Ubi: Kekeringan, Jalan Tani, hingga Absennya OPD Menjadi Sorotan Utama
Membuka Urat Nadi Ekonomi Regional: Firdaus Hasbullah Ungkap Diskursus Strategis Akses Jalan Talang Ubi Menuju Musi Rawas
Reses Wakil Ketua II DPRD PALI Firdaus Hasbullah: Keterbatasan Anggaran Bukan Halangan, Konsorsium Migas dan Perjuangan Pusat Jadi Solusi Pembangunan Talang Ubi
Tegas! Firdaus Hasbullah Perjuangkan Kembalikan Pemotongan Anggaran Rp300–500 Miliar dari Pusat untuk PALI di 2027

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 17:31 WIB

Berlindung di Balik Dalih “Uji Coba Mesin”, PT Aburahmi Coba Kelabuhi Pemkab dan Publik PALI

Kamis, 6 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Sidak Gabungan PALI Bongkar Borok PT Aburahmi: DPMPTSP Ungkap Belum Kantongi Izin Operasional, Publik Desak Ketegasan Hukum!

Kamis, 6 Agustus 2026 - 15:51 WIB

Bedah Tuntas Spesifikasi Komprehensif Unit Baru Damkar PALI: Perpaduan Merk Global, Ketangguhan Chassis Heavy-Duty, dan Teknologi Pemadaman Mutakhir

Kamis, 6 Agustus 2026 - 15:32 WIB

Wujudkan Visi Bupati Asgianto, Damkar PALI Geber Armada Baru demi Target Seluruh Kecamatan Miliki Pos Pemadam

Kamis, 6 Agustus 2026 - 14:51 WIB

Catatan Kritis Reses Firdaus Hasbullah di Talang Ubi: Kekeringan, Jalan Tani, hingga Absennya OPD Menjadi Sorotan Utama

Berita Terbaru